Guna Melindungi Sumber Daya Hayati di Pulau Kecil, Yayasan KEHATI, UGM dan Kabupaten Kepulauan Sangihe Tandatangani Nota Kesepahaman - KEHATI
Artikel

Guna Melindungi Sumber Daya Hayati di Pulau Kecil, Yayasan KEHATI, UGM dan Kabupaten Kepulauan Sangihe Tandatangani Nota Kesepahaman

03 Februari 2014

 

Sejak tahun 2008 Yayasan KEHATI telah mendukung masyarakat melalui Kelompok Mandiri Sangihe dalam mengembangkan program pelestarian keanekaragaman hayati dengan fokus pertanian organik dan ekowisata berbasis masyarakat. Saat ini telah terbentuk Asosiasi Petani Organik Komunitas Sangihe (APO KOMASA). Kemudian berkat dukungan KEHATI, sebanyak 441 orang petani pala, cengkeh, sagu dan kelapa telah memperoleh sertifikasi organik internasional dan ekowisata desa.

“Kesejahteraan masyarakat Kepulauan Sangihe dari hasil sumberdaya hayati seperti perkebunan pala, cengkeh, sumber ragam  pangan lokal, hasil perikanan pelagic tuna menjadi ekonomi lokal dan menyumbangkan devisa,” papar Direktur Keuangan dan Umum Yayasan KEHATI, Indra Gunawan, selepas menandatangai nota kesepahaman tersebut. Pengelolaan sumber daya hayati dan pembangunan daerah yang berkelanjutan dengan memperhatikan keseimbangan ekologi tidak hanya memberikan pendapatan yang menjanjikan bagi masyarakat, tetapi juga bisa menyelamatkan dari bencana alam. Peristiwa banjir bandang yang terjadi di Manado dan tanah longsor di Siau baru-baru ini, disebabkan oleh kesalahan pengelolaan pembangunan yang tidak mengindahkan kesimbangan ekologi.

Sementara itu, Bupati Sangihe, Drs. H.R. Makagansa, Msi menyambut baik adanya kerjasama tiga pihak ini, sebab bentuk kerjasama yang akan dilakukan ke depan sesuai dengan visi dan misi Kabupaten Kepulauan Sangihe. Visi daerah itu adalah menjadi Kabupaten Bahari yang sejahtera dan bermartabat. Kemudian untuk mewujudkan visi tersebut, misi pemerintah daerah adalah menjadikan Sangihe sebagai daerah unggulan agribisnis organik dan tujuan wisata-ekologi mandiri berbasis kenaekaragaman hayati. Melalui kerjasama dengan Yayasan KEHATI dan UGM, visi dan misi tersebut dapat dijalankan dengan model pembangunan  yang berkelanjutan dan sesuai dengan daya dukung lingkungan. Dua hal tersebut menjadi syarat penting pengelolaan sumber daya hayati di pulau-pulau kecil yang cenderung rentan terhadap eksploitasi atau kesalahan penanganan.

Dalam sambutannya, Makagansa menegaskan bahwa pembangunan adalah sebuah proses. Oleh karena itu implementasi pembangunan memang belum dapat menjawab seluruh harapan masyarakat yang menghendaki kemajuan di seluruh aspek kehidupan. Sehingga penting adanya sinergi dan konektivitas berkelanjutan, terpadu dan terencana secara simultan dari waktu ke waktu untuk kemajuan Sangihe yang lebih baik. “Kita wajib merangkul berbagai Potensi sumber daya dan kearifan lokal menjadi penyeimbang untuk membangun daerah ini.” Tegas Bupati. Pencapaian Adipura sebagai kota kecil terbersih di tahun 2013 menjadi modal dasar masyarakat Sangihe untuk terus mempertahankan pelestarian keanekaragaman hayati menjadi unggulan daerah dan modal dalam pembangunan.

Kemudian di tempat yang sama, Kepala Pustek Kelauatan UGM, Dr. rer. nat Yosi Bayu Murti mengatakan bahwa pihaknya akan menurunkan tim mahasiswa untuk ikut mewujudkan pembangunan ekowisata di Sangihe. “UGM akan menurunkan tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata tematik ekowisata yang akan memfasilitasi dan mendampingi masyarakat selama dua bulan bersama KEHATI dalam memngembangkan ekowisata,” ungkapnya. Kerjasama ini sesuai dengan Tri Darma perguruan tinggi yang diemban oleh UGM. Dia menambahkan bahwa dengan kolaborasi sinergi tersebut akan memperkuat dalam pengelolaan pembangunaan ekonomi di Sangihe secara berkelanjutan dengan  memperhatikan daya dukung lingkungan.

  • Artikel
  • Guna Melindungi Sumber Daya Hayati di Pulau Kecil, Yayasan KEHATI, UGM dan Kabupaten Kepulauan Sangihe Tandatangani Nota Kesepahaman
dukung kehati