Menjaga ‘Kepala Burung’ - KEHATI
Artikel

Menjaga ‘Kepala Burung’

01 November 2017

Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) di Papua Barat merupakan bentang alam laut dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Kawasan ini merupakan episentrum Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), yang menjadi rumah bagi 75 persen spesies terumbu karang dunia.

Bentang Alam Raja Ampat (Sumber Foto: indonesia.travel.com)
Bentang Alam Raja Ampat (Sumber Foto: indonesia.travel.com)

Kawasan ini membentang seluas lebih dari 22 juta hektar, yang meliputi: Teluk Cenderawasih, Kabupaten Raja Ampat, hingga perairan di wilayah Kabupaten Fakfak, dan Kaimana. Inilah pusat keanekaragaman hayati dunia. Tak hanya kaya, tapi juga dihiasi bentang elok, yang terkenal ke seluruh dunia.

Namun, BLKB menghadapi tekanan berupa eksploitasi terhadap sumber daya alamnya. Bentang ini terancam kehilangan spesies karismatik yang menjadi kekayaannya. Ancaman ini tidak hanya menjadi derita ekologi, namun juga derita bagi masyarakat yang mendiami kawasan ini, yang menggantungkan penghidupannya pada hasil perairannya.

Oleh karena itu, sebagai bagian dari upaya menyelamatkan BLKB, Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Provinsi Papua Barat, 12 Oktober 2017, di Manokwari, Papua Barat.

Kesepakatan kerja sama Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan dan Direktur Eksekutif KEHATI, MS Sembiring tentang upaya penyelamatan dan pelestarian keanekaragaman hayati di Kepala Burung (Dokumentasi: Yayasan KEHATI)
Kesepakatan kerja sama Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan dan Direktur Eksekutif KEHATI, MS Sembiring tentang upaya penyelamatan dan pelestarian keanekaragaman hayati di Kepala Burung (Dokumentasi: Yayasan KEHATI)

Melalui MoU yang ditandatangani oleh Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan dan Direktur Eksekutif KEHATI, MS Sembiring tersebut, KEHATI sebagai administrator Blue Abadi Fund (BAF), akan memberikan dukungan dana hibah kepada para mitra lokal yang bekerja di kawasan BLKB.

BAF merupakan program yang dibentuk oleh konsorsium pengelolaan kawasan BLKB sejak tahun 2001, yang terdiri atas oleh Conservation International (CI) Indonesia, The Nature Conservancy (TNC) dan WWF-Indonesia, yang membangun kerja sama dengan berbagai mitra lokal, pemerintah provinsi dan universitas. KEHATI kemudian disepakati sebagai administrator dan pengelola hibah dari konsorsium tersebut.

“Guna menjalankan perannya sebagai administrator BAF, KEHATI perlu membangun sebuah MoU dengan Pemprov Papua Barat. Nota Kesepahaman ini akan menjadi acuan bagi KEHATI dalam menjalankan misi mendampingi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam secara lestari di BLKB,” ujar Direktur Eksekutif KEHATI, MS Sembiring, Rabu (1/11).

Sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman ini, KEHATI akan mengadakan perjanjian hibah dengan mitra lokal yang nantinya bekerja di kawasan BLKB. Di antara calon mitra lokal tersebut adalah Yayasan Nazaret Papua, yang turut hadir dan secara simbolis menandatangani perjanjian hibah pertama dengan KEHATI di Manokwari, 12 Oktober 2017 lalu.

Dalam pidatonya di acara peringatan HUT ke-18 Provinsi Papua Barat, Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan menyebut nota kesepahaman dengan KEHATI sebagai kado istimewa bagi provinsi tersebut. Bahkan, MoU tersebut masuk ke dalam salah satu dari 10 poin penting peringatan HUT itu.

“Untuk menyelamatkan BLKB diperlukan kolaborasi berbagai pihak. Hal ini sejalan dengan Deklarasi Papua Barat sebagai provinsi konservasi yang kami luncurkan 19 Oktober  2015 lalu,” ujar Dominggus.

(Sumber Foto Cover: Youtube)

  • Artikel
  • Menjaga ‘Kepala Burung’
dukung kehati