Dengan Strategi Yang Tepat, Sekolah Bisa Menjadi Media Efektif Pengenalan Perilaku Ramah Lingkungan - KEHATI
Artikel

Dengan Strategi Yang Tepat, Sekolah Bisa Menjadi Media Efektif Pengenalan Perilaku Ramah Lingkungan

03 September 2013

 

Dalam sarasehan tersebut dibahas tentang strategi yang memungkinkan untuk mengintegrasikan sekolah dengan kegiatan ramah lingkungan. Liek Irianti dari Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia (RI) mengatakan bahwa lahan-lahan yang menganggur di sekolah dapat dimanfaatkan sebagai kebun-kebun mini di sekolah. Lahan yang dimaksud tidak hanya sekedar tanah saja, akan tetapi dinding-dinding sekolah pun bisa digunakan untuk membudidayakan tanaman sayur. Teknis penamanan ventikultur ataupun hidroponik yang tidak memerlukan lahan yang luas bisa menjadi solusi. “Akan tetapi cara ini harus dirancang betul-betul agar hasilnya bisa efektif,” ujarnya.

Pemilihan tanaman dan pemanfaatan dari kebun sekolah tersebut harus dirancang dengan baik, agar bisa memberikan hasil yang maksimal bagi sekolah. Pemilihan jenis tanaman di kebun tersebut, sebaiknya juga diarahkan pada tanaman lokal. Sehingga murid-murid bisa mempelajari ragam sumberdaya hayati lokal, tidak hanya pada bentuknya tetapi juga pada fungsinya.

Tanaman lokal yang ditanam juga bisa diarahkan pada tanaman obat. Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan Tananaman Obat dan Obat Tradisional, Kementerian Kesehatan RI, Indah Yuning Prapti menjelaskan bahwa tanaman obat yang dapat digunakan di kebun sekolah sebaiknya yang mudah ditanam, dirawat, dan mudah digunakan. “Jangan tanamanan yang harus diekstraksi dulu,” katanya. Selain itu, agar memiliki dampak yang efektfif, harus ada pendampingan terkait penamanan, pemanenan, dan pengolahan tanaman obat ini.

“Selama ini tanaman obat kurang berhasil karena tidak didampingi bagaimana cara mengolahnya, dan berapa dosis yang digunakan,” ujar Yuning. Padahal tanaman obat memberikan manfaat yang besar bagi sekolah. Selain sebagai sarana pengenalan, tanaman obat ini tentu saja dapat dimanfaatkan untuk kesehatan.

Sementara itu, dari sisi pengelolaan sampah, Penggerak Komunitas GROPESH, Romo Andang Binawan, mengatakan bahwa yang terpenting bagi murid-murid sekolah adalah perubahan perilaku. “Pendidikan soal nilai mendorong perilaku peduli sampah,” ungkapnya. Jika perilaku sudah berubah maka persoalan teknis soal pengolahan sampah akan lebih mudah. Dia mengingatkan bahwa manusia memiliki tiga kelemahan dasar yaitu pelupa, tidak mau repot, dan egosentris. Oleh karena itu diperlukan strategi yang tepat agar perubahan perilaku terjadi. Mengatasi rasa lupa dengan terus menerus mengingatkan melalui poster, pelajaran di sekolah, dan lain sebagainya. Mengatasi tidak mau repot bisa dengan menyediakan sarana yang tepat dan banyak, seperti pengadaan tong sampah. Kemudian mengatasi egosentris bisa melalui aturan-aturan ataupun iming-iming hadiah. Setidaknya jika tiga hal ini bisa diatasi maka pengelolaan sampah di sekolah akan jauh lebih mudah. Anak-anak akan dengan sendirinya membuang sampah pada tempatnya.

Kemudian, dari sisi kantin sekolah, Anggota Dewan Pembina Yayasan KEHATI, Bondan Winarno mengingatkan bahwa setiap sekolah harus bisa memberikan makanan sehat bagi murid-muridnya. Baik kantin maupun gerobak-gerobak makanan di luar sekolah, sebaiknya diatur dengan ketat agar mutu makanannya terjaga. “Penganekaragaman pangan di sekolah juga penting,” katanya. Variasi makanan diharapkan mampu mengangkat sumberdaya hayati lokal.

Melalui strategi-strategi ini diharapkan Sekolah Sobat Bumi bisa menjadi pioner dalam mengintegrasikan sekolah dengan isu-isu lingkungan. Selanjutnya, sekolah-sekolah binaan dari program tersebut dapat menularkan praktek terbaik mereka agar efeknya jauh lebih luas.

  • Artikel
  • Dengan Strategi Yang Tepat, Sekolah Bisa Menjadi Media Efektif Pengenalan Perilaku Ramah Lingkungan
dukung kehati