Menjaga Miniatur Nusantara - KEHATI
Artikel

Menjaga Miniatur Nusantara

17 November 2017

 

Seperti halnya wujud bentang Indonesia, Kepulauan Sangihe juga merupakan sebuah gugusan ekosistem yang lengkap, elok, dan beragam. Segalanya ada di sana. Mulai dari pesisir pantai berpasir putih, pantai dengan tutupan hutan mangrove, sungai, lahan pertanian dan kebun yang subur, lebatnya hutan hujan tropis, hingga gunung berapi yang menjulang tinggi.

Salah satu bentang pantai pasir putih di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.
Salah satu bentang pantai pasir putih di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Inilah salah satu kepulauan terluar di Indonesia yang barangkali paling layak disebut versi mini Nusantara. Permadani perairan mengelilinginya. Pulau-pulau mengambang di antara lautan berwarna hijau tosca, dengan kombinasi biru safir tembus pandang seperti kaca.

Seperti Indonesia pula, Sangihe kaya akan sumber alam, mulai dari laut hingga darat. Selain berbagai jenis ikan besar seperti tuna, bunga karang, beragam ikan hias, dan makhluk laut lain dengan bentuk dan rupa eksotik, melimpah di sana.

Di darat, pulau-pulau di Sangihe kaya akan hasil bumi dari beragam jenis pohon yang tumbuh subur, antara lain: rempah (buah pala dan bunga cengkeh), kelapa, sagu, serta beberapa buah-buah lokal (langsat, durian, manggis, nangka, pisang). Pala dan cengkeh adalah jenis rempah yang menjadi komoditas perniagaan dunia, dan daya tarik utama bagi datangnya sejumlah bangsa— terutama Portugal, Belanda, dan Inggris—ke Nusantara.

Namun, sebagaimana banyak dihadapi oleh daerah-daerah kaya lainnya di Indonesia, Kepulauan Sangihe juga menghadapi tantangan yang tak mudah untuk menjaga kelestarian alam dan segala potensinya itu. Tantangan tersebut justru berasal dari sumber kekayaannya yang lain: tambang emas dan pasir besi.

Sejak ditemukan beberapa tahun silam, aktivitas eksplorasi dan eksploitasi tambang emas di Kecamatan Tabukan Selatan (Desa Ojumahe) dan Manginitu Selatan (Desa Pintareng), pun berlangsung. Namun yang memiliki izin hanya tiga pihak, belasan hingga puluhan lainnya diduga tak berizin, dengan luas hingga 7.000 hektar.

Tambang mineral kerap menjadi kutukan di negara-negara berkembang, ataupun di daerah-daerah di mana kualitas sumber daya manusianya masih terbatas. Alih-alih menghadirkan kesejahteraan, eksploitasi tambang besar-besaran kerap menghadirkan bencana alam, bahkan konflik sosial.

Hutan, lahan pertanian, dan pesisir yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat akan hancur dan tidak dapat dikembangkan selama ratusan tahun ke depan. Artinya, setelah operasi penambangan emas selesai (setelah perusahaan selesai mengeruk emas dan pergi) maka masyarakat Sangihe akan terancam krisis sumber kehidupan yang berpadu dengan potensi kontaminasi racun limbah pada tubuh manusia Sangihe.

Tantangan lainnya adalah fakta bawah segala kekayaan yang dimiliki oleh Sangihe sebagian besar masih berupa potensi. Pengelolaan potensi secara baik dalam hal ini sangat diharapkan, tak semata demi mengeruk keuntungan ekonomis, tapi juga mengedepankan aspek kelestarian keanekaragaman hayati dari tiap ekosistem di kepulauan tersebut yang begitu beragam.

Maka, mengajak masyarakat untuk menjaga kelestarian sumber nafkah dari pepohonan secara organik yang berkelanjutan menjadi jauh bernilai dan bijaksana ketimbang memburu rezeki yang sifatnya sesaat, misalnya menambang emas dengan menghancurkan lingkungan sekitarnya.

