Kaliwlingi Buktikan Sabuk Hijau Pesisir Bukan Hal Mustahil - KEHATI
Artikel

Kaliwlingi Buktikan Sabuk Hijau Pesisir Bukan Hal Mustahil

02 Oktober 2017

Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, merupakan salah satu desa di pesisir yang satu dekade lalu nyaris hancur terkena dampak abrasi Laut Jawa. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, petaka abrasi tersebut tinggal masa lalu.

Ekowisata Hutan Mangrove di Dusun Pandansari, Desa Kaliwlingi, Brebes, Jawa Tengah. (Mohamad Burhanudin/KEHATI)
Ekowisata Hutan Mangrove di Dusun Pandansari, Desa Kaliwlingi, Brebes, Jawa Tengah. (Mohamad Burhanudin/KEHATI)

Sekelompok warga setempat, dipelopori seorang tokoh bernama Mashadi, bahu membahu menyelamatkan kampungnya dari abrasi dengan menanam mangrove. Kaliwlingi pun kini berkembang sebagai desa wisata unggulan di Brebes, bahkah Indonesia, melalui pengembangan ekowisata berbasis hutan mangrove.

Untuk menanam dan mengelola mangrove, warga membentuk sebuah kelompok yang dinamakan Mangrovesari. Beragam instansi dan lembaga donor digandeng dalam upaya menjaga kelangsungan rehabilitasi kawasan pesisir tersebut.

Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) merupakan salah satu lembaga pengelola hibah di bidang pelestarian dan pemanfaatan sumber daya hayati yang menjalin kerjasama dengan Mangrovesari dalam kegiatan rehabilitasi pesisir di Kaliwlingi.

Sejak tahun 2008, KEHATI melalui Mangrovesari sebagai mitranya, membantu penanaman mangrove di kawasan tersebut. Selain itu, bersama mitranya tersebut, KEHATI juga mengembangkan konsep ekowisata, beserta skema pemanfaatan ekonominya.

Hasilnya, ekowisata mangrove di Desa Kaliwlingi kini menjadi sumber ekonomi yang sangat berarti bagi warga setempat. Mereka dapat melakukan beragam kegiatan ekonomi dari pengembangan ekowisata mangrove, seperti menjual cinderamata, makanan, minuman, menyewakan perahu dan aneka jasa wisata lainnya.

Nelayan dan petambak setempat yang dahulu terpuruk karena abrasi, kini menemukan asanya kembali. Di sekitar hutan mangrove yang mereka tanam beraneka flora dan fauna, seperti ikan, udang, rajungan, dan kerang, kembali melimpah. Warga pun semakin bersemangat untuk terus menanam mangrove dan menjaga kelestariannya.

Sejak tahun 2008 hingga tahun 2017, Kelompok Mangrovesari telah menanam sebanyak 3.500.000 batang mangrove. Desa Kaliwlingi yang dulu nyaris hilang ditelan abrasi, kini semarak dan makmur.

Terkait dengan keberhasilan rehabilitasi pesisir di Desa Kaliwlingi tersebut, Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman bersama Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) mengadakan kunjungan ke Dusun Pandansari, Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes, Kamis, 28 September 2017.

Kementerian Koordinator bidang Perekonomian bersama KEHATI mengunjungi Dusun Pandansari, Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes, 28 September 2017
Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman bersama KEHATI mengunjungi Dusun Pandansari, Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes, 28 September 2017

Rombongan Kemenko Kemaritiman dipimpin oleh Deputi bidang Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenko Kemaritiman Agus Kuswandono. Sementara, Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, MS Sembiring, dalam kesempatan ini diwakili oleh Direktur Komunikasi dan Penggalangan Sumber Daya, Fardila Astari, yang hadir bersama jajarannya.

Kunjungan dipusatkan di kawasan ekowisata hutan mangrove. Rombongan juga menyempatkan diri berdialog dengan warga dan tokoh masyarakat di Kaliwlingi, khususnya dengan para pengurus Kelompok Mangrovesari.

“Kami sangat bergembira bisa hadir di Desa Kaliwlingi, khususnya Dusun Pandansari ini. Desa ini dapat menjadi model bagi upaya percepatan rehabilitasi kerusakan pesisir dan laut di Indonesia,” kata Agung.

Sabuk hijau pesisir

Secara global, melestarikan ekosistem mangrove berkelanjutan merupakan salah satu mandat dalam Sustainable Development Goals. Terkait hal tersebut, sejak tahun 2008, KEHATI, menjadikan perbaikan hutan mangrove secara berkelanjutan sebagai salah satu program penting dalam kebijakannya.

Fardila mengatakan, restorasi kawasan ekosistem pesisir, dengan melindungi dan mengembalikan hutan mangrove akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan pesisir. Pemanfaatan jasa lingkungan dengan ekowisata, misalnya, memiliki potensi besar menyumbang sumber ekonomi baru yang dikelola masyarakat. Selain itu, hutan mangrove yang tumbuh lestari juga membantu menyerap karbon di udara.

“Apa yang ditunjukan warga di Desa Kaliwlingi, Brebes ini, telah menjadi bukti nyata manfaat besar hutan mangrove yang lestari. Hal ini juga membuktikan, upaya merajut sabuk hujau pesisir hutan mangrove di Indonesia bukan hal yang mustahil,” paparnya.

Masyarakat menikmati kembalinya keanekaragaman hayati ekosistem mangrove, baik dari pemanfaatan secara langsung–seperti perikanan pesisir, nilai tambah sumber makanan dari mangrove, dan pewarna alami–maupun melalui peternakan dan perikanan budidaya pesisir.

Kementerian Koordinator bidang Perekonomian bersama KEHATI mengunjungi Dusun Pandansari, Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes, 28 September 2017
Rombongan wisatawan menikmati suasana di Kawasan Hutan Mangrove Kaliwlingi Brebes, Rabu (27/9).

Lebih lanjut, Fardila mengatakan, upaya merajut sabuk hijau pesisir Indonesia adalah gerakan bersama. Semakin banyak pihak yang tergerak, maka akan semakin cepat pula upaya ini menggapai haribaan tujuannya. Yaitu, mengembalikan ekosistem hutan mangrove dan keanekaragaman hayati pesisir untuk kesejahteraan dan keunggulan Indonesia sebagai bangsa maritim.

“Kami berharap besar, upaya kita ini dapat menjelma sebagai bola salju yang terus menggelinding menjadi gerakan besar dan berkesinambungan dalam mewujudkan sabuk hijau pesisir Indonesia,” tandas Fardila. (Han)

 

  • Artikel
  • Kaliwlingi Buktikan Sabuk Hijau Pesisir Bukan Hal Mustahil
dukung kehati