AKSIS 2017, Ajang Perkuat Konservasi Hutan Tropis Sumatera - KEHATI
Artikel

AKSIS 2017, Ajang Perkuat Konservasi Hutan Tropis Sumatera

27 November 2017

Tantangan terbesar Indonesia di sektor kehutanan hingga saat ini adalah menjaga kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan. Adalah kesia-siaan belaka berbicara kelestarian hutan tanpa memikirkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Oleh karena itu, upaya konservasi hutan juga harus didorong ke arah perbaikan kesejahteraan serta peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia di dalam dan sekitar hutan yang imbal baliknya akan menjadi pelindung hutan dan pemimpin konservasi di wilayahnya.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia M.S. Sembiring, di Medan, Senin (20/11).

Sambutan Direktur Eksekutif KEHATI, M.S. Sembiring pada kegiatan Aksi Konservasi Hutan Tropis Sumatera (AKSIS) di Pendopo Lapangan Merdeka-Medan, 20 November 2017 (Foto : Ahmad Baihaqi/KEHATI)
Sambutan Direktur Eksekutif KEHATI, M.S. Sembiring pada kegiatan Aksi Konservasi Hutan Tropis Sumatera (AKSIS) di Pendopo Lapangan Merdeka-Medan, 20 November 2017 (Foto : Ahmad Baihaqi/KEHATI)

Dari waktu ke waktu, upaya–upaya konservasi hutan terus dilakukan. Namun faktanya, ancaman terhadap kelestarian hutan masih ada, sementara spesies kunci masih tertekan. “Ironisnya, kerusakan sumber daya hutan ternyata tidak berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan,” kata Sembiring.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2016 mencatat, dari 25.863 desa di dalam dan sekitar kawasan hutan, sekitar 71 persen hidupnya bergantung kepada hutan. Dari jumlah itu, diperkirakan 10,2 juta jiwa warga yang tinggal di kawasan tersebut masuk kategori miskin.

Salah satu upaya untuk menjaga kesejahteran masyarakat di dalam dan sekitar hutan adalah dengan menyediakan alternatif usaha ekonomi bagi mereka. Sumber-sumber ekonomi yang selama ini telah ada, misalnya, perkebunan kopi, cokelat, karet, cengkeh, pala, dan lain sebagainya, perlu ditingkatkan lagi efektivitasnya dan diarahkan pada kelestarian hutan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan kebijakan yang ada, seperti Perhutanan Sosial dan sebagainya.

“Dengan cara itu, mereka dapat memperoleh kehidupan yang layak, dan tidak berorientasi pada perambahan kawasan hutan untuk mendapatkan lahan garapan lagi,” ujar dia.

Sebagai bagian dari upaya menjawab permasalahan konservasi dewasa ini, khususnya di Sumatera, KEHATI melalui program Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA Sumatera) telah melakukan aksi konservasi hutan secara sistematis di tingkat tapak di Sumatera, yang hasilnya dipresentasikan dalam kegiatan ekspo di Lapangan Merdeka, Medan, pada 20-22 November 2017.

Direktur Program TFCA-Sumatera, Yayasan KEHATI, Samedi, mengungkapkan, ekspo yang bertemakan “Aksi Konservasi Hutan Tropis Sumatera” (AKSIS) 2017 ini diikuti seluruh mitra TFCA Sumatera-KEHATI dari Lampung hingga Aceh. Dalam ekspo tersebut mereka diharapkan dapat saling berbagi pengalaman, saling menginspirasi, serta memberikan saran, sehingga para mitra mampu meningkatkan kinerjanya.

Pemaparan Direktur TFCA Sumatera-KEHATI, Samedi, Ph.D pada Talkshow Sesi I bertajuk "Potret Konservasi Sumatera dan Pendanaan yang Berkelanjutan" pada kegiatan AKSIS di Pendopo Lapangan Merdeka,Medan, 20 November 2017 (Dokumentasi: KEHATI)
Pemaparan Direktur TFCA Sumatera-KEHATI, Samedi, Ph.D pada Talkshow Sesi I bertajuk “Potret Konservasi Sumatera dan Pendanaan yang Berkelanjutan” pada kegiatan AKSIS di Pendopo Lapangan Merdeka,Medan, 20 November 2017 (Dokumentasi: KEHATI)

Selain itu mereka akan dipertemukan dengan pelaku bisnis dan pakar-pakar pemasaran untuk memperkuat kegiatan peningkatan ekonomi masyarakat menjadi bisnis konservasi yang profesional dan berkelanjutan.

