Home
 | 

Primary links

  • Tentang KEHATI
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi dan Nilai Organisasi
    • Dewan Pengurus dan Manajemen
    • Bahan Publikasi
      • Profil KEHATI
      • RENSTRA
      • Laporan Tahunan
      • SRI-KEHATI
  • Lingkup Kerja
    • Area Intervensi KEHATI
    • Sasaran Strategis
    • Pola Pendekatan
  • Dana Hibah
    • Mekanisme Dana Hibah
    • Dokumen Pengajuan
    • Data Hibah 2006
    • Data Hibah 2007
  • Sumberdaya
    • Mobilisasi Dana
    • Komunikasi & Edukasi
  • Link
    • Mitra KEHATI
    • Organisasi Pemerintah
    • Organisasi Non Pemerintah
    • Organisasi Internasional
    • Organisasi Lain
  • Kontak
Home

Masyarakat Arfak dan Konsep Konservasi: Igya Ser Hanjop

Submitted by kehati on Fri, 10/26/2007 - 19:43
  • Publication

Tingkat eksploitasi terhadap sumber daya alam, khususnya hutan, nampaknya paralel dengan pertumbuhan kapital (isme), karena sumber daya alam menjadi salah satu pemasok utama bagi kepentingan bahan baku industri.

Pengelolaan sumberdaya alam secara arif sebetulnya sudah sejak beratus-ratus tahun lalu dilakukan oleh masyarakat di sekitar hutan. Bentuk pengelolaan tersebut misalnya dengan mbabukan atau mengeramatkan flora-fauna dan tempat atau dengan adanya konsep pengambilan hasil hutan hanya secukupnya saja untuk memenuhi kebutuhan subsisten. Masyarakat disekitar hutan tidak mengenal istilah-istilah pelestarian alam seperti konservasi, cagar alam, tanam nasional atau bahasa-bahasa modern lainnya, namun mereka memiliki pengalaman dan praktek yang secara ekologi melindungi alam.

Tingkat eksploitasi terhadap sumber daya alam, khususnya hutan, nampaknya paralel dengan pertumbuhan kapital (isme), karena sumber daya alam menjadi salah satu pemasok utama bagi kepentingan bahan baku industri.

Pengelolaan sumberdaya alam secara arif sebetulnya sudah sejak beratus-ratus tahun lalu dilakukan oleh masyarakat di sekitar hutan. Bentuk pengelolaan tersebut misalnya dengan mbabukan atau mengeramatkan flora-fauna dan tempat atau dengan adanya konsep pengambilan hasil hutan hanya secukupnya saja untuk memenuhi kebutuhan subsisten. Masyarakat disekitar hutan tidak mengenal istilah-istilah pelestarian alam seperti konservasi, cagar alam, tanam nasional atau bahasa-bahasa modern lainnya, namun mereka memiliki pengalaman dan praktek yang secara ekologi melindungi alam.
Tulisan ini merupakan laporan penelitian yang dilakukan di lima desa di daerah pegunungan Arfak, Irian Jaya. Laporan ini adalah bentuk tettulis dari temauan lapangan yang dilakukan selama 20 hari di lapangan. Penetlian ini ditujukan untuk mengkaji persoalan pengeloalan hutan dikawasan Pegunungan Arfak.

Info buku:

Penyusun: P.M. Laksono, Almira Rianty, Aprilia Budi Hendrijani, Gunawan,
Adolof Mandacan, Nelson Mansoara
Penerbit KEHATI, PSAP-UGM, YBLBC
Terbitan Yogyakarta, 2001

 

Navigation

  • Recent posts

Flora Kita
TGG
MFP

RENSTRA 2008-2012

Archieves

News Reference Publication Partners

KEHATI Profile

Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Yayasan KEHATI) - The Indonesian Biodiversity Foundation
Copyright @ 1994-2009 - All right reserved