Jadikan Komoditas Lokal Sebagai Sumber Kesejahteraan Bangsa - KEHATI
Artikel

Jadikan Komoditas Lokal Sebagai Sumber Kesejahteraan Bangsa

15 Oktober 2017

Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Hal tersebut memungkinkan bagi negara ini untuk memiliki beragam sumber pangan dan produk lokal yang kaya, khas, dan jarang ada di negara lain.

Seorang staf mitra dampingan Program TFCA Kalimantan-KEHATI menunjukkan salah produk madu hutan Kalimantan yang telah dikemas ke dalam botol, Sabtu 7 Oktober 2017. Madu hutan Kalimantan merupakan salah satu komoditas lokal di Kapuas Hulu, Kalbar, yang dihasilkan petani setempat dari alam secara lestari. Ada ratusan kelompok petani madu yang saat ini telah tumbuh berkembang. (Foto: Mohamad Burhanudin/KEHATI)
Seorang staf mitra dampingan Program TFCA Kalimantan-KEHATI menunjukkan salah produk madu hutan Kalimantan yang telah dikemas ke dalam botol, Sabtu 7 Oktober 2017. Madu hutan Kalimantan merupakan salah satu komoditas lokal di Kapuas Hulu, Kalbar, yang dihasilkan petani setempat dari alam secara lestari. Ada ratusan kelompok petani madu yang saat ini telah tumbuh berkembang. (Foto: Mohamad Burhanudin/KEHATI)

Potensi yang melimpah serta jenis produk yang ketersediaannya di pasar relatif jarang tersebut merupakan sumber ekonomi yang secara bisnis sangat potensial untuk mendorong kesejahteraan masyarakat. Sayangnya, potensi besar tersebut belum dikembangkan dan dikelola dengan baik.

Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) MS Sembiring, Jumat (13/10) mengatakan, meskipun hanya menempati 1,3 persen dari total luas bumi, Indonesia dihuni sekitar 17 persen spesies flora dan fauna yang ada di planet ini. Melimpahnya ragam hayati tersebut membuat Indonesia kaya akan komoditas potensial yang dapat dimanfaatkan secara lestari bagi kesejahteraan masyarakat.

Komoditas tersebut di antaranya: sagu, sorgum, kopi, rempah-rempah, madu, bahan-bahan bio-farmasi, umbi-umbian, bambu, produk hasil hutan bukan kayu (HHBK), dan lain sebagainya.

“Jika saja komoditas-komoditas tersebut dapat dikembangkan dengan baik, diperhatikan aspek budidaya dan produksinya, pengembangan nilai tambahnya, pasar, serta kebijakan regulasinya secara tepat, akan memberi solusi bagi persoalan ekonomi, sosial, dan lingkungan kita,” kata Sembiring.

Seorang perempuan di rumah betang Dayak Iban di Desa Sungai Abui, Kecamatan Batang Lumpar, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, tengah membuat tenun ikat. Tenun Ikat Dayak Iban merupakan salah satu kerajinan lokal bernilai seni tinggi peninggalan nenek moyang suku Dayak yang masih lestari. TFCA Kalimantan-KEHATI melalui mitranya mendampingi warga Dayak Iban di Kapuas Hulu untuk turut merawat tradisi tersebut dengan mengembalikan penggunaan pewarna alam sebagai bahan pewarna tenun dan semua produk kerajinan tradisional warga di suku ini. Penggunaan pewarna alam untuk tenun dayak Iban sesungguhnya sudah berlangsung turun temurun, namun seiring gempuran pewarna kimia, penggunaan pewarna alam sempat tersingkir. Namun, kini penggunaan pewarna alam telah kembali.
Seorang perempuan di rumah betang Dayak Iban di Desa Sungai Abui, Kecamatan Batang Lumpar, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, tengah membuat tenun ikat. Tenun Ikat Dayak Iban merupakan salah satu kerajinan lokal bernilai seni tinggi peninggalan nenek moyang suku Dayak yang masih lestari. TFCA Kalimantan-KEHATI melalui mitranya mendampingi warga Dayak Iban di Kapuas Hulu untuk turut merawat tradisi tersebut dengan mengembalikan penggunaan pewarna alam sebagai bahan pewarna tenun dan semua produk kerajinan tradisional warga di suku ini. Penggunaan pewarna alam untuk tenun dayak Iban sesungguhnya sudah berlangsung turun temurun, namun seiring gempuran pewarna kimia, penggunaan pewarna alam sempat tersingkir. Namun, kini penggunaan pewarna alam telah kembali. (Foto: Mohamad Burhanudin/KEHATI)

Pengembangan sumber daya lokal akan mendorong pembangunan desa dan daerah-daerah terpencil. Menciptakan peluang bisnis dan lapangan pekerjaan untuk kaum muda, mengurangi laju urbanisasi, meningkatkan ketahanan pangan, mengurangi konflik sumberdaya alam, dan menjadi solusi terhadap degradasi lingkungan dan perubahan iklim.

