Lebih Bijaksana dengan Makanan Sisa - KEHATI
Artikel

Lebih Bijaksana dengan Makanan Sisa

12 Juli 2013

Berangkat dari kondisi di atas, PBB kemudian menetapkan tema Think.Eat.Save sebagai tema Hari Lingkungan Hidup Dunia tahun 2013. Menangkap pesan dari tema tersebut, Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) bekerjasama dengan Omar Niode Foundation, Mongabay-Indonesia, dan SAE Institute mengadakan pemutaran cuplikan film Taste the Waste karya seorang jurnalis lingkungan, Valentine Thurn, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi terbuka pada Rabu 5 Juni 2013 petang.

Film tersebut banyak bercerita tentang nasib makanan sisa di berbagai negara seperti Jerman, Perancis, Italia, Jepang, dan Kamerun yang dikupas dari berbagai perspektif. Mulai dari makanan-makanan yang tidak laku terjual di rak-rak supermarket sampai industri perkebunan pisang yang memaksa petani untuk memproduksi pisang besar-besar namun ternyata tidak semuanya terangkut dan terjual, justru dibiarkan membusuk.

“Jika di negara-negara lain terjadi seperti itu, jangan sampai kita melakukan hal yang sama,” kata Amanda Katili dari Omar Niode Foundation. Menurutnya, diskusi yang menghadirkan beberapa narasumber dari pelaku bisnis makanan dan juga ahli teknologi pangan ini diharapkan bisa mendapatkan solusi perlakukan makanan agar tidak terbuang sia-sia.

Sementara itu, dalam penutupan diskusi, Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), MS Sembiring mengatakan bahwa bicara makan tidak hanya sekedar makan. “Ini juga berkaitan dengan lingkungan,” ujarnya. Ada keterkaitan yang kuat antara makanan, produksi makanan, dan sampah makanan dengan perubahan i
klim yang terjadi. Misalnya jejak karbon dari pengangkutan makanan.

Oleh karena itu, salah satu cara yang bisa menjadi solusi untuk mengurangi dampak perubahan iklim adalah dengan kembali memanfaatkan sumber makanan lokal. Perederan makanan antar negara, ekspor dan impor bahan makanan yang pada akhirnya banyak berakhir di tempat sampah justru menambah jejak karbon yang ujungnya berkontribusi memperburuk efek rumah kaca. Mengkonsumsi makanan lokal berarti mengurangi jejak karbon tersebut, karena sumber makanan cenderung tidak membutuhkan rangkaian transportasi yang panjang.

Kemudian dalam konteks teknis pengolahan makanan agar tidak banyak terbuang, kearifan lokal Indonesia sebenarnya sudah membekali kita dengan berbagai teknik masak yang dapat memperpanjang daya tahan makanan. Sebut saja rendang yang dapat bertahan berhari-hari, bahkan ada yang sampai dalam hitungan bulan. Teknik pengeringan ikan dengan cara diasap atau diasinkan lalu dijemur juga menjadi cara yang efektif. Cara-cara ini memungkinkan masyarakat memanfaatkan ikan-ikan segar yang tadinya tidak laku terjual. Berbagai teknik pengolahan lain tentunya bisa digali lebih dalam, mengingat Indonesia kaya akan budaya dan khasanah kulinernya. Diharapkan melalui pemutaran film dan diskusi dengan para pakar, cara-cara pengolahan lanjutan yang bisa memanfaatkan makanan sisa atau memperpanjang umur makanan tersebut.

Lebih lanjut, Ahli Teknologi Pangan, Arief T N Gomo, membagi tips berguna agar konsumsi makanan di tingkat rumah tangga tidak banyak yang terbuang. “Kita harus memulai mengadopsi smart shop, yaitu bebelanja sesuai dengan kebutuhan,” katanya. Berbelanja harus disesuaikan dengan daya tahan makanan tersebut. Sebagai gambaran sayuran hanya dapat bertahan di kulkas selama 3 hari, sedangkan daginh segar jika dibekukan di kulkas selama setidaknya seminggu. Selain itu, daging atau ikan-ikanan sebaiknya dipoton-potong dahulu sesuai kebutuhan sekali pakai lalu ditempatkannke lemaripemeku secara terpisah.Sehingga memudahkan ketika akan diolah dan mengurangi potongan daging yang lain terpapar bakteri pembusuk.

  • Artikel
  • Lebih Bijaksana dengan Makanan Sisa
dukung kehati