Ekowisata Mangrove Berau Libatkan Masyarakat - KEHATI
Highlight

Ekowisata Mangrove Berau Libatkan Masyarakat

12 Oktober 2017

Berau, KEHATI—Ekosistem mangrove di Berau, Kalimantan Timur, berpotensi besar sebagai sumber perekonomian masyarakat melalui pengembangan ekowisata.  Namun, pengelolaanya harus tetap mengedepankan keterlibatan masyarakat dan prinsip berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), MS Sembiring, di sela kunjungannya ke Pusat Informasi Mangrove (PIM) di Desa Tanjung Batu, Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, Selasa (10/10).

Tim KEHATI saat mengunjungi Pusat Informasi Mangrove (PIM) di Desa Tanjung Batu, Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur.
Tim KEHATI saat mengunjungi Pusat Informasi Mangrove (PIM) di Desa Tanjung Batu, Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. (Foto: Fachrudin Riyadi)

Ekosistem mangrove di sepanjang Pesisir Berau, ungkap Sembiring, saat ini masih relatif bagus. Kondisi tersebut sangat memungkinkan untuk pengembangan ekowisata sehingga nantinya dapat menghasilkan pundi rupiah bagi masyarakat.

“Namun, sekali lagi, pengelolaanya harus melibatkan masyarakat,” tegasnya.

Di banyak tempat, lanjutnya, warga mampu memanfaatkan jasa lingkungan mangrove melalui ekowisata. Melalui wisata berbasis lingkungan mangrove itu, masyarakat dapat mengembangkan berbagai jenis usaha, seperti pengolahan hasil perikanan, budidaya kepiting bakau, usaha kuliner, penginapan, dan pengembangan pusat oleh-oleh.

Bentang Alam Ekosistem Mangrove di Desa Tanjung Batu, Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur.
Bentang Alam Ekosistem Mangrove di Desa Tanjung Batu, Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. (Foto: Fachrudin Riyadi)

Sembiring menambahkan, di Indonesia, potensi mangrove meliputi daerah pesisir yang membentang dari Sumatera hingga Papua. Keberadaannya sangat penting sebagai sistem penyangga kehidupan. Mangrove berperan menguatkan ekosistem laut dan pesisir sebagai wilayah pemijahan berbagai jenis ikan dan habitat keragaman hayati yang penting.

Selain itu, mangrove juga berperan sebagai sumber pangan, pelindung pesisir, menjaga kekayaan keragaman hayati, dan berkontribusi sebagai pengendali iklim.  Karena itu, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia No 73 tahun 2012 tentang Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove.

“Di dalamnya juga termaktub peran serta masyarakat,” imbuh Sembiring.

Sementara itu, Pengelola Program Java Learning Center, Fachrudin Riyadi, mengungkapkan, pengelolaan mangrove Berau sebagai tujuan wisata andalan belum berjalan optimal. Oleh karena itu, dia berharap keberadaan PIM dapat menjadi media pemberdayaan masyarakat.

“PIM menjadi sarana pembelajaran, sekaligus tempat di mana segala informasi mangrove dapat diakses,” ujarnya.

Di Tanjung Batu, lanjut Facrudin, kegiatan wisata menyasar pengelolaan eksositem mangrove berbasis masyarakat.  Ekosistem mengrove Tanjung Batu tersebar di Bulalang dan Mangkarangau.

“Walau berstatus area penggunaan lain, pengelolaannya sudah mendapat izin dari Bupati,” ungkapnya.

Pada 13 April 2017, Bupati Berau mengirim surat nomor 523.1/159/Pem tentang Pembangunan Sarana dan Prasarana Ekowisata Mangrove Kampung Tanjung Batu.  Surat ini, salah satunya berisi rekomendasi pembangunan PIM.

Selain PIM, saat ini juga sedang dibangun educational track, yang sekaligus berfungsi sebagai dermaga.  Wisatawan dapat mengakses kawasan ini melalui darat, maupun transportasi air.

Kepala Desa Tanjung Batu, Jorjis, mengatakan, sesungguhnya total luasan bakau di wilayahnya mencapai 3.131 hektar.

“Tapi yang dikhususkan sebagai lokasi ekowisata hanya seluas 1.833 hektar.  Di sini terdapat mangrove jenis langka Camptostemon philipinense,” ungkapnya.

Masyarakat sudah bersepakat melindungi, mengelola, dan memanfaatkan ekosistem mangrove untuk meningkatkan kesejahteraan.  Pada titik inilah ekowisata berperan penting.

“Kami dibantu MCA (Millenium Challenge Account)-Indonesia melalui KEHATI dan Javlec,” kata Jorjis.

MCA-Indonesia berkomitmen untuk mengembangkan usaha-usaha ramah lingkungan berbasis potensi lokal.  Selain Kawasan Ekowisata Tanjung Batu, di Berau MCA-Indonesia juga membantu pembangunan Pusat Listrik Tenaga Surya di Kampung Teluk Alulu.

Sejalan dengan itu, Direktur Program Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat KEHATI – MCA-Indonesia, Asep Suntana, mengatakan, program ini menampilkan bentuk riil dari pengelolaan hutan modern berbasis masyarakat.

Jika berbagai kepentingan tidak terfasilitasi dengan baik, lanjutnya, bisa saja inisiatif tersebut tidak akan berhasil guna.  Jadi, peran-peran fasilitasi sungguh dibutuhkan.

Tim KEHATI saat mengunjungi Ekosistem Mangrove di Desa Tanjung Batu, Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. (Foto: Fachrudin)
Tim KEHATI saat mengunjungi Ekosistem Mangrove di Desa Tanjung Batu, Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. (Foto: Fachrudin Riyadi)

“Hutan dikelola perlu memenuhi berbagai kepentingan (multi-interests forestry) dalam rangka mencapai pengelolaan hutan lestari, termasuk di kawasan mangrove,” ujar Asep.

Narahubung

Fachrudin Riyadi

HP: 0811266046

  • Highlight
  • Ekowisata Mangrove Berau Libatkan Masyarakat
dukung kehati