Merawat Bumi dan Menuai Rezeki Lewat Bambu - KEHATI
Artikel

Merawat Bumi dan Menuai Rezeki Lewat Bambu

09 Juni 2017

Bambu merupakan tanaman yang memiliki manfaat sangat besar, baik secara ekologis, sosial, maupun ekonomi. Pada tahun 2016, komoditas ini menyumbang pendapatan ekspor senilai Rp 6 triliun, dan menempatkan Indonesia sebagai pengekspor bambu terbesar ketiga di dunia.

Potongan-potongan bambu hasil panenan di kebun bambu salah seorang mitra Yayasan KEHATI, beberapa waktu lalu. (Foto: Ali Hasan Safari/KEHATI)
Potongan-potongan bambu hasil panenan di kebun bambu salah seorang mitra Yayasan KEHATI, Sujatnika, di Cibinong, Kabupaten Bogor, beberapa waktu lalu. Selain memiliki potensi ekonomi yang tinggi, bambu juga memiliki fungsi ekologis yang sangat penting, terutama untuk menyimpan air tanah dan konservasi lahan kritis (Foto: Basuki Rahmad/KEHATI)

 

Manajer Program bidang  Ekosistem Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil pada Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), Basuki Rahmad, Kamis (8/6), mengatakan, secara ekologis, tanaman bambu sangat membantu dalam meningkatkan cadangan air bawah tanah. Pertumbuhannya sangat cepat, dan tak memerlukan perawatan khusus.  Keberadaannya berguna bagi usaha konservasi  lahan kritis dan daerah aliran sungai.

Di banyak tempat, keberadaan tanaman bambu cenderung diabaikan. Banyak warga yang memilih membabat rerumpunan bambu karena dianggap kurang berguna dan menakutkan. Situasi tersebut membuat tanaman bambu terancam mengalami kepunahan. Jika terus dibiarkan, maka akan mengganggu keseimbangan ekosistem.

“Hal tersebut tentu mengkhawatirkan. Untuk fungsi dan manfaatnya yang begitu besar, upaya penanaman dan budi daya bambu di negeri ini masih relatif kurang,” kata Basuki.

Oleh karena itu, sebagai lembaga yang mengemban visi pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan, dalam beberapa tahun terakhir Yayasan KEHATI memberi perhatian lebih pada konservasi tanaman bambu.

Salah satu upaya yang telah dijalankan adalah penanaman pohon bambu di sejumlah provinsi, di antaranya di Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Program pelestarian bambu ini telah dijalankan sejak  tahun 2009.

Dalam waktu dekat, KEHATI akan kembali melakukan penanaman bambu di provinsi-provinsi tersebut melalui kerjasama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Syariah. Kerjasama tersebut didahului dengan upaya pengumpulan dana melalui crowd funding dari nasabah-nasabah BRI Syariah yang terpanggil untuk peduli dan tergerak  dalam upaya konservasi tanaman bambu.

“Kami selalu terbuka untuk bekerja sama dengan semua pihak.  Pelestarian lingkungan adalah tugas bersama. Dan kami yakin, sebenarnya banyak warga masyarakat dan korporasi ataupun pelaku bisnis yang sesungguhnya memiliki keinginan untuk terlibat dalam kegiatan seperti ini,” ujar Basuki

 BRIS Menanam

Pada bulan ini, BRI Syariah meluncurkan program BRIS Menanam untuk Sedekah Bumi Indonesia. Dalam program tersebut, BRI Syariah bekerja sama dengan Yayasan KEHATI.

Direktur Utama BRI Syariah Moch Hadi Santoso mengatakan, program BRIS Menanam untuk Sedekah Bumi Indonesia merupakan program untuk memfasilitasi keinginan nasabah dan keluarga besar BRI Syariah untuk menghijaukan bumi Indonesia. Program inipun menjadi bagian dari bentuk tanggung jawab sosial perusahaan.

