Artikel – Panen Sorgum - KEHATI
Highlight

Artikel – Panen Sorgum

25 Mei 2016

Flores Timur adalah wilayah yang mendapat dukungan KEHATI dalam program pelestarian pangan lokal sejak tahun 2014. Bersama mitra Yaspensel lokasi program terus diperluas ke Lembata di tahun 2015. Yaspensel menggerakan masyarakat dalam kegiatan terkait pelestarian dan pemanfaatan plasma nutfah untuk sumber pangan dan tumbuhan lokal. Mereka juga melakukan peningkatan kapasitas dan pemberdayaan petani. Upayanya antara lain pelatihan model Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP) dan pendampingan penyusunan proposal program.

Program pangan lokal dari KEHATI di Nusa Tenggara Timur, dimulai dari Kabupaten Manggarai Barat dan Pulau Adonara pada tahun 2013. Tahun 2014, kegiatannya diperluas ke Ende, Flores Timur dan Lembata. Pangan lokal ditanam dengan model tumpang sari bersama tumbuhan ekonomis seperti cendana, jeruk lokal Kedang, bambu dan mangrove di pesisir. Upaya peningkatan ekonomi dilakukan juga dengan cara mengembangkan usaha ternak ayam pedaging. Sehingga hasil panen sorgum, bisa dimanfaatkan untuk pakan dan pangan.Dengan ketersediaan aneka pangan tersebut, diharapkan mereka tidak lagi mengalami kekurangan pangan di masa kemarau atau paceklik.

Likotuden sudah membuktikan, bahwa kembali ke pangan lokal bisa menuju kedaulatan pangan. Lantaran, setidaknya warga Dusun Likotuden sudah bisa mencukupi kebutuhan pangan dasarnya tanpa harus membeli dari luar. Sudah dua kali Likotuden merayakan panen sorgum. Tanaman ini pun terbukti bertahan ditengah ketidakjelasan pengubahan cuaca, khususnya datangnya musim hujan. Selama tiga tahun terakhir, hujan datang semakin jarang. Dari yang awalnya dimulai sejak November, bergeser dengan awal Januari di tahun lalu. Curahnya pun sedikit dengan durasi hanya empat bulan. Tapi sorgum, bertahan dan tetap bisa berbuah hingga dipanen pada awal Mei lalu.

Keajaiban sorgum di Likotuden, kini perlahan mulai dirasakan warga pulau tetangga yaitu Lembata. DI desa Wuakerong, akhirnya sorgum kembali hadir setelah menghilang hampir lebih dari dua dasawarsa. Dalam panen pertama, Selasa 10 Mei 2016, bulir-bulir sorgum kembali dirasakan warga Wuakerong. Ada yang berwujud apem atau kue-kue lainnya. Sorgum juga sudah diolah dalam bentuk bubur. Konsumsi sorgum oleh warga, adalah bagian dari penyadartahuan program pangan lokal. Dengan mengkonsumsi rutin sorgum diharapkan permintaan akan meningkat, sehingga penanaman akan terus bergulir yang berujung terjadinya budidaya sorgum.

KEHATI tidak hanya mendukung sorgum secara umum, tapi plasma nutfah yang ada di lokasi program. Pada kasus Likotuden dan Wuakerong, pangan lokal mereka dahulunya adalah sorgum. Ketimbang bercocok tanam dengan tanaman dari luar daerah, lebih baik melestarikan dan mengembangkan apa yang sudah ada. Kembali ke kearifan lokal.

dukung kehati