Membuat model pengelolaan kekayaan alam Sangihe secara lestari atau berkelanjutan inilah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Sangihe bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI). Kerja sama yang telah dijalin sejak tahun 2009 tersebut, pada dasarnya berisi upaya untuk menciptakan kesadaran masyarakat Sangihe akan potensi alam di daerahnya, baik ekosistem laut dan pesisir, ekosistem pertanian (kebun milik rakyat), maupun ekosistem hutan.

Kesadaran masyarakat perlu ditumbuhkan agar dalam memanfaatkan seluruh hasil alam mereka tetap memperhatikan kelangsungan jangka panjangnya. Kerja sama tersebut nantinya diharapkan akan menghasilkan pengetahuan dan praktik yang dapat menjadi model untuk membangun wilayah lain di Indonesia.

Screenshot 2017-11-17 15.25.13

Kabupaten Organik

Sebagai wilayah yang dihuni gunung-gunung berapi, Kepulauan Sangihe memiliki tanah yang subur sebagai dampak dari debu letusan vulkanik.

“Kesuburan tanah tersebut memungkinkan wilayah ini tumbuh sebagai salah satu lumbung bagi sejumlah komoditas perkebunan nasional, terutama pala, kelapa, dan sagu,” kata Manajer Program Ekosistem Pertanian Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) Puji Sumedi, Jumat (17/11).

Tidak hanya menyuburkan, debu vulkanik dari gunung berapi di Sangihe juga membuat para petani tak lagi harus menggunakan pupuk kimia buatan pabrik untuk menumbuhkan dan menyuburkan berbagai tanaman pertanian maupun perkebunan. Dengan tanah yang kaya akan mineral serta hara, seluruh proses produksi pertanian dan perkebunan di Sangihe sudah mencukupi syarat organik.

Maka, bukan hal yang berlebihan jika pada Kamis, 16 November 2017, Bupati Sangihe Jabes Gaghana, mendeklarasikan wilayahnya sebagai kabupaten organik. Deklarasi tersebut dilaksanakan bersama sejumlah perwakilan lembaga yang selama ini turut mengupayakan program organik di kabupaten ini, yaitu: Yayasan KEHATI, Burung Indonesia, YAPEKA, SAMPIRI, dan Ford Foundation.

Inilah kabupaten pertama di Indonesia yang menyebut diri sebagai kabupaten organik. Meski diakui oleh Jabes, untuk mewujudkan diri sebagai kabupaten organik sepenuhnya masih memerlukan waktu dua tahun. Oleh karena itu, dia berharap, KEHATI terus memberikan dukungan kepada petani di Kabupaten Sangihe guna mewujudkan status sebagai kabupaten organik.

Upaya Sangihe untuk tumbuh sebagai kabupaten organik sudah diretas sejak lama. Sebagai bagian dari upaya tersebut, sejak tahun 2009, pemkab wilayah ini menjalin kerja sama dengan KEHATI, dengan menempatkan pertanian organik sebagai perhatian utama. Kerja sama tersebut diarahkan pada upaya mendorong produk-produk pertanian dan perkebunan tersebut ke pasar ekspor, termasuk ke ceruk pasar khusus.

“Dengan mengembangkan pertanian organik, komoditas pertanian di Sangihe memiliki potensi dan peluang besar untuk masuk ke pasar internasional dan ceruk pasar khusus, yaitu pasar produk organik,” ujar Puji.

Upaya tersebut diawali dengan memfasilitasi sekitar 300 anggota masyarakat untuk berhimpun dalam organisasi berbentuk koperasi. Mereka tergabung dalam kelompok swadaya masyarakat Asosiasi Petani Organik (APO)-Komunitas Masyarakat Sangihe Mandiri (Komasa).

KEHATI kemudian memfasilitasi APO-Komasa mendapatkan sertifikasi organik dari International for Marketecology (IMO), lembaga sertifikator produk organik untuk pasar Eropa. Komoditas perkebunan di Sangihe yang telah mendapatkan sertifikasi IMO antara lain, pala, sagu, dan kelapa. Sertifikasi ini meliputi delapan kampung yang beranggotakan sekitar 300 petani di Sangihe, dengan hasil panen mencapai kurang lebih 500 ton per tahun.