BRI Syariah bekerjasama dengan Yayasan KEHATI meluncurkan program BRIS Menanam untuk Hijaukan Indonesia, Jakarta, 9 Juni 2017. (Mohamad Burhanudin/KEHATI)
BRI Syariah bekerjasama dengan Yayasan KEHATI meluncurkan program BRIS Menanam untuk Hijaukan Indonesia, Jakarta, 9 Juni 2017. (Mohamad Burhanudin/KEHATI)

“Kami memfasilitasi dengan menyediakan nomor rekening khusus BRIS Menanam, yaitu 2200.88.88.88.88.88 yang bisa diakses di seluruh ATM, mobile banking dan internet banking BRISyariah. Nasabah dapat mentransfer berapapun untuk berpartisipasi dalam sedekah bumi ini,” ujarnya, Kamis (8/6).

Pascapanen

Lebih jauh, Basuki mengatakan, Program pelestarian bambu ini sebagai salah satu bentuk program penghijauan, tak berhenti pada penanaman saja, tapi juga meliputi kegiatan pascapanen, seperti pelatihan budidaya, pemberdayaan petani bambu, peningkatan kapasitas, dan pengolahan bambu. Hal ini seperti yang selama ini telah dijalankan KEHATI dalam  kegiatan-kegiatan pelestarian terdahulu.

Beberapa kegiatan pelestarian bambu yang telah dilakukan KEHATI di antaranya penanaman bambu di kawasan Gunung Masigit, Bandung Barat, Sumedang, Indramayu,  Museum Gunung Merapi (yang totalnya mencapai 10.500 bibit), lalu Daerah Aliran Sungai Pesanggarahan, Cisadane, dan Ciliwung  (yang totalnya sebanyak 5.500 bibit).

KEHATI sebelumnya juga telah mengadakan kegiatan penanaman di tiga desa adat di Bali, yaitu  Desa Renon, Hutan Selat dan Pupuan, Tabanan dan Gianyar, dengan jumlah total  sebanyak 7.500 bibit. Di Pulau Flores, KEHATI mendukung penanaman bambu di sekitar DAS dan mata air di Manggarai Barat, Manggarai, Ende, dan Flores Timur, yang masing-masing kawasan sebanyak 1.500 bibit.

Pada kurun waktu 2012-2014, melalui skema kerjasama dengan salah satu korporasi, telah dilestarikan lebih dari lima jenis bambu dengan jumlah sekitar 13.000 pohon yang tersebar di Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Bali.

Rerumpunan Bambu di tepi hulu Sungai Ciliwung, Bogor. Selain bermanfaat secara sosial dan ekonomi, bambu bermanfaat sebagai tanaman untuk konservasi lingkungan. (Ali Hasan Safari/KEHATI)
Rerumpunan Bambu di tepi hulu Sungai Ciliwung, Bogor. Selain bermanfaat secara sosial dan ekonomi, bambu bermanfaat sebagai tanaman untuk konservasi lingkungan. (Basuki Rahmad/KEHATI)

Indonesia merupakan rumah bagi 160 spesies bambu dari 1.200 – 1.400 species yang ada di Dunia, dimana 88 diantaranya adalah spesies  khas yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia.  Spesies khas itu tak tumbuh di negara lain.

Dari aspek sosial budaya, masyarakat Indonesia mengenal bambu sebagai bagian dari kehidupan mereka dari lahir sampai mati. Bambu juga menjadi salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat. Aneka produk yang dihasilkan bambu sangat beragam.

Batang bambu dapat dijual gelondongan atau diolah menjadi aneka produk alat rumah tangga, hiasan, bangunan, mebeler, alat musik, floring, tusuk gigi, sate, dupa, dan lain sebagainya. Sementara, akar bambu dimanfaatkan untuk aneka hiasan, sedangkan tunas bambu muda dimanfaatkan untuk rebung.

“Bambu merupakan sumberdaya keanekaragaman hayati yang dicanangkan pemerintah untuk dilestarikan dan dimanfaatkan seoptimal mungkin bagi kemakmuran rakyat, serta menjadi salah komoditas ungggulan Indonesia,” tandas Basuki.

  • Artikel
  • Merawat Bumi dan Menuai Rezeki Lewat Bambu
dukung kehati