Ekosistem Pertanian - KEHATI

Ekosistem Pertanian

Ekosistem pertanian merupakan faktor penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan (karbohidrat, protein, buah, sayuran, vitamin), sumber obat-obatan atau penghasil tumbuhan bernilai ekonomis penting lainnya (seperti bahan serat, pewarna, minyak dan lainnya). Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman dunia untuk beberapa rumpun tanaman, seperti tanaman buah dan obat-oabatan.

Keanekaragaman tumbuhan, keberadaan invertebrata dan serangga serta mikroba merupakan satu kesatuan dalam ekosistem pertanian yang akan menentukan tingkat produktivitas pertanian. Jasa-jasa ekologis yang diemban oleh keanekaragaman hayati pertanian memiliki arti sangat penting bagi pertanian berkelanjutan. Yang termasuk di antara jasa-jasa tersebut adalah antara lain jasa penyerbukan, jasa penguraian dan jasa pengendali biologis untuk menekan hama dan penyakit.

Sebagai sumber pangan, pertanian menjadi kunci utama penopang pemenuhan pangan penduduk Indonesia yang jumlahnya sekitar 251 juta di tahun 2013. Diperkirakan, jumlah tersebut akan terus meningkat sampai dengan 298,5 juta jiwa di tahun 2025. Salah satu implikasinya adalah kebutuhan pangan penduduk Indonesia akan terus meningkat seiring dengan laju jumlah penduduk.

Di sisi lain, kondisi ekosistem pertanian semakin rentan dengan beragam ancaman seperti peningkatan jumlah penduduk, alih fungsi lahan dan perubahan iklim. Pola pergantian musim kering dan hujan yang berubah secara ekstrem mengancam proses produksi pertanian dan ketahanan pangan nasional.

Keterancaman kerusakan pada lahan pertanian terutama juga disebabkan oleh model pengelolaan lahan pertanian yang tidak berkelanjutan. Untuk mendorong produksi pertanian, input intensif mulai dari benih, pupuk, pestisida, herbisida didayagunakan sehingga menyebabkan ketergantungan, pencemaran, kerusakan dan ketidakseimbangan ekosistem pertanian. Di samping itu lahan pertanian juga merambah pada daerah kawasan yang menjadi daerah tangkapan air.

Mendukung pelestarian pada ekosistem pertanian berarti juga mendukung kebiasaan, pengetahuan maupun praktek-praktek masyarakat, bahkan habitat khusus yang sejatinya mendukung ketahanan pangan dan pendapatan masyarakat, yang akan segera hilang apabila tidak dilestarikan.

Masyarakat Indonesia memiliki berbagai pilihan sumber karbohidrat, seperti sagu (Papua dan Maluku), umbi-umbian (Papua dan Jawa), gebang, borassus palm, sorgum (NTT), sukun dan lainnya. Demikian pula, berbagai jenis/tipe ekosistem pertanian perlu dijaga, misalnya : sawah, ladang, pekarangan, ekosistem lahan sagu, ekosistem lahan kering, ekosistem hutan wana tani. Ini merupakan jenis ekosistem pertanian yang perlu didukung, karena menyangga kebutuhan masyarakat akan hasil pertanian maupun menyangga pendapatan dan kehidupannya.

Fokus program pada ekosistem pertanian adalah:

  1. Pengamanan cadangan pangan, dengan program utama meliputi:
    • Pemanfaatan keanekaragaman hayati sumber pangan lokal dan penguatan posisi tawarnya promosi konsumsi pangan lokal.
    • Pemanfaatan keanekaragaman hayati lokal/biomassa sebagai energi alternatif.
    • Pemanfaatan keanekaragaman hayati lokal bahan baku obat untuk kesehatan masyarakat.
    • Pelestarian kawasan daerah tangkapan air, aliran sungai dan pengembangan embung-embung untuk ketersediaan air masyarakat.
  2. Pengembangan kawasan pertanian berkelanjutan, dengan program utama meliputi:
    • Pengembangan dan peningkatan nilai tambah sumber pangan lokal.
    • Pengembangan energi alternatif dengan memanfaatkan jasa lingkungan.
    • Pengembangan keanekaragaman hayati lokal untuk kesehatan dan perbaikan gizi keluarga.
    • Peningkatan kualitas daerah tangkapan air dan penyediaan serta pemanfaatan air bersih melalui pengelolaan air permukaan.

dukung kehati