Mashadi, Menolak Mengumpat Gelap - KEHATI
Artikel

Mashadi, Menolak Mengumpat Gelap

09 Juni 2017

Sembilan tahun silam, Mashadi dianggap tak lebih sebagai lelaki gila di desanya. Puluhan tahun abrasi mengubur nyaris habis sumber kehidupan. Keputusasaan membekap benak warga.

Dalam “kegelapan” itu, Mashadi menempuh jalan yang dianggap tak alang kepalang aneh dan mustahil bagi warganya: menanam mangrove di lahan yang remuk redam oleh puluhan tahun abrasi alam.

Kini, cap gila itu tinggal sejarah. Mashadi menjadi pahlawan bagi warganya. Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi, yang dulu nyaris tinggal hikayat, kini dikenal sebagai desa ekowisata termahsyur di Kabupaten Brebes, bahkan Indonesia.

Lebih dari 3,5 juta batang pohon mangrove yang ditanam Mashadi bersama warga lainnya selama sembilan tahun terakhir, telah mengubah bentang kelam lahan desa menjadi rerimbunan rimba mangrove kaya manfaat.

Mashadi, pegiat hutan mangrove di Brebes. (Sumber foto: mongabay.co.id)
Mashadi, pegiat hutan mangrove di Brebes. (Sumber foto: mongabay.co.id)

Nasib ribuan warga desa pun berubah. Tak banyak lagi pemuda yang merantau sebagai buruh bangunan ataupun anak buah kapal (ABK) ke luar daerah. Hampir tak ada lagi pemudinya yang terpaksa pergi ke kota besar untuk berjibaku sebagai pekerja informal bergaji murah.

Mereka menerima berkah ekonomi dari ekowisata mangrove yang beberapa tahun terakhir bersemi asri.  Jualan cinderamata, makanan, minuman, dan beraneka jasa wisata, menjadi sumber ekonomi baru yang menghidupi.

Nelayan dan petambak yang dahulu terpuruk dalam keputusasaan, kembali menemukan asanya. Tak perlu lagi harus berlayar hingga jauh ke tengah lautan. Di sekitar hijaunya mangrove, mereka mampu mejumput rezeki yang melimpah. Ikan, udang, rajungan, kerang, dan beraneka flora fauna tangkapan nelayan itu, kini lebih mengakrabi tepi pantai yang berselimut mangrove.

Dua tahun lalu, Mashadi dianugerahi Kalpataru oleh Presiden Joko Widodo berkat upayanya di bidang lingkungan tersebut. Dia juga terpilih sebagai salah satu Pejuang Tangguh, sebuah ajang penghargaan terhadap sosok-sosok inspiratif yang diselenggarakan oleh salah satu perusahaan farmasi.

“Lebih baik menyalakan lilin daripada mengumpat kegelapan. Sekecil apapun yang kita lakukan, Tuhan akan memberi imbalan,” ucap Mashadi, pertengahan Mei 2017 lalu saat ditanya tentang hal yang mendorongnya menanam mangrove di saat warga lainnya tengah putus asa.

Petaka abrasi

Meski begitu, untuk mencapai situasi seperti saat ini, jalan yang mesti ditempuhi Mashadi sangat tidak mudah. Dia menghadapi kondisi alam yang bagi warga dan aparat di desanya kala itu hanya bisa berubah dengan sebuah keajaiban yang mustahil hadir di alam nyata.

Dan, dianggap sebagai orang gila hanyalah satu dari sekian banyak cemoohan yang dialamatkan kepadanya ketika hendak merintis jalan solusi atas ancaman kehancuran itu.

Mashadi menuturkan, malapetaka itu mulai menghampiri sekira tahun 1985. Sedikit demi sedikit abrasi menghancurkan tambak dan lahan pertanian warga Kaliwlingi. Tak hanya dari pantai, abrasi juga datang dari muara sungai yang terbendung hingga airnya meluap kemana-mana.

Hidup warga tak lagi sama. Petambak kehilangan areal tambaknya. Nelayan kehilangan tangkapan di pantai, dan banyak lahan pertanian berubah menjadi payau. Tak kurang dari 890 hektar lahan di desa itu hancur akibat abrasi.

“Situasi kami waktu itu benar-benar susah. Sangat sulit. Ekonomi kami morat-marit. Apa yang kami tanam semuanya hancur, ” tutur Mashadi.

Alih-alih solusi penanganan, abrasi dari tahun ke tahun kian parah. Para pemuda memilih meninggalkan desa begitu lulus SD atau SMP untuk mencari sumber penghidupan layak. Desa sulit lagi diharapkan. Warga resah dan putus asa.

Mashadi sesungguhnya bukan warga asli Kaliwlingi. Istrinya yang warga asli desa tersebut. Sejak menikah, Mashadi memilih tinggal di Kaliwlingi, tempat kelahiran istrinya.

Di antara warga  sekitarnya, Mashadi tergolong warga berpendidikan. Pergaulannya luas. Meskipun sehari-harinya berkutat di sawah dan tambak, dia adalah seorang sarjana yang memiliki wawasan lebih.

Dari pergaulannya yang luas dan pengetahuannya akan pentingnya konservasi lingkungan, dia mendapatkan ide  penanaman mangrove di lahan-lahan yang terkena abrasi di desanya.

“Saya waktu itu mulai berpikir, abrasi seiring waktu akan terus terjadi, terus berlanjut. Daripada terus marah-marah dan putus asa, mengapa kita tak melakukan hal yang postitif dengan menanam mangrove,” ungkapnya.

