Ekowisata Maratua Dibahas dalam Forum COP23 di Bonn - KEHATI
Artikel

Ekowisata Maratua Dibahas dalam Forum COP23 di Bonn

14 November 2017

Maratua Ecotourism for Sustainable Small Island (MESSI) Program atau Program Ekowisata Maratua untuk Pulau-Pulau Kecil Berkelanjutan, mendapat sambutan hangat dan menjadi bahasan menarik dalam salah satu sesi seminar di forum Conference of the Parties 23 (COP23) di Bonn, Jerman, Senin (13/11).

COP23 merupakan sebuah forum konferensi tentang perubahan iklim yang diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Forum ini diselenggarakan di Bonn, Jerman, pada tanggal 6-17 November 2017.

Direktur Komunikasi dan Penggalangan Sumber Daya KEHATI, Fardila Astari, yang hadir di forum COP23 di Bonn, Selasa (14/11), mengatakan, tidak mudah bagi anggota atau peserta COP23 untuk bisa mempresentasikan program kerjanya di ajang tersebut. Program MESSI terpilih sebagai salah satu program yang diusung oleh delegasi Indonesia di konferensi tersebut.

“Program MESSI dinilai sebagai salah satu program kolaborasi yang baik antara pemerintah, non-governmental organizations (NGO), dan sektor swasta,” ujar Fardila.

MESSI merupakan program untuk mewujudkan desa sejahtera secara ekonomi, sosial, dan lingkungan yang berkelanjutan melalui desa lestari, yang memadukan ekowisata dan kampung nelayan yang produktif di Kepulauan Maratua, Kalimantan Timur, yang merupakan salah satu gugusan pulau terluar di Indonesia. Program ini merupakan kolaborasi antara Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), PT Chevron, pemerintah pusat dan daerah, serta masyarakat Maratua.

Di forum COP23, program MESSI dipresentasikan dalam salah satu seminar dengan tema “Reconfiguring Natural Resource Based Business to Address New Challenges”. Tema ini mengeksplorasi tentang rekonfigurasi ulang pemanfaatan sumber daya alam untuk kebutuhan bisnis dengan tetap memperhatikan aspek perubahan iklim.

Program MESSI dipresentasikan dalam salah satu seminar dengan tema “Reconfiguring Natural Resource Based Business to Address New Challenges”. Tema ini mengeksplorasi tentang rekonfigurasi ulang pemanfaatan sumber daya alam untuk kebutuhan bisnis dengan tetap memperhatikan aspek perubahan iklim (Foto: Fardila Astari/KEHATI)
Program MESSI dipresentasikan dalam salah satu seminar dengan tema “Reconfiguring Natural Resource Based Business to Address New Challenges”. Tema ini mengeksplorasi tentang rekonfigurasi ulang pemanfaatan sumber daya alam untuk kebutuhan bisnis dengan tetap memperhatikan aspek perubahan iklim (Foto: Fardila Astari/KEHATI)

Hadir sebagai pembicara antara lain: Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Indroyono Soesilo, Manager Social Performance Chevron Indonesia, Pinto Budi Bowo Laksono; Manajer Lingkungan PT Amman Mineral Nusa Tenggara Jorina Woworuntu; dan perwakilan dari Indonesia Energy and Environmental Institute (IE2I), Satya Hangga Yudha Widya Putra. Selaku moderator adalah Penasihat Senior Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr Soeryo Adiwibowo.

Lebih jauh, Fardila mengatakan, program MESSI telah turut membantu mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam dengan memberikan nilai tambah melalui usaha ekowisata berbasis masyarakat tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama mereka sebagai nelayan.

“Dengan kegiatan ekowisata, warga di Maratua turut ambil bagian dalam pelestarian lingkungan. Karena, hanya dengan lingkungan yang lestari mereka dapat mempertahankan kelangsungan ekowisatanya,” kata Fardila.

Manajer Program Ekosistem Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KEHATI, Basuki Rahmad mengungkapkan, dalam program ini, selain membangun sarana dan prasarana utama untuk ekowisata, Yayasan KEHATI didukung oleh Chevron juga menjalankan kegiatan peningkatan kapasitas sumber daya masyarakat setempat.

“Selain itu, dilaksanakan pula standarisasi kegiatan usaha ekowisata, khususnya wisata selam sesuai dengan standar keamanan dan kenyamanan internasional,” lanjut Rahmad.

Sebuah pusat wisata selam (dive center) telah dibangun sejak tahun 2016 silam. Keberadaan dive center ini mendorong tumbuhnya penginapan-penginapan (homestay) yang dikelola masyarakat di Maratua. Penginapan-penginapan tersebut dikelola oleh para perempuan. Dari hasil pengelolaan penginapan tersebut, sekitar 200 keluarga di Desa Bohe Sellian, Maratua, mendapatkan manfaat berupa tambahan pendapatan hingga Rp 1,2 juta per bulan.

“Dengan meningkatnya kesejahteraan dari ekowisata, masyarakat khususnya nelayan tak lagi tergoda menggunakan cara-cara yang dapat merusak lingkungan dalam kegiatan ekonominya mereka, misalnya menggunakan bom ikan,” tandas Rahmad.

  • Artikel
  • Ekowisata Maratua Dibahas dalam Forum COP23 di Bonn
dukung kehati