Memperingati Hari Mangrove Sedunia 2019 – Melalui Kolaborasi, KEHATI Ingin Merajut Sabuk Hijau Pesisir Indonesia - KEHATI
Highlight

Memperingati Hari Mangrove Sedunia 2019 – Melalui Kolaborasi, KEHATI Ingin Merajut Sabuk Hijau Pesisir Indonesia

27 Juli 2019

Jakarta-Hari ini 26 Juli 2019 dunia merayakaan Hari Mangrove. Indonesia sebagai negara yang memiliki pohon mangrove terluas di dunia harus memanfaatkan momentum ini untuk merefleksi kebijakan dan program pelestarian mangrovenya.  Indonesia memiliki mangrove terluas di dunia yaitu 3,4 juta hektar, namun di tahun 2018, sekitar 41 persen atau seluas 1,82 juta ha mangrove berada dalam kondisi kritis.

Fenomena dieback pada mangrove yang terjadi di Teluk Benoa di awal tahun ini semakin menambah derita pelestarian mangrove di Indonesia. Berdasarkan hasil pemantauan citra satelit Sentinel-2 pada Januari 2019, fenomena dieback ini telah menghancurkan setidaknya 8,95 hektar area mangrove di Teluk Benoa dan berpotensi menyebar ke wilayah sekitarnya.

Melihat kondisi yang ada, diperlukan langkah nyata yang konkret untuk memperbaiki kondisi mangrove di Indonesia dan harus dilakukan secara bersama-sama baik oleh pihak pemerintah, swasta, dan lembaga swadaya. “Tema Hari Mangrove Sedunia 2019 yang bertemakan “mangrove for nation” sangat cocok dengan pendekatan program konservasi mangrove yang sedang dijalankan oleh banyak pihak di Indonesia. Kita ingin merestorasi dan mengembalikan fungsi mangrove yaitu untuk menjaga ekosistem, menjaga tatanan sosial masyarakat, dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar,” ujar Manajer Kelautan Yayasan KEHATI Basuki Rahmat.

Yayasan KEHATI melalui program kelautan memiliki fokus kegiatan rehabilitasi ekosistem hutan mangrove dengan tema merajut sabuk hijau pesisir Indonesia. Setahap demi tahap, KEHATI ingin kembali merajut luasan hutan mangrove yang dahulu pernah tumbuh subur sepanjang 95 ribu kilometer di pesisir pulau-pulau besar dan kecil.

Tambak Emas Pandansari

Desa Pandansari, Brebes, Jawa Tengah adalah contoh berhasil program konservasi melalui pendekatan ekologi, sosial, dan ekonomi yang dilakukan oleh KEHATI. Setelah hancur akibat pengalihan fungsi hutan mangrove menjadi tambak udang, pada tahun 2008, Yayasan KEHATI membantu masyarakat lokal melakukan rehabilitasi ekosistem mangrove dengan menanam 100.000 pohon di area seluas 5 hektar. Berkat kegigihan masyarakat lokal, jumlah pohon mangrove yang ditanam hingga tahun 2018 mencapai 3,5 juta batang dengan luasan area penanaman 210 hektar.

Keberhasilan program konservasi mangrove ini menjadikan Pandan Sari sebagai pusat pembelajaran mangrove nasional dengan motor penggeraknya adalah kelompok masyarakat ‘Mangrovesari’ yang dipimpin oleh Rusjan dan Mashadi. Rusjan mendapat penghargaan Perhutanan Sosial dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2015, sementara Mashadi mendapat penghargaan Kalpataru dari Presiden RI tahun 2016.

Desa Wisata Mangrove Pandansari kini ramai dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun nasional. Dengan jumlah kunjungan wisata rata-rata pertahun mencapai 120 ribu orang, ekowisata yang dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Mangrove Sari ini mampu menyumbangkan lebih dari satu miliar rupiah setahunnya. Berkat hutan mangrove, warga dukuh Pandasari mendapat berkah melimpah. Wisata mangrove mampu menyerap banyak tenaga kerja, mendorong tumbuhnya kios yang dikelola masyarakat, dan juga munculnya home stay untuk menampung wisawatan dari luar daerah. Juga ada wisata edukasi Sekolah Alam, pengolahan garam rebus, budidaya kepiting soka dan lainnya.

Selain wisata, oleh warga pohon mangrove itu juga dimanfaatkan untuk kebutuhan lain. Daunnya dimanfaatkan menjadi pewarna alami untuk batik, buahnya sebagai pangan lokal, untuk sirup, selai, dan lainnya. Hutan mangrove yang lebat itu kini telah mendongkrak ekonomi warga Pandasari.

Selain di Brebes, KEHATI melalui program Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Kalimantan juga melakukan konservasi hutan mangrove di Berau melalui Program Karbon Hutan Berau (PKHB) terkait perbaikan tata kelola mangrove. Selain itu,  TFCA Kalimantan di Berau terlibat pelestarian dan pemanfaatan hutan mangrove melalui pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) dari mangrove seperti sirup, selai, dodol, lulur, nugget, bakso mangrove, dll. Pengembangan desain ekowisata mangrove di tingkat tapak, pelatihan membatik mangrove, serta konservasi Bekantan di kawasan mangrove Delta Sungai Segah dengan pendekatan ekowisata bekantan pun dilakukan.

Mitra TFCA Kalimantan juga melakukan pengayaan 5.000 hutan mangrove di lahan seluas 12 Ha sekaligus melakukan kampanye pendidikan kepada anak-anak Sekolah Menengah Atas di Kalimantan Barat Kabupaten Kubu Raya.

“KEHATI akan terus mengajak seluruh pihak termasuk masyarakat, pihak swasta, dan generasi muda untuk terus bersama-sama merajut sabuk hijau pesisir melalui program kemitraan, penggalangan sumber daya secara berkelanjutan,” tutup Direktur Program Yayasan KEHATI Rony Megawanto.

  • Highlight
  • Memperingati Hari Mangrove Sedunia 2019 – Melalui Kolaborasi, KEHATI Ingin Merajut Sabuk Hijau Pesisir Indonesia
dukung kehati