Ekowisata untuk Warga dan Lindungi Alam - KEHATI
Artikel

Ekowisata untuk Warga dan Lindungi Alam

17 Oktober 2017

Konservasi flora dan fauna perlu dilibatkan dengan kegiatan yang dapat memberdayakan masyarakat, seperti dengan mengembangkan tempat wisata. Beberapa wilayah di Indonesia, yaitu Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat, memiliki potensi wisata karena keanekaragaman hayatinya. Namun, habitat keanekaragaman itu semakin menyusut karena kegiatan manusia.

Untuk itu, konservasi kawasan Muara Gembong didorong agar terealisasi karena tidak hanya menyelamatkan keanekaragaman hayati di dalamnya, tetapi juga mendongkrak penyelarasan pembangunan kawasan perkotaan Jabodetabek dengan lingkungan alamnya.

Manajer Ekosistem Hutan dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati), Aslan menjelaskan, peningkatan kepedulian masyarakat terhadap keanekaragaman hayati perlu didampingi dengan keuntungan yang mereka peroleh melalui upaya itu.

“Sebagai donor suatu proyek konservasi, kita tidak bisa tinggal lama di tempat itu. Yang akan tetap tinggal di situ adalah masyarakatnya. Bagaimana masyarakat mau menjaga (lingkungan alam) jika mereka tidak memperoleh keuntungan?” Kata Aslan, seusai acara Seminar dan Peluncuran Buku Pengembangan Potensi Keanekaragaman Hayati untuk Mendukung Pembangunan, Rabu (11/10).

Untuk itu, proyek ekowisata di Muara Gembong dianjurkan. Dalam konsep ekowisata, kegiatan pariwisata fokus dengan kegiatan di alam bebas sambil mendahulukan kepedulian terhadap konservasi alam. Ada juga penekanan untuk pemberdaayaan masyarakat di kawasan itu.

“Masyarakat yang sebelumnya menebang pohon disana bisa bekerja sebagai pemandu wisata, pengelola catering, warung, dan homestay. Mereka perlu paham bahwa ada keuntungan yang bisa diperoleh dengan menjaga lingkungan alam,” ujar Aslan.

Menurut Aslan, sosialisasi ini bisa butuh waktu sekitar lima tahun. Sosialisasi dilakukan dengan memberikan contoh dari proyek serupa yang telah berhasil. “Kita undang tokoh-tokoh masyarakat yang terlibat proyek konservasi lain. Mereka jelaskan bagaimana income mereka sebelum proyek dan bagaimana kehidupan mereka sejak kawasan dikembangkan menjadi tempat ekowisata.” tuturnya.

Daya tarik mangrove

Tatang Mitra Setia, Ketua Program Studi Magister Biologi Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional, menceritakan keunikan dan daya tarik Muara Gembong adalah hutan mangrove.

“Ada sekitar 30 jenis burung yang ditemukan dan lima diantaranya dilindungi (oleh UU Nomor 5 Tahun 1990 dan PP Nomor 7 Tahun 1999). Ada pula lutung dan monyet ekor panjang. Juga aneka flora. Wisatawan ke sana untuk jalan-jalan dan menambah pengetahuan,”katanya.

Tatang berkali-kali mengunjungi Muara Gembong sejak 1979. Menurut dia, hutan mangrove itu semakin menyusut karena kegiatan manusia, seperti penggunaan lahan baru dan pertambakan. Padahal, mangrove memiliki berbagai macam fungsi alam, seperti mencegah erosi dan sebagai tempat habitat beraneka fauna dari udang dan ikan hingga burung dan monyet.

Sama seperti Aslan, Tatang menyampaikan perlunya ada keuntungan ekonomi untuk mendorong masyarakat melindungi dan mempertahankan lingkungan alam ini.

“Salah satu bentuknya adalah pengembangan ekowisata. Bukan mass tourism, melainkan sustainable ecotourism. Wisatawan melihat alamnya dan kedatangannya tidak merusak lingkungan. Justru menguntungkan masyarakat. Untuk itu, masyarakat perlu diarahkan dan didampingi pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), atau Universitas,” papar Tatang. (DD07)

Artikel ini dimuat di Harian Kompas, Edisi Kamis, 12 Oktober 2017 Hal 27 Rubrik Metropolitan

  • Artikel
  • Ekowisata untuk Warga dan Lindungi Alam
dukung kehati