Riki Frindos, Direktur Eksekutif KEHATI yang Baru - KEHATI
Artikel

Riki Frindos, Direktur Eksekutif KEHATI yang Baru

10 April 2018

Riki Frindos secara resmi ditunjuk sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) periode 2018-2022. Pria berusia 45 tahun yang memiliki karir cukup panjang di bidang investasi dan keuangan tersebut menggantikan M.S. Sembiring, yang berhasil memimpin lembaga ini selama delapan tahun menjadi sebagai conservation trust fund (CTF) terdepan di Indonesia, dengan pengelolaan dana hibah lebih dari USD 175 juta atau Rp 2,4 triliun dalam delapan tahun terakhir ini.

Ketua Dewan Pembina Yayasan KEHATI Ismid Hadad (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)

Ketua Dewan Pembina Yayasan KEHATI Ismid Hadad, mengatakan, berakhirnya masa jabatan M.S. Sembiring menandai 25 tahun kiprah KEHATI dalam mengemban mandat sebagai lembaga pengelola dana hibah untuk pelestarian keanekaragamanan hayati di Indonesia. Melalui pergantian ini, keberhasilan yang dicapai pada masa kepemimpinan sebelumnya diharapkan terus berlanjut, khususnya di tengah tantangan yang semakin berat dan kompleks di sektor konservasi sumber daya alam.

“Kebetulan usia direktur eksekutif yang baru ini relatif muda, sehingga kami berharap beliau dapat menjadi darah segar bagi kerja-kerja KEHATI selanjutnya,” kata Ismid seusai acara serah-terima pimpinan eksekutif KEHATI di Kantor Yayasan KEHATI, Jakarta, Kamis (5/4).

Ada tiga tantangan besar, menurut Ismid, dalam kerja-kerja konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia ke depan, termasuk dalam kerja KEHATI. Pertama, tekanan yang semakin berat terhadap keanekaragaman hayati Indonesia seiring makin maraknya kegiatan eksploitasi, deforestasi, dan perubahan iklim khususnya di bidang kehutanan dan lingkungan hidup. Kedua, kian krusialnya kebutuhan akan ketahanan dan kedaulatan pangan di negeri ini seiring pesatnya kenaikan jumlah penduduk dan menurunnya daya dukung alam yang berpengaruh terhadap produksi pangan. Ketiga, datangnya tahun politik yang akan menentukan arah kebijakan pemerintahan baru, di mana perlu ekstra-waspada terhadap kepentingan politik jangka pendek untuk memenangkan pilkada/pemilu.

“Karena, seringkali area konservasi dan kelestarian sumber daya alam justru menjadi obyek yang selalu dikorbankan, bahkan, diobral murah demi keuntungan sesaat para kontestan,” sambung Ismid.

Dalam situasi yang kompleks ini, pemimpin baru KEHATI tak bisa hanya bekerja business as usual, menunggu pemerintah, melainkan juga harus mampu mengadvokasi kebijakan.

 

Riki Frindos, Direktur Eksekutif KEHATI (kanan) bersama MS Sembiring (kiri) (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)

Kondisi keanekaragaman hayati Indonesia masih dalam taraf mengkhawatirkan. Hutan hujan tropis, misalnya, setiap tahun terus berkurang. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sejak tahun 2010 sampai 2015, kehilangan hutan di Indonesia mencapai 684.000 hektar tiap tahunnya. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kehilangan hutan tertinggi di dunia setelah Brazil. Sementara, kesadaran konservasi keanekaragaman hayati masih relatif rendah, sedangkan implementasi kebijakan dan regulasi yang ada masih jauh dari memuaskan.

Pada kesempatan yang sama, M.S. Sembiring mengatakan, bahagia dapat menjalankan amanah yang diberikan para pimpinan KEHATI selama delapan tahun terakhir. Pergantian kepemimpinan yang