Empat Orangutan Dilepasliarkan di TNBBBR - KEHATI
Artikel

Empat Orangutan Dilepasliarkan di TNBBBR

27 November 2017

Empat individu orangutan (Pongo pygmaeus sp.) yang terdiri atas tiga betina dan satu jantan, dilepasliarkan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) di wilayah Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, 21-22 November 2017.

Tim YIARI, Yayasan KEHATI-TFCA Kalimantan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), dan kepolisian setempat, melepasliarkan orangutan betina bernama Lili (4 tahun) di TNBBBR, di wilayah Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, 22 November 2017. Lili merupakan satu dari empat orangutan yang dilepasliarkan oleh YIARI bersama KEHATI-TFCA Kalimantan di TNBBBR, 21-22 November. (Foto_ Mohamad Burhanudin/KEHATI)
Tim YIARI, Yayasan KEHATI-TFCA Kalimantan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), dan kepolisian setempat, melepasliarkan orangutan betina bernama Lili (4 tahun) di TNBBBR, di wilayah Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, 22 November 2017. Lili merupakan satu dari empat orangutan yang dilepasliarkan oleh YIARI bersama KEHATI-TFCA Kalimantan di TNBBBR, 21-22 November. (Foto_ Mohamad Burhanudin/KEHATI)

Keempat orangutan tersebut sebelumnya dirawat di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan yang dikelola oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Kabupaten Ketapang, Kalbar, oleh karena berbagai sebab, seperti perburuan, perdagangan satwa, dan kerusakan hutan. Keempat orang tersebut masing-masing diberi nama: Mama Laila (betina, 14 tahun), Lili (anak Mama Laila, betina, 4 tahun), Lisa (betina, 5 tahun), dan Vijay (jantan, 5 tahun).

Pelepasliaran dilaksanakan atas kerja sama YIARI, Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan-Yayasan KEHATI, Balai TNBBBR, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar, dan Kepolisian Resor Melawi.

Direktur Program YIARI Karmele L Sanchez, mengungkapkan, pelepasliaran empat orangutan ini merupakan salah satu bagian dari upaya YIARI, didukung TFCA Kalimantan-KEHATI, dalam penyelamatan dan konservasi satwa liar dilindungi, khususnya orangutan di Kalimantan, yang saat ini statusnya kritis.

“Orangutan di Kalimantan kian terancam habitatnya. Banyak hutan yang dikonversi, dijadikan kebun. Tak sedikit pula orangutan yang diburu dan diperjualbelikan. Oleh karena itu, kami tergerak untuk melakukan penyelamatan dan rehabilitasi. Empat orangutan ini sebelumnya kami rescue dan rawat di pusat rehabilitasi. Dan, saatnya kini kami kembalikan ke habitat liarnya,” ujar Karmele.

Empat orangutan tersebut berasal dari sejumlah lokasi yang berbeda di wilayah Kabupaten Ketapang. Dipilihnya TNBBR—yang berjarak lebih dari 450 kilometer dari Ketapang—sebagai lokasi pelepasliaran karena kawasan tersebut memenuhi syarat sebagai habitat baru bagi keempat orangutan tersebut, terutama untuk aspek ketersediaan pakan di alam liar, tegakannya, dan tingkat kepadatan populasi orangutanya.

“Sementara, hutan-hutan di Ketapang umumnya sudah rusak. Tak ada hutan yang layak untuk melepasliarkan orangutan,” lanjut Karmele.

Tim YIARI, Yayasan KEHATI-TFCA Kalimantan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), dan kepolisian setempat, melepasliarkan orangutan bernama Vijay ( jantan 5 tahun) dan Lisa (retina 5 than) di TNBBBR, di wilayah Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, 22 November 2017. Vijay dan Lisa merupakan dua dari empat orangutan yang dilepasliarkan oleh YIARI bersama KEHATI-TFCA Kalimantan di TNBBBR, 21-22 November. (Foto: Dokumentasi Kompas TV)
Tim YIARI, Yayasan KEHATI-TFCA Kalimantan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), dan kepolisian setempat, melepasliarkan orangutan bernama Vijay ( jantan 5 tahun) dan Lisa (retina 5 than) di TNBBBR, di wilayah Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, 22 November 2017. Vijay dan Lisa merupakan dua dari empat orangutan yang dilepasliarkan oleh YIARI bersama KEHATI-TFCA Kalimantan di TNBBBR, 21-22 November. (Foto: Dokumentasi Kompas TV)

