• Harapan
  • harimau day
  • PEKA
  • kalpataru
  • 111711morphobutterflycr
  • Tiger Day, 29 July 2015
  • Pangan Energi Kesehatan Air
  • Para Peraih Penghargaan KEHATI AWARD VIII

Factsheet

  • Botanical Garden
  • Coastal Green Belts Corridor
  • Conserving Bamboo
  • Ecotourism In Indonesia
  • local food diversification
  • TFCA Kalimantan
  • TFCA Sumatera
  • GCI

Indeks SRI KEHATI

Indeks Kehati

Today

Source: Bursa Efek Indonesia

Donate

DONASI KE KEHATI

Donasi ke KEHATI untuk mendukung konservasi keanekaragaman hayati indonesia

Download

Siaran Pers-Hari Lahan Basah

Lahan Basah untuk Kemaslahatan Manusia

mangrovemajene

Catatan dari Rencana Aksi Lahan Basah tahun 2004, luas lahan basah di seluruh penjuru Indonesia sekitar 54 juta hektar. Lahan basah mengacu pada Konvensi Ramsar tahun 1971, termasuk: rawa, gambut, danau, sungai, mangrove, padang lamun, dan terumbu karang serta lingkungan laut dengan kedalaman maksimum enammeter pada surut terendah. Kawasan ini penting karena menjadi ekosistem  yang paling produktif di dunia serta merupakan habitat bagi ribuan keanekaragaman hayati. Lahan basah menyediakan banyak penghidupan bagi manusia. Mulai dari pertanian, perikanan, pariwisata, transportasi, dan penyedia air.

Berdasarkan Gaps Analysis (on ecological representativeness and management of protected areas) tahun 2010 dari sekitar 750 ribu hektar mangrove di Sumatra, sekitar 28 persen ekosistem mangrove telah terbuka (rusak). Perlu diketahui bahwa Indonesia menduduki tempat pertama di dunia untuk luas ekosistem mangrove.Ekosistem lahan basah lainnya, yaitu gambut, dari luas total gambut di Sumatra yaitu 7,2 juta hektar, sebesar 23 persen telah mengalami kerusakan. Untuk hutan rawa, sekitar 52 persen telah mengalami kerusakan. Data tersebut baru di Sumatra, belum di Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Papua.

Dunia memperingati Hari lahan basah setiap 2 Februari, sesuai dengan tanggal lahirnya Konvensi Ramsar di Iran. Tahun ini tema yang diambil adalah Wetlands for our Future : Sustainable livelihoods. Tema ini merujuk pentingnya peran lahan basah bagi manusia, khususnya dalam pencapaian Target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Dengan merestorasi lahan basah yang terabaikan bisa memberi peluang usaha bagi masyarakat sekitar. Di Rawa Tripa dengan menggunakan teknik cannal blocking, kini beberapa areal gambut sudah bisa dikembangkan menjadi perikanan rawa gambut. Baca selengkapnya

Diskusi Pakar, 12 Januari 2016

Sumber Daya Genetik, Kekayaan Masa Depan Indonesia 

IMG 3461 Medium

  

Sumber Daya Genetik menjadi isu utama dalam Rancangan Undang-Undang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem yang sekarang masuk Program Legislasi Nasional 2016. Rancangan UU ini diharapkan mampu menjadi pengganti UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan draft revisi UU nomor 5 tahun 1990 perlu mencakup perlindungan terhadap sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional sebagai bagian dari keanekaragaman hayati Indonesia.

Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) pada Selasa, 12 Januari 2016 menggelar diskusi pakar dalam rangka memperkaya subtansi pengelolaan sumber daya genetikdan pengetahuan tradisional sebagai bagian dari keanekaragaman hayati Indonesia di RUU tersebut. Hadir sebagai pemapar yang juga tim perumus RUU yaitu Kepala sub Direktorat Sumber Daya Genetik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indra Eksploitasia, Direktur Program Tropical Forest Conservation Action Sumatera-KEHATI Samedi dan Peneliti Indonesian Center for Environmental Law Raynaldo Sembiring. Selain tim perumus, hadir pula akademisi, perwakilan pemerintah dan juga praktisi yang peduli terhadap keanekaragaman hayati Indonesia. Baca selengkapnya

Artikel-Program Kampung Iklim

Kampung Iklim Perdana dari Cisarua

kampung iklim

Jerih Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) di Kampung Cisarua, Sukabumi akhirnya berbuah. Pada 14 Desember lalu, kampung yang berada di kaki Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini mendapat penghargaan sebagai Kampung Iklim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sejak 2012, Kementerian memberikan penghargaan terhadap masyarakat pada lokasi setingkat RW/ Dusun/Dukuh atau setingkat Kelurahan/Desa yang secara berkesinambungan telah melakukan aksi lokal terkait dengan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Keberadaan kelompok masyarakat dan tokoh lokal penggerak upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, serta tersedianya instrumen pendukung merupakan faktor penting dalam penilaian usulan Program Kampung Iklim (ProKlim).

