Herpetofauna Sungai Ciliwung Condet, Cililitan, Jakarta Timur - KEHATI
Artikel

Herpetofauna Sungai Ciliwung Condet, Cililitan, Jakarta Timur

03 November 2017

Di hari-hari kerja, Jakarta jadi kota asap, dari terang sampai gelap. Jumlah orang yang beraktivitas  di atasnya sangat banyak. Tak semua sadar akan kesehatan ibukota, namun tak semua terus menyakitinya. Ada yang senantiasa menjaga, tanpa buang sampah sembarangan, hemat listrik, dan mengurangi penggunaan plastik.

Pagi masih buta. 20 (dua puluh) Homo sapiens bermisi sama sudah menanti di Sungai Ciliwung Condet, Cililitan, Jakarta Timur (Gambar 1). Tak peduli kami harus menempuh puluhan kilometer untuk sampai di daerah timur Jakarta.

Sungai Ciliwung Condet, Cililitan, Jakarta Timur (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)
Gambar 1. Sungai Ciliwung Condet, Cililitan, Jakarta Timur (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)

Sesekali kami saling bertukar cerita dan sesekali memeriksa ponsel. Dalam suasana semacam itu, tak terasa jarum jam meluncur cepat. Akhirnya, apa yang kami nantikan tiba, awan mendung pagi berduyun pelan, memberikan celah untuk sinar matahari menerobos ranting-ranting pepohonan.

Kemudian, kami berkumpul di saung yang terdapat di sekitar lokasi pengamatan. Kami hendak ‘berburu’ herpetofauna. Begitulah suasana di Sungai Ciliwung Condet, Cililitan, Jakarta Timur pada perayaan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional tahun 2017. Tanpa paksaan, tanpa desakan, kami hadir untuk sama-sama melakukan pengamatan herpetofauna yang beraktivitas pagi sampai sore hari (diurnal). Herpetofauna adalah kelompok fauna yang terdiri dari reptil dan amfibi.

Atas nama tema Hari Keanekaragaman Hayati Internasional tahun ini, “Biodiversity and Sustainable Tourism”, kami siap ‘menggeledah’ Sungai Ciliwung Condet, Cililitan, Jakarta Timur. Gigitan nyamuk menunggu. Itu tidak membuat kami enggan untuk mengamati satwa melata tersebut.

Awalnya kami akan mulai pengamatan pukul 07.00. Tetapi kondisi masih gelap, matahari belum terang sehingga herpetofauna diurnal tersebut belum beraktivitas. Herpetofauna diurnal memerlukan cahaya matahari untuk berjemur (basking).

Kami mengamati herpetofauna di jalur trecking dan menyusuri sungai dengan menggunakan perahu. Namun, sebelum pengamatan di mulai, kami mengecek kembali alat pengamatan yang kami bawa untuk mengamati herpetofauna yang berhabitat di sungai yang dikelola oleh kelompok masyarakat yang bernama Kelompok Peduli Ciliwung (KPC) Tanjungan.

Kami membuat tabulasi data untuk mencatat jenis herpetofauna yang berhasil diamati. Pengamat herpetofauna diurnal disarankan menggunakan topi, sepatu boots, tidak gaduh, tidak bergerak secara tiba-tiba, dan tetap menjaga dan memelihara habitat herpetofauna.

Setelah itu, kami panjatkan doa agar herping di Minggu, 21 Mei 2017 yang khidmat itu berjalan dengan lancar, dan kaki kami mulai menaiki perahu, menyusuri sungai sembari mata kerap siaga ke tepi sungai.

Tak butuh menyusur terlalu jauh, baru sekitar 50 meter menyusuri sungai, indra penglihatan kami sudah disambut oleh penampakan Biawak air tawar (Varanus salvator) yang sedang berjemur (basking) di tepi sungai (Gambar 2). Titik pertama pengamatan jatuh pada jejeran pohon Loa (Ficus racemosa) yang merupakan pohon khas pinggiran sungai.

Biawak air tawar (Varanus salvator) termasuk famili Varanidae yang memiliki panjang tubuh berkisar 150-300 cm. Dapat ditemukan di tepi sungai, tepi danau, pantai, dan rawa-rawa termasuk hutan mangrove serta aktif pada siang hari.

Biawak air tawar (Varanus salvator) (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)
Gambar 2. Biawak air tawar (Varanus salvator) berjemur (basking) di tepi sungai (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)

“Bagian matanya dikelilingi garis hitam!” seru Maya.

“Tubuhnya?” balas Ratna yang mencatat pengamatan Maya.

Mata Maya kembali mengidentifikasi lalu menyahut, “Tubuhnya berwarna cokelat dengan garis putih dibagian punggungnya.”

Meski baru saling mengenal, Maya dari Universitas Indonesia dan Ratna, mahasiswi Prodi Magister Biologi Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional, Jakarta, keduanya kompak bekerja sama dalam herping hari itu. Catatan pengamatan tersebut dicocokkan dengan foto herpetofauna yang ada di buku “Geledah Jakarta, Menguak Potensi Keanekaragaman Hayati Ibu Kota” yang disusun oleh Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI.

Di titik pertama tersebut, kami berhasil mengidentifikasi beberapa jenis herpetofauna, diantaranya: Bunglon taman (Calotes versicolor) yang sedang mengintai mangsa, Kadal kebun (Eutropis multifasciata) sedang berjemur (basking) dan cekiber (Draco volans) sedang beristirahat (Gambar 3).

Gambar 3. Cekiber (Draco volans) sedang beristirahat (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)
Gambar 3. Cekiber (Draco volans) sedang beristirahat (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)

Matahari semakin naik ke ubun-ubun. Kami mencukupi pengamatan hari itu. Kami berhasil mengidentifikasi 8 (delapan) jenis herpetofauna, yaitu Biawak air tawar (Varanus salvator), Bunglon taman (Calotes versicolor), Kadal kebun (Eutropis multifasciata), Cekiber (Draco volans), Cicak tembok (Cosymbotus platyurus), Tokek rumah (Gekko gecko), Kodok bangkong (Duttaphrynus melanostictus), dan Katak-pohon bergaris (Polypedates leucomystax).

Kemudian, data tersebut akan digunakan untuk melengkapi data herpetofauna di Sungai Ciliwung Condet, Cililitan, Jakarta Timur yang sudah dikumpulkan oleh Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI sejak Juli tahun 2016. Seusai pengamatan, tak lupa kami melakukan foto bersama (Gambar 4).

Gambar 4. Foto bersama seusai pengamatan herpetofauna di Sungai Ciliwung Condet, Cililitan, Jakarta Timur (Foto: M. Burhanudin/KEHATI).
Gambar 4. Foto bersama seusai pengamatan herpetofauna di Sungai Ciliwung Condet, Cililitan, Jakarta Timur (Foto: M. Burhanudin/KEHATI).

 

Artikel ini dimuat dan dipublikasikan Majalah Herpetologer Mania, Edisi Oktober 2017.

  • Artikel
  • Herpetofauna Sungai Ciliwung Condet, Cililitan, Jakarta Timur
dukung kehati