Pesona Tenun Ikat Dayak Iban - KEHATI
Siaran Pers

Pesona Tenun Ikat Dayak Iban

30 Oktober 2017

Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (Asppuk) mengikutsertakan tenun ikat Dayak Iban berperwarna alam, di Jakarta Fashion Week 2017. Mereka tampil pada Jumat (27/10) lalu.

Dengan keikutsertaan kain ini, diharapkan dapat memperkenalkan tenun tradisi Dayak Iban kepada khalayak luas, baik di dalam maupun luar negeri, sekaligus sebagai ajang promosi produk usaha kecil warga Dayak Iban itu.

Asppuk merupakan lembaga yang menjadi mitra Tropical Forest Conservation Action (TFCA) for Kalimantan Yayasan KEHATI, untuk proyek pendampingan warga Dayak Iban di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, dalam pengembangan dan pemanfaatan pewarna alam untuk tenun ikat Dayak Iban.

Ada lima desa dampingan TFCA Kalimantan KEHATI dalam program ini, yakni Desa Lanjak, Deras, Mansiau, Sungai Abau, dan Labiyan (Keempatnya di Kecamatan Batang Lumpar), serta Desa Manua Sadap di Kecamatan Embaloh Hulu.

Direktur Asppuk, Mia Ariyana, mengatakan, tenun ikat Dayak Iban berperwarna alam lebih dari sekedar komoditas usaha kecil rakyat bernilai ekonomi. Bagi warga Dayak Iban, tenun ikat ini juga merupakan symbol ekspresi dan ritual budaya yang diwariskan turun temurun.

Oleh karena itu, melalui ajang Jakarta Fashion Week 2007 ini. Kami berharap khalayak luas akan semakin tahu, untuk kemudian memberikan apresiasi lebih terhadap tenun Dayak Iban ini, “kata Mia.

Dayak Iban sendiri merupakan satu diantara sub-suku Dayak di Pulau Kalimantan, yang umumnya mendiami wilayah hulu Sungai Kapus di Kalimantan Barat hingga Kuching, Malaysia.

Tenun Dayak Iban menjadi salah satu pakaian mewah yang biasa dipakai pada upacara-upacara kebesaran. Motifnya cenderung asimetris.

Beberapa motif klasik dari kain tenun ini memiliki nilai filosofis yang bernuansa religius-magis bagi warga Dayak Iban. Hal tersebut  yang menjadikan tenun Dayak Iban memiliki nilai yang tinggi, di samping penggunaan pewarna alaminya.

Kain-kain ini disulap oleh desiner Yurita puji dan Mandhari menjadi pakaian-pakaian yang fashionable serta ngikutin tren. Contohnya ada celana, atasan, dan lainnya.

Dengan dijadikannya kain-kain ini menjadi pakaian ready to wear, membuat pesonanya semakin tampak. Apalagi kain ini merupakan kain daerah yang patut di lestarikan.

Kita harusnya turut bangga karena kain-kain indah ini merupakan kekayaan daerah dan bangsa yang patut dilestarikan. (tya)

Artikel ini dimuat di Koran Tribun Pontianak, Edisi Minggu, 29 Oktober 2017 Rubrik Fashion.

dukung kehati