Pelepasliaran dilaksanakan dalam dua kesempatan berbeda. Pada hari pertama, tanggal 21 November 2017, tim yang terdiri atas perwakilan YIARI, TFCA Kalimantan-Yayasan KEHATI, BKSDA Kalbar, TNBBBR, dan Polres Melawi, melepasliarkan Mama Laila dan Lili pada titik sekitar 4 kilometer dari batas TNBBBR dengan Dusun Mengkilau, Desa Nusa Poring, Kecamatan Manukung. Pelepasliaran kedua dilaksanakan keesokanharinya terhadap Vijay dan Lisa pada titik sekitar 12 kilometer dari batas TNBBBR dengan dusun yang sama.

Direktur Program TFCA Kalimantan pada Yayasan KEHATI, Puspa Dewi Liman, menyatakan, dukungan finansial KEHATI untuk penyelamatan, rehabilitasi, sekaligus pelepasliaran orangutan di TNBBBR ini merupakan salah satu upaya lembaga tersebut dalam melakukan penyelamatan spesies-spesies kunci di Kalimantan, khususnya orangutan, melalui Program TFCA Kalimantan.

“Penyelamatan ini sangat diperlukan karena keberadaan mereka semakin terancam oleh karena perubahan fungsi lahan, perambahan, dan perdagangan satwa liar yang terus terjadi,” kata Puspa.

TFCA Kalimantan merupakan program pengalihan utang dari Pemerintah AS untuk dipakai sebagai dana konservasi hutan di Kalimantan. KEHATI merupakan institusi yang ditunjuk sebagai administrator dari Program TFCA Kalimantan. TFCA Kalimantan mendukung dua program yang sebelumnya sudah berjalan, yakni Heart of Borneo dan Program Karbon Hutan Berau.

“Dukungan kami terhadap YIARI sebenarnya bagian dari upaya menyukseskan program Heart of Borneo melalui perlindungan terhadap spesies-spesies kunci di wilayah hutan Heart of Borneo,” ujar Puspa.

Meski demikian, lanjut dia, ke depan TFCA Kalimantan tidak bisa memberikan dukungan finansial secara terus menerus. Oleh karena itu, dia berharap agar kegiatan konservasi yang telah dilaksanakan TFCA Kalimantan bersama mitra lokalnya, seperti YIARI, hendaknya diteruskan dan ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah, masyarakat lokal, balai taman nasional, dan pihak pemangku kepentingan lainnya.

Stres dan tersingkir

 Mama Laila dan Lili merupakan dua orangutan liar yang berasal dari wilayah Kecamatan Sei Awan. Induk dan anak itu ditemukan di perkebunan karet milik warga. Saat ditemukan, kondisi kedua orangutan tersebut dalam keadaan stres dan kelaparan. Diduga, mereka memasuki areal perkebunan karena kesulitan mendapatkan makanan di habitanya akibat rusaknya hutan tempat mereka bernaung.

Mama Laila dan Lili merupakan dua orangutan liar yang berasal dari wilayah Kecamatan Sei Awan, Ketapang, Kalimantan Barat. Induk dan anak itu ditemukan di perkebunan karet milik warga. Saat ditemukan, kondisi kedua orangutan tersebut dalam keadaan stres berat dan kelaparan. Keduanya kemudian dibawa ke pusat penyelamatan orangutan milik YIARI yang didukung oleh KEHATI-TFCA Kalimantan, sebelum dilepasliarkan, 21 November 2017 lulu. (Foto: Mohamad Burhanudin/KEHATI)
Mama Laila dan Lili merupakan dua orangutan liar yang berasal dari wilayah Kecamatan Sei Awan, Ketapang, Kalimantan Barat. Induk dan anak itu ditemukan di perkebunan karet milik warga. Saat ditemukan, kondisi kedua orangutan tersebut dalam keadaan stres berat dan kelaparan. Keduanya kemudian dibawa ke pusat penyelamatan orangutan milik YIARI yang didukung oleh KEHATI-TFCA Kalimantan, sebelum dilepasliarkan, 21 November 2017 lulu. (Foto: Mohamad Burhanudin/KEHATI)