Keberhasilan pengembangan komoditas sorgum di Nusa Tenggara Timur yang dijalankan KEHATI bersama mitra-mitranya dalam beberapa tahun terakhir merupakan salah satu bukti bahwa komoditas lokal dapat berperan strategis bagi kesejahteraan warga.

Manajer Program Ekosistem Pertanian KEHATI, Puji Sumedi, mengungkapkan, pengembangan sorgum di provinsi tersebut terbukti tak hanya mampu menyediakan sumber pangan pokok non-beras bagi warga, tetapi juga memberikan tambahan sumber penghasilan baru bagi petani setempat.

Pada tahun 2017, kegiatan penanaman sorgum mencapai luasan 220 hektar, dengan tingkat produktivitas 2,8 ton per hektar, dengan tambahan penghasilan yang didapat per petani rata-rata sekitar Rp 1.295.000 per bulan. Gerakan menanam sorgum yang sebelumnya hanya di Kabupaten Lembor dan Flores Timur, kini telah menyebar ke Ruteng dan Lembata. Sorgum juga menjadi sumber pangan konsumsi harian.

Yayasan KEHATI mengikuti Pameran Panen Raya Nusantara (Parara) 2017 di Taman Menteng, Jakarta, 13-15 Oktober 2017. Beragam produk lokal dampingan KEHATI melalui miranya dipamerkan dalam kegiatan ini guna menjangkau pasar yang luas. (Foto: Mohamad Burhanudin/KEHATI)
Yayasan KEHATI mengikuti Pameran Panen Raya Nusantara (Parara) 2017 di Taman Menteng, Jakarta, 13-15 Oktober 2017. Beragam produk lokal dampingan KEHATI melalui miranya dipamerkan dalam kegiatan ini guna menjangkau pasar yang luas. (Foto: Mohamad Burhanudin/KEHATI)

 “Warga makin bersemangat untuk menggarap lahannya karena sorgum mampu bertahan pada kondisi alam yang sulit ditebak, bahkan el nino. Padahal, jagung dan padi yang ditanam pada situasi seperti ini umumnya mati. Sorgum menjadi solusi bagi warga terhadap perubahan iklim,” ujar Puji.

Produsen utama dunia

Sorgum hanyalah salah satu contoh potensi sumber daya lokal yang sangat potensial sebagai sumber kesejahteraan masyarakat perdesaan. Contoh lainnya yang juga potensial dikembangkan sebagai komoditas unggulan mengingat besarnya potensi yang dimiliki Indonesia salah satunya adalah rempah-rempah.

Cengkeh merupakan salah satu jenis rempah di mana Indonesia menjadi produsen utama dunia. Sekitar 80 persen produksi cengkeh dunia didatangkan dari negeri ini. Sisanya berasal dari Madagaskar, Zanzibar, Kenya, China, Grenada, Malaysia, Tanzania, Pakistan, Zanzibar, dan India. Di pasar internasional, cengkeh digunakan sebagai bahan obat-obatan herbal, pewangi atau aroma terapi, dan bumbu masak.  Di Indonesia, sayangnya, berdasarkan data Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI), produksi cengkeh 93 persen dikonsumsi hanya untuk industri rokok kretek.

Luasan kebun cengkeh pun cenderung turun. Lahan produktif untuk komoditas ini secara nasional pada tahun 2017 ini hanya sekitar 300.000 hektar, jauh di bawah luasan lahan sebelum tahun 2000-an yang masih di atas 800.000 hektar.

Sebagaimana cengkeh, kapulaga dan kayu manis juga merupakan jenis rempah yang memiliki potensi sangat besar. Saat ini, Indonesia ada di peringkat ketiga sebagai produsen kapulaga terbesar di dunia. Bahkan, untuk kayu manis, Indonesia menduduki ranking pertama. Sekitar 43 persen kayu manis dunia berasal dari negeri ini.