Dengan sertifikasi ini, komoditas perkebunan dari Sangihe memiliki lisensi organik untuk bisa masuk ke pasar Eropa. Langkah ini merupakan bagian dari upaya KEHATI mengawal Pemkab Kepulauan Sangihe menjadi kabupaten organik.

Pala merupakan andalan atau primadona bagi Indonesia, yang menguasai 80 persen pasar pala dunia. Dari seluruh produk pala nasional, Sulut— terutama dari ratusan pulau yang tersebar di tiga kabupaten kepulauan Sangihe, Sitaro, dan Talaud— menyumbang 85 persen.

Screenshot 2017-11-17 15.27.43

Dari seluruh hasil pertanian dan perkebunan, pala kini menjadi komoditas yang memberikan hasil ekonomis paling besar bagi masyarakat Sangihe, menggusur cengkeh dan kelapa. Pala pun menjadi primadona, seperti halnya 400 tahun silam saat bangsa-bangsa Eropa datang berburu rempah-rempah ke Nusantara.

Sertifikasi IMO juga merupakan bagian dari upaya mengangkat kembali pala Sangihe ke pasar internasional. Kualitas pala Sangihe yang dipastikan organik menjadi nilai plus bagi produk ini untuk hadir di pasar khusus dengan harga yang lebih mahal. Petani-petani mulai menyadari peluang besar tersebut, sehingga mereka terdorong untuk secara konsisten menghindari pupuk dan pestisida kimiawi.

Dengan cara itu, lingkungan mereka terjaga, ekspor pala meningkat, dan warga pun lebih sejahtera. Pada masa datang, jumlah petani yang mendapatkan sertifikasi diupayakan terus bertambah.

Screenshot 2017-11-17 15.26.30

Pala kini menjadi komoditas pertanian yang paling diminati warga Sangihe sebagai sumber mata pencaharian. Hal ini karena komoditas ini berbuah tanpa mengenal musim. Dalam setahun, buah pala dapat dipanen tiga kali. Sementara, cengkeh hanya dapat dipanen sekali dalam empat tahun.

Di samping sertifikasi, KEHATI juga memfasilitasi pemasaran komoditas yang diproduksi di Sangihe ke pasar lokal, Jawa, dan luar negeri. Beberapa pembeli potensial komoditas yang berkomitmen untuk membeli produk masyarakat Sangihe di antaranya, PT Alliet Green dan PT Kearifan Lokal Indonesia Eksportir.

Ikan dan sagu

Komoditas perikanan tidak bisa dilepaskan sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi di kabupaten ini. Dengan wilayah yang sekitar 94 persen berupa perairan, Sangihe memiliki potensi yang sangat besar di sektor ini.

Manajer Program Pesisir dan Pulau Kecil KEHATI, Basuki Rahmad, mengungkapkan, potensi lestari sumber daya kelautan dan perikanan Sangihe mencapai 34.000 ton per tahun. Namun, dari potensi tersebut, baru sekitar 14 persen yang dapat dimanfaatkan. Nelayan Sangihe menghasilkan berbagai jenis ikan hasil tangkapan, antara lain: ikan tuna, cakalang, ikan terbang, layang, kakap, kerapu, dan hiu.

Screenshot 2017-11-17 15.30.34

Laut di utara Sulawesi merupakan laut dalam, pintu masuk menuju Samudra Pasifik di arah timur laut. Itulah mengapa lautan di sekitar Sangihe kaya akan berbagai jenis ikan, termasuk ikan tuna yang menjadi primadona dalam komoditas ikan dunia.

“Potensi ini yang belum banyak dimanfaatkan oleh nelayan lokal. Karena, selama ini penangkapan lebih banyak dilakukan nelayan luar,” kata Basuki.

