Deskripsi : Palem besar dengan batang menjalar, akar rimpangnya sebagian terbenam di dalam lumpur, dengan diameter hingga 45 cm, percabangannya dua-dua dengan interval yang tetap. Daunnya menggerombol 3 - 5 daun per tumbuhan, tegak, 4.5 - 14.2 cm panjangnya, menyirip sederhana, tangkai daunnya sangat keras, panjangnya hingga 1.5 m, beralur pada bagian adaksial, bagian bawah tulang daunnya bersisik coklat. Perbungaannya tunggal, tegak, tumbuh di antara daunnya, dan tampak muncul di atas permukaan air, perbuahannya seperti agak membulat, seperti buah batu, berwarna coklat hingga kehitaman, agak melengkung atau menyudut.
Distribusi/Penyebaran : Nipah merupakan salah satu angiospermae tertua dan kemungkinan besar jenis palem tertua. Fosil-fosil Eocene dan Miocene dari Eropa, Amerika Utara dan Timur Tengah dan strata Paleocene di Brasil menunjukkan bahwa nipah penyebarannya pantropis pada 13-63 juta tahun yang lalu. Saat ini utamanya dijumpai di daerah equator, melebar dari Sri Lanka ke Asia Tenggara sampai Australia Utara. Diintroduksi ke Afrika Barat di awal abad ke-20. Tegakan nipah alami terbesar dijumpai di Indonesia (700 000 ha), Papua Nugini (500 000 ha) dan Filipina (8000 ha). Keberadaan alami paling utara dari jenis ini terdapat di kepulauan Ryukyu, Jepang dan paling selatan di Australia Utara. Di Asia Tenggara, nipah juga dibudidayakan.
Habitat : Nipah adalah tumbuhan tropis. Rata-rata suhu minimum pada daerah pertumbuhannya adalah 20°C dan maksimumnya 32-35°C. Iklim optimum adalah agak lembab sampai lembab dengan curah hujan lebih dari 100 mm per bulan sepanjang tahun. Nipah tumbuh subur hanya pada lingkungan air yang asin. Jarang dijumpai langsung di pantai. Kondisi optimum adalah saat bagian dasar palem dan rimpangnya terendam air asin secara reguler. Karena itu nipah mendiami daerah muara sungai yang masih mendapat akibat arus pasang surut dari sungai. Konsentrasi garam optimum adalah 1-9 per mil. Tanah rawa nipah berlumpur dan kaya akan endapan alluvial, tanah liat dan humus; kandungan garamnya bukan organik, kalsium, sulfur, besi dan mangaan tinggi, yang mempengaruhi aroma dan warna gelapnya. pH sekitar 5; kandungan oksigen rendah kecuali lapisan paling atas. Biasanya nipah dapat membentuk tegakan murni, tetapi di beberapa daerah tumbuh bercampur dengan pohon-pohon bakau yang lain.
Perbanyakan : Perbanyakan generatif dengan biji (buah) dan vegetatif dengan rimpang yang bercabang. Di Papua New Guinea, metode `pocket and channel` telah digunakan dengan baik untuk memperbanyak nipah. Buah ditanam langsung pada kantong plastik atau di lubang sedalam 10-20 cm sepanjang tepi kanal-kanal irigasi. Di Filipina, kecambah ditumbuhkan dulu di persemaian kemudian dipindah ke lubang-lubang. Jarak tanam 1.5-2 m, selanjutkan dijarangkan menjadi 400 tanaman per ha. Tegakan alami nipah biasanya rapat; di Papua New Guinea 2000-5000, di Filipina sampai 10 000 tanaman per ha.
Manfaat tumbuhan : Di Asia Tenggara, terdapat tradisi lama (ratusan tahun) dalam menggunakan cairan nipah yang disadap dari gagang perbungaan sebagai sumber sirup gula, gula tak berbentuk, alkohol atau cuka. Cairan nipah yang sedikit difermentasi, dikenal dengan 'toddy' ('nira' di Indonesia dan Malaysia, `tuba` di Filipina) dijual dan dikonsumsi sebagai bir lokal. Di Papua Nugini, tidak ada tradisi memanfaatkan air nipah. Daunnya untuk atap rumah. Di Filipina, Malaysia, Indonesia dan Thailand, pembuatan sirap merupakan sumber pemasukan lokal yang nyata. Pinak daun dan tulang daun untuk membuat sapu lidi, keranjang, tikar dan topi. Endosperma putih dari biji mudanya manis dan seperti jelly, dikonsumsi sebagai makanan ringan. Daun muda yang masih menggulung digunakan secara lokal untuk pembungkus rokok. Berbagai bagian dari nipah merupakan sumber obat tradisional (seperti air dari batang muda digunakan sebagai obat herpes, abu dari nipah yang sudah dibakar bisa menyembuhkan sakit gigi dan kepala) dan bahan ekstraksi garam. Beberapa percobaan awal untuk menggunakan endokarp dari buah yang tua, disebut `plant ivory`, untuk membuat kancing gagal karena rentan terhadap serangan jamur, dan telah digantikan dengan bahan plastik. Nipah berpotensi dalam produksi gula, cuka dan alkohol. Gula tersedia langsung dalam bentuk sukrosa. Cairan dari nipah dalam bentuk liquid, sehingga tidak ada masalah seperti dalam gula tebu. Nipah tumbuh pada tanah yang tidak cocok bagi tanaman pangan yang lain. Penyadapan dapat dilakukan sepanjang tahun, sehingga mengurangi pergerakan buruh musiman dan masalah-masalah sosial yang berkaitan dengannya. Kerugian dalam mengeksploitasi nipah adalah kebutuhan akan buruh manual dibandingkan dengan gula tebu dan kesulitan dalam menjalankan mesin diantara pohon-pohon karena tanah yang gembur dan ketinggian air yang berfluktuasi. Agar industri gula nipah sukses, metode perlu dikembangkan untuk menghambat inversi sukrosa yang cepat dan fermentasi dari cairan nipah. Penelitian perlu dilakukan untuk mengetahui mekanisme fisiologi yang mengatur aliran cairan nipah dan pengaruh perlakuan pendahuluan terhadap gagang perbungaan. Hal ini mungkin akan bermanfaat dalam usaha pengurangan kebutuhan yang tinggi terhadap buruh manual dalam pemanfaatan nipah. Nipah berpotensi untuk menjadi bahan baku penghasil energi, karena dapat menghasilkan alkohol 11000 l per ha per tahun, lebih besar dari yang dihasilkan oleh gula tebu (5 500 l) dan ketela pohon (1350 l).
Sinonim : Nipa fruticans Thunb., Cocos nypa Lour., Nipa litoralis Blanco