Selain rempah, Indonesia juga penghasil utama komoditas-komoditas khas, seperti bambu, kakao, kopi, teh, kelapa, sagu, dan karet. Khusus bambu, Indonesia merupakan produsen terbesar kedua di dunia setelah China, dengan kontribusi pasar sekitar 12 persen. Angka tersebut semestinya dapat didorong lebih tinggi lagi jika mengingat tanaman ini sangat mudah pembudidayaannya, serta tradisi mengolah bambu yang sudah berlangsung lama.

Belum lagi komoditas empon-empon, seperti jahe, kunyit, laos, temulawak, dan masih banyak lagi.

Hal tersebut belum termasuk komoditas olahan yang khas, seperti kerajinan tangan yang dibuat dari ragam sumber daya hayati Indonesia.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Triawan Munaf, saat berkunjung ke stan KEHATI di acara Pameran Panen Raya Nusantara di Taman Menteng, Jakarta, 13-15 Oktober 2017. (Foto: Rosalia Nurma/KEHATI)
Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Triawan Munaf, saat berkunjung ke stan KEHATI di acara Pameran Panen Raya Nusantara di Taman Menteng, Jakarta, 13-15 Oktober 2017. (Foto: Rosalia Nurma/KEHATI)

“Jika dikembangkan dengan strategi industri yang baik , nilai tambahnya akan kian besar. Penghasilan masyarakat kecil di perdesaan akan meningkat, terlebih pelaku usaha komoditas seperti bambu, kopi, dan rempah, umumnya bukan kolongmerasi. Angkatan kerja yang terserap ke pasar tenaga kerja akan semakin banyak,” ujar Puji.

Sayangnya, pada saat yang sama,  upaya mendukung kegiatan ekonomi berbasis masyarakat di kawasan hutan, perdesaan, pesisir, dan jalur air yang sangat penting artinya bagi pengembangan produk-produk tersebut di tingkat hulu masih minim. Terlebih perhatian untuk tingkat tengah dan hilir. Informasi-informasi produk dalam negeri yang berskala internasional pun jarang.

Negara lebih banyak berkutat pada upaya swasembada pangan, yang hanya merujuk kepada padi atau beras dan jagung. Dana subsidi triliunan rupiah untuk swasembada pangan setiap tahun dikucurkan, namun umumnya hanya diarahkan untuk kedua jenis produk tersebut.

Perhutanan sosial

Sembiring menambahkan, program perhutanan sosial yang dicanangkan pemerintah pada tahun 2016 lalu sesungguhnya sangat strategis untuk dikembangkan ke arah upaya peningkatan produktivitas pada komoditas sumber daya lokal tersebut. Dengan memiliki akses pengelolaan hutan, masyarakat berkesempatan memanfaatkan lahan dan sumber daya hutan, khususnya HHBK, untuk menunjang kesejahteraannya. Dengan sejahtera, masyarakat bersemangat untuk turut berperan melestarikan hutan.

Namun, di samping memberikan akses kelola sumber daya hutan, pemerintah dan semua lembaga terkait perlu pula untuk menyiapkan keterampilan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan dalam pengelolaan sumber daya hutan.

panensorgum
Panen sorgum Nusa Tenggara Timur. (Foto: Puji Sumedi/KEHATI)

Masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan, lanjut Sembiring, masih memerlukan pendampingan, mulai dari penyusunan rencana umum dan rencana operasional dalam mengimplementasikan perhutanan sosial, hingga pemasaran komoditas dan produk yang dihasilkan dari pemanfaatan sumber daya hutan.

Di samping itu, penguatan aspek kelembagaan masyarakat juga mutlak diperlukan. Dari hasil pendampingan KEHATI bersama para mitranya selama ini, salah satu permasalahan pengelolaan perhutanan sosial adalah belum matangnya lembaga-lembaga  yang ada di desa dalam memahami tugas, pokok, dan fungsi (tupoksi), serta keterbatasan keterampilan manajerial mereka dalam pengelolaan hutan.

“Pelatihan dan pengembangan HHBK, seperti pengembangan produk madu hutan, kopi, dan kerajinan tangan, akan sangat membantu masyarakat menyukseskan program perhutanan sosial,” tandas Sembiring.

 

 

 

 

 

 

  • Artikel
  • Jadikan Komoditas Lokal Sebagai Sumber Kesejahteraan Bangsa
dukung kehati