Menurut Basuki, upaya pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mengembangkan pusat produksi perikanan di Sangihe sejak 2016 layak didukung. Namun, langkah tersebut harus dirangkai dengan dengan upaya pengembangan produk olahan hasil laut dan teknologi budi daya laut untuk diversifikasi usaha nelayan. Melalui kegiatan ini, hasil perikanan dari kepulauan tersebut akan memiliki nilai tambah sehingga dapat memberikan hasil ekonomi yang lebih baik warga setempat. Tanpa pengembangan produk olahan, sektor perikanan di kepulauan ini tak akan ke mana-mana.

Selain memberi perhatian pada pengembangan produk olahan hasil laut, hal yang krusial berikutnya adalah konservasi kawasan mangrove di Kepulauan Sangihe. Kepulauan ini memiliki bentang mangrove yang panjang dan signifikan fungsinya bagi ekosistem pesisir, termasuk bagi ketahanan lingkungan Sangihe.

Selain rempah-rempah, kelapa, ikan, dan sagu adalah potensi lain yang sangat vital bagi masa depan kemandirian pangan Sangihe. Secara turun-temurun, sagu merupakan makanan pokok masyarakat Sangihe. Tanaman ini tumbuh subur dan bertebaran di hampir seluruh wilayah Sangihe.

Bubur Sagu
Bubur Sagu

Namun, sedikit demi sedikit, peran sagu mulai tergeser oleh beras sebagai makanan pokok. Luasan tanaman sagu dari waktu ke waktu menurun. Dinas Pertanian Kabupaten Kepulauan Sangihe mencatat, pada tahun 2001 pohon sagu tumbuh pada lahan 3.042 hektar, dengan luas panen sekitar 2.985 hektar, dengan produki 14.957 ton. Pada tahun 2010, luas areal tanaman sagu secara tinggal 398,5 hektar, dengan produksi 713,14 ton, tersebar di 15 kecamatan.

Oleh karena itu, pemerintah setempat harus mengangkat kembali sagu sebagai bakanan pokok. Dengan produksi yang mencukupi, sagu akan dapat kembali hadir sebagai sebagai bahan makanan pokok. Terlebih, jika konsep organik juga secara konsisten diterapkan untuk komoditas ini. Dengan upaya itu, peluang ekspor untuk produk khas tersebut menjadi terbuka.

Khusus untuk pengembangan sagu, kerja sama antara Pemkab Kepulauan Sangihe dan KEHATI diimplementasikan melalui sejumlah kegiatan, di antaranya membentuk kelompok masyarakat untuk menekuni dan mengembangkan varian makanan dari bahan sagu sebagai kegiatan sosial dan bisnis.

Sagu berpotensi besar sebagai penopang ketahanan pangan Sangihe. Sebagai wilayah kepulauan, Sangihe sangat mengandalkan transportasi laut dan udara yang rentan dengan perubahan cuaca. Padahal, sebagai dampak dari perubahan iklim, cuaca sering kurang bersahabat dan tak terprediksi. Dengan kembali kepada sagu, warga Sangihe tak perlu khawatir dengan ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim.

Di samping itu, keberadaan sagu sebagai vegetasi asli sangat penting artinya bagi keseimbangan ekosistem di kepulauan tersebut. Dengan demikian, kembali ke sagu juga bermakna pelestarian keanekaragaman hayati di Sangihe.

Screenshot 2017-11-17 15.29.56

Mengembalikan kejayaan sagu, memacu potensi sektor pertanian berbasis organik, serta mendorong tumbuhnya sektor perikanan, menjadi pertaruhan penting sekaligus menentukan bagi masa depan Sangihe.

Hanya dengan cara itu, masyarakat dan pemangku kepentingan tak lagi tergoda mengeksploitasi tambang di perut bumi kepulauan tersebut, terutama emas. Barangkali, inilah cara terbaik untuk mencegah bunuh diri ekologi di kepulauan yang kaya potensi ini.

(Mohamad Burhanudin, Manajer Komunikasi KEHATI)

 

 

 

 

 

  • Artikel
  • Menjaga Miniatur Nusantara
dukung kehati