Reaktor Gasbio Pertama di Sumba
Sumba identik dengan kuda, sapi ataupun kerbau. Ternak bagi masyarakat Sumba memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Bagi para bangsawan Sumba, ternak merupakan simbol status kebangsawanan itu sendiri. Biasanya mereka memiliki ternak mencapai ratusan bahkan ribuan ekor. Namun demikian, persoalan memelihara ternak bagi orang Sumba, merupakan persoalan yang tidak mudah. Model beternak di Sumba dikenal dengan sebutan ternak lepas. Ternak dilepas bebas sehingga terkadang menimbulkan permasalahan bagi para petani atau pekebun. Tradisi memelihara ternak lepas ini telah berlangsung sejak dahulu dan turun temurun.
Seiring bertambahnya populasi penduduk, menciutnya areal padang rumput penggembalaan karena faktor musim, kebakaran padang rumput atau karena sengaja dibakar, serangan invasive species semak seperti Chromolena odorata dan batas-batas Tanam Nasional yang ditetapkan kemudian, ternak semakin sulit mendapat rumput yang berkualitas. Kualitas ternak pun merosot.
Pendampingan program di kawasan Sumba Timur khususnya di Kecamatan Karera oleh Yayasan Alam Lestari yang didukung KEHATI, berhasil mengajak masyarakat mendiskusikan berbagai alternatif pemecahan masalah. Diawali dengan gagasan mengandangkan ternak lebih intensif, menyediakan rumput pakan ternak yang ditanam di sekitar rumah telah menjadi bahan diskusi diantara warga. Maklum tak semua warga mempunyai ternak, dan biasanya lahan pertanian mereka mendapat ganguan ternak yang kurang pakan. Diskusi ini melahirkan beberapa kesepakatan agar pada keluarga bangsawan yang memiliki banyak ternak mau menjaga ternaknya, dan petani memagari kebun dan pekarangan sayurnya. Tapi upaya itu sulit dilakukan karena tradisi pengembalaan lepas sudah menjadi budaya.
Gagasan pengelolaan ternak semi intensif yang diusulkan Dr. Prijo Soetedjo sambil memperkenalkan budidaya rumput pakan ternak [baik lokal maupun introduce] dilakukan oleh sebagian masyarakat saja. Padahal kotoran ternak dapat menyuburkan lahan dalam sistem kandang rotasi itu. Saat krisis energi datang masyarakat Karera juga terkena imbasnya. Minyak tanah dan solar sulit dan mahal di dapat dari kota yang berjarak 30 -an kilometer itu. Momen itu digunakan untuk mefasilitasi, masyarakat kecamatan Karera studi banding ke Boyolali Jawa Tengah untuk melihat pemanfaatan kotoran sapi dalam reaktor gasbio mampu menghasilkan gas untuk keperluan dapur dan penerangan. Gagasan sistem kelola ternak semi intensif pun kembali dianjurkan. Dengan bantuan fasilitasi membangun reaktor gasbio dan mendatangkan ahlinya, masyarakat diajak belajar bersama membangun reaktor itu.
Sementara salah seorang warga yang mampu membangun kandang permanen secara swadaya. Saat ini di kecamatan Karera sudah dibangun 1 unit lagu reaktor Gas Bio hasil karya putra daerah. Dengan dua Reaktor Gas Bio ini setidaknya pengelolaan ternak dapat memberi waktu "recovery" pada padang rumput dan juga mengurangi penggunaan kayu kabar yang diambil dari hutan. Bonusnya ampas kotoran ternak yang disebut slury merupakan bahan organik/pupuk hijau bagi kebun sayur mereka. Cerita lengkap dapat dilihat dan di klik langsung pada lampiran dibawah ini.