Manajer Operasional YIARI, drh Adi Irawan, mengatakan, saat ditemukan, Laila tampak sangat ketakutan. Dia tidak berhenti memeluk erat anaknya, Lili. Dia sering berteriak karena merasa terancam. Area gluteal dari Laila tampak mengalami kebotakan (alopecia) dan sangat kotor. Hal ini mengindikasikan, Laila banyak menghabiskan waktunya duduk dan berada di tanah—suatu kecenderungan yang menandakan lemahnya keadaan fisik dan minimnya ketersediaan pakan di perpohonan.

Beruntung bagi induk dan anak tersebut, warga yang menemukan mereka memiliki kesadaran sehingga langsung melaporkan keberadaan dua orangutan itu ke YIARI.

“Pada tanggal 16 September 2017, tim rescue YIARI segera datang ke lokasi dan mengamankan kedua orangutan liar ini melalui pembiusan dan segera membawa keduanya ke pusat penyelamatan dan rehabilitasi orangutan YIARI,” ungkap Adi.

Vijay dibawa ke YIARI Ketapang pada tanggal 20 November 2015 oleh pemiliknya. Sebelumnya, orangutan jantan ini ditemukan pemiliknya di kebun. Karena merasa kasihan, orang tersebut mengambil dan memelihara Vijay dalam kandang berukuran 3×1 meter.

Orangutan bernama Vijay (jantan, 5 tahun)
Orangutan bernama Vijay (jantan, 5 tahun)

Ketika diserahkan ke YIARI, kondisi Vijay mengalami penyakit pernafasan, yang ditandai batuk dan pilek. Dari hasil pemeriksaan, dia terserang bakteri Klebsiella pneumonia. Diperlukan waktu tujuh bulan untuk menyembuhkannya. Hingga, akhirya Vijay dinyatakan sehat dan siap dilepasliarkan.

Sementara, Lisa ditemukan warga di Desa Sungai Bulu, Manis Mata, di areal ladang pertanian pada 18 Januari 2015. Dia kemudian dipeliharan oleh warga dengan cara sangat menyedihkan: lehernya terus menerus diikat tali, hanya diberi makan cempedak, dan air putih. Lisa lalu dibawa oleh enam petugas Kepolisian Sektor Manis Mata, Ketapang, dengan ditaruh di dalam tong tempat sampah yang dilobangi bagian atasnya sebagai ventilasi udara. Aparat kemudian menyerahkan Lisa ke YIARI.

 

Saat ini, masih terdapat 109 individu orangutan yang dirawat di pusat penyelamatan dan rehabilitasi orangutan YIARI di Ketapang. Selama tahun 2017, sebanyak 12 individu orangutan yang telah dilepasliarkan oleh YIARI di TNBBR. Pada tahun yang sama, jumlah orangutan yang masuk ke pusat penyelamatan lebih dari 20 individu. Hal ini mengindikasikan, kerusakan hutan sebagai habitat orangutan semakin tinggi.

“Orangutan yang masih harus di-rescue semakin banyak. Orangutan yang direhab tak serta merta bisa langsung dilepasliarkan. Harus dirawat, diobati, dan dikembalikan kemampuan dan instingnya untuk hidup di alam liar. Butuh waktu yang lama” papar Karmele.

Foto orangutan 7

Selain itu, biaya konservasi orangutan sangat besar, dan sumber daya manusia yang tidak sedikit. Untuk satu kegiatan pelepasliaran, dibutuhkan tak kurang dari Rp 30 juta. Angka tersebut belum termasuk biaya perawatan, pakan, obat-obatan, bius, tenaga medis, perawat, monitoring pascapelepasliaran, dan lain sebagianya.

“Oleh karena itu, kami beterima kasih kepada KEHATI dan TFCA bisa memberi dukungan finansial bagi kami untuk bisa menyelesaikan pekerjaan ini. Yang bisa kami sampaikan, merusak kehidupan orangutan itu gampang, tapi memberi kehidupan kembali mereka itu sangat susah dan luar biasa mahal,” imbuh Karmele.

 

 

  • Artikel
  • Empat Orangutan Dilepasliarkan di TNBBBR
dukung kehati