Pada awalnya, dia tidak tahu bagaimana ide itu harus diimplementasikan dengan baik dan sistematis. Namun, dia tetap mencobanya. Dengan biaya sendiri, dia menanam mangrove.

Namun itu juga tidak mudah. Selain wilayah yang harus ditanami sedemikian luas dan biaya yang dibutuhkan sangat besar, sangat susah untuk mengajak warga terlibat.

“Tapi, saya tak putus asa. Istri saya yang hampir putus asa. Karena, kadang harus menggunakan uang sendiri untuk melakukan semuanya…he…he…he,” kenang Mashadi.

Dibantu salah seorang tokoh masyarakat di desanya yang peduli dengan keadaan alam Kaliwlingi, Rosjan, Mashadi bersama segelintir warga yang mulai sadar pentingnya mangrove, terus meniti langkah-langkah kecil.  Mereka membentuk Kelompok Mangrove Sari.

Suatu hari pada tahun 2008, Mashadi yang sejak lama aktif dalam Ikatan Petani Pemantau Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI), diundang untuk mengikuti sebuah acara seminar di kampus Institute Pertanian Bogor (IPB). Di acara tersebut, dia bertemu dan menunjukkan video dokumenter yang dibuatnya tentang kondisi desanya kepada Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) kala itu, Damayanti Buchori.

“Pak Mashadi itu sosok yang gigih. Dia orang desa yang terpelajar. Saat warga yang lain resah, beliau mempunyai kesadaran untuk mencari jalan mengatasi masalah. Sejak 2008-2009, kami turut terlibat dalam mendampinginya dalam penanaman mangrove, membantu menyusun strategi untuk solusinya, juga model pemanfaatan ekonominya, ” ungkap Manajer Program untuk Ekosistem Pesisir dan Pulau Pulau Kecil pada Yayasan KEHATI, Basuki Rahmat.

Wisata Mangrove di Desa Kaliwlingi, Brebes. (sumber foto: Tribun Jateng)
Wisata Mangrove di Desa Kaliwlingi, Brebes. (sumber foto: Tribun Jateng)

Tiga tahun berjalan, warga mulai merasakan dan memahami manfaat menanam mangrove. Banyak yang kemudian mulai bersedia secara sukarela terlibat.  Tak  sekadar demi rehabilitasi, warga juga mulai tersadar tentang pentingnya manfaat ekonomi yang bisa didapat dari hutan mangrove yang nantinya terwujud, terutama ekowisata.

Pencuri yang baik

Guna mendapatkan sumber pendanaan untuk penanaman, Mashadi dan kawan-kawan menggaet mitra-mitra yang mau peduli dengan lingkungan.

Cara yang ditempuhnya unik. Setiap kali kegiatan penanaman, dia selalu melibatkan awak media massa guna meliput. Dari hasil liputan, dia mengumpulkan kliping pemberitaan dan membuat video kegiatan. Materi-materi itu lalu digunakannya untuk memperkuat proposal yang dikirimkannya ke mitra-mitra strategis, mulai dari instansi  pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, perusahaan, hingga perguruan tinggi.

Dari satu donasi, dia menargetkan minimal bisa digunakan untuk menanam 1.500 batang mangrove. Sebagai imbalannya, nama donatur akan ditulis di papan yang dipajang di areal penanaman. Setahun kemudian, ketika donatur tersebut  tak lagi memberi donasi, maka namanya dihapus dari papan. Jika ingin tertulis lagi, maka mereka harus berdonasi kembali. Begitu seterusnya.

“Kami hanya mencoba menjadi pencuri yang baik. Pencuri di mana yang dicuri mengucapkan terima kasih,” selorohnya.

Hingga akhirnya, pada tahun 2017 ini, Mashadi bersama warga di desanya telah menanam sebanyak 3.550.000  batang mangrove. Dukuh Pandansari yang nyaris hilang ditelan mimpi buruk abrasi itu kini semarak dan makmur. Ekowisata mangrove menjadi sumber kegairahan baru. Tidak saja menghidupkan Kaliwlingi, tetapi juga wisata Brebes.

Namun, pencapaian tersebut bukan akhir dari tekat Mashadi. Bersama warga di desanya, dia berkehendak untuk terus menanam mangrove. Mereka juga akan mengembangkan ekowisata mangrove secara lebih kreatif, menarik, murah, dan lestari. Salah satunya, dengan memanfaatkan bahan baku berupa buah mangrove sebagai sumber pangan lokal, seperti sirup dan selai, serta memanfaatkan tanaman tersebut sebagai bahan pewarna batik.

Produk-produk yang bersumber dari kekayaan alam lokal itu nantinya dipasarkan sebagai oleh-oleh khas Pandansari dalam rantai ekowisata. Dengan demikian, warga menjadi semakin bersemangat untuk terus menanam mangrove dan menjaga kelestariannya. Karena, selain bermanfaat secara ekologis, juga memberi berkah besar secara ekonomi.

“Tanaman yang kita tanam akan bertasbih mendoakan kita. Itulah keyakinan yang selalu kami percayai sejak awal ketika memilih menyalakan lilin daripada mengumpat kegelapan,” tandasnya. (Mohamad Burhanudin)

Mashadi (Sumber: kalpataru.id)

 

 

 

 

 

  • Artikel
  • Mashadi, Menolak Mengumpat Gelap
dukung kehati