Kampung iklim, merupakan salah satu program pembinaan Green Corridor Initiative (GCI) yang digagas KEHATI bersama Chevron Geothermal sejak 2012. Selama empat tahun, Masyarakat Cisarua yang tergabung dalam kelompok Jarmaskor telah merestorasi lahan seluas  120 hektar (dari 230 hektar. yang sudah dicapai GCI) . Jarmaskor juga menyediakan tempat pembibitan mandiri ; tempat kegiatan pertanian terpadu; usaha Koperasi Jarmaskor Maju Sejahtera; kegiatan kelompok perempuan untuk pangan melalui kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL); dan pembuatan instalasi biogas yang disumbang dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia.

Program-program tersebut, mengantarkan Kang Dayat sebagai wakil dari Kampung Cisarua untuk menerima penghargaan langsung dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar. Atas dedikasi tersebut, kampung Cisarua berhak mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp 15 juta. Kampung Cisarua melewati seleksi dari 181 kandidat yang akhirnya mengerucut menjadi 22 kampung (lima pemenang berasal dari Jawa Barat). Dengan keberhasilan tersebut, pada 17 Desember lalu, Kepala Badan Lingkungan Hidup Sukabumi datang ke Kampung Iklim perdana di Cisarua.(dianing sari)

Artikel-Taman Kehati

Prasasti Taman Kehati di Kaki Merapi

taman kehati
Sleman-Taman Keanekaragaman Hayati (Taman Kehati) yang dibangun sejak 2012 silam di kaki Gunung Merapi kini mulai menampakkan jati dirinya. Pepohonan remaja sudah menghijaui kawasan sekitar 1,8 kilometer persegi yang berada di Kecamatan Moyudan, Sleman, Yogyakarta. Pada Jumat, 10 Desember 2015 keberhasilan tumbuhnya tanaman di taman KEHATI tersebut dirayakan dengan penandatangan prasasti oleh para pemrakarsanya. “Rata-rata tanaman disini, sudah setinggi 1,5 hingga dua meter,” ujar Puji Sumedi, Program Officer untuk Ekosistem Pertanian Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) yang ikut dalam penandatangan prasasti di
Dusun Gamplong Desa Sumber Rahayu Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman,

Prasasti tersebut akan diletakkan di museum Merapi yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, Yogyakarta. Selain taman kehati, di area tanaman nasional juga dibuat arboretum bambu. Program-program konservasi itu bertujuan untuk mengembalikan keaslian habitat Merapi akibat erupsi yang melanda kawasan gunung aktif ini selama Oktober-November 2010. Awan panas dan lava telah menghancurkan hutan, lahan pertanian dan pemukiman warga.

Pada hari ini yang juga bertepatan dengan Pekan Penghijauan dan Konservasi Alam ke-55, dibuatlah pengingat berupa prasasti. Hadir dalam penadatangan prasasti, perwakilan Yayasan KEHATI, Bupati  Sleman Gatot Saptadi, Pertamina Depot Pengisian Pesawat Udara Adisucipto, Bank CIMB Niaga serta Institut Pertanian Yogyakarta. (Dianing Sari)

Kertas Posisi-Harapan Pulang Kandang

Harapan Pulang Kandang

DSC01362 Medium

 

Rambutnya lebat, langkahnya gontai. Harapan tampak tak gusar dengan banyaknya pengunjung yang memadati  Suaka Badak Sumatera (Sumatran Rhino Sanctuary-SRS) di Taman Nasional Way Kambas, Lampung pada Jumat, 5 November 2015. Ia tak rikuh mendekati pagar yang membatasi antara pengunjung dan kandang baru badak asal Cinncinati, Amerika Serikat ini. Harapan adalah penghuni anyar di SRS, tepatnya baru lima hari, badak berusia 8 tahun ini pulang kampung. Ia menempuh perjalanan darat dari Jakarta hampir 12 jam, sebelum sampai di Lampung pada pukul 2 pagi tanggal 2 November 2015. Kepulangan badak Harapan seperti halnya badak Andalas dilakukan sesuai dengan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak Indonesia. Baca selengkapnya

Artikel Selanjutnya...

Kicauan KEHATI

by acls us

Laporan Tahunan

  • annual report 2013
    Laporan Tahunan KEHATI 2013
  • cover annual report 2014 02 01
    Laporan Tahunan KEHATI 2014

E-Warta KEHATI

  • WK Apr Jun 2015 01
    warta KEHATI apr - jun 2015
  • WK Jan Mar 2015 01
    WK Januari - Maret 2015
  • cover WK Nov Des 2014
    WK Nov - Des 2014
  • Warta KEHATI Agustus Oktober 2014
    WK Agustus - Oktober 2014
  • WK Mar Jul 2014
    WK Maret - Juli 2014
  • cover WK Nov - Feb 2014
    WK November 2013 - Februari 2014
  • WK Juli Oktober 2013
    WK Juli - Oktober 2013
  • cover
    WK April - Juni 2013
  • WK Nov 2012 - Jan 2013
  • WartaKehatiJuliSept2015 01
    WK Juli Sept 2015