Samedi juga mengungkapkan, sejak dimulai pada tahun 2010 hingga kini, program TFCA Sumatera telah mengintervensi 12 lanskap konservasi prioritas mulai dari Aceh hingga Lampung. Tidak kurang dari 54 konsorsium mitra yang terdiri dari hampir 100 lembaga anggota (LSM / Perguruan Tinggi) telah terlibat di dalamnya. Selama itu, ada beragam inisiatif, inovasi, maupun produk yang dihasilkan mitra dan penerima manfaat (masyarakat).

“Oleh karena itu, agar capaian-capaian tersebut dapat diperkenalkan kepada khalayak luas, membangun inspirasi satu sama lain, sekaligus promosi produk dan jasa kepada pasar, kegiatan ekspo AKSIS 2017 ini kami selenggarakan sebagai show-window dari aksi nyata TFCA Sumatera-KEHATI di lapangan,” kata Samedi.

Aksi dalam bentuk ekspo ini juga diharapkan dapat menjadi ajang untuk membangun jejaring pasar baik konvensional maupun daring bagi para pelaku usaha kecil dan para mitra TFCA Sumatera-KEHATI, sekaligus terbangun komunikasi yang lebih baik dengan pemerintah pusat dan daerah.

Gubernur Sumatera Utara, Dr. Ir. H.T. Erry Nuradi M.Si didampingi Direktur Eksekutif KEHATI, M.S. Sembiring mengunjungi booth KEHATI pada Ekspo AKSIS di Lapangan Merdeka, Medan, 20 November 2017 (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)
Gubernur Sumatera Utara, Dr. Ir. H.T. Erry Nuradi M.Si didampingi Direktur Eksekutif KEHATI, M.S. Sembiring mengunjungi booth KEHATI pada Ekspo AKSIS di Lapangan Merdeka, Medan, 20 November 2017 (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)

Selain pameran produk, kata Samedi, ekspo ini juga diisi dengan beragam acara menarik dan bermanfaat, di antaranya: dialog nasional yang menghadirkan Dirjen KSDAE KLHK sebagai pembicara utama, talkshow, seminar, temu bisnis, peluncuran buku, penanaman pohon serentak di Sumatera Utara dan Lampung, pelatihan kewirausahaan dan pengelolaan jasa lingkungan, ngopi bersama, menggalang 10.000 tanda tangan untuk dukungan gerakan konservasi hutan, lomba foto booth, lomba foto jurnalistik lingkungan dan pameran foto, serta lomba menggambar dan mewarnai.

Sambutan Dirjen KSDAE KLHK, Ir. Wiratno, M.Sc pada kegiatan AKSIS di Pendopo Lapangan Merdeka, Medan, 20 November 2017 (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)
Sambutan Dirjen KSDAE KLHK, Ir. Wiratno, M.Sc pada kegiatan AKSIS di Pendopo Lapangan Merdeka, Medan, 20 November 2017 (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)

“Ekspo ini menjadi penting karena dapat dimanfaatkan untuk berbagi informasi baik kegagalan maupun keberhasilan program, berfungsi sebagai wadah untuk mewujudkan sinergi di antara para pelaku konservasi kehutanan di Indonesia, khususnya di Sumatera, serta mempertemukan pelaku bisnis dengan masyarakat,” tandas Samedi.

Lebih jauh, Samedi mengatakan, keterampilan masyarakat  di dalam dan sekitar hutan harus ditingkatkan untuk menjadi masyarakat mandiri  dan sejahtera sehingga dapat hidup berdampingan  dengan kelestarian hutan. Hal tersebut selaras dengan makna holistik konservasi hutan, yang sesungguhnya tak hanya mencakup kegiatan pengawetan, perlindungan, pemulihan dan peningkatan kualitas alam, tetapi juga pemanfaatannya secara berkelanjutan.

  • Artikel
  • AKSIS 2017, Ajang Perkuat Konservasi Hutan Tropis Sumatera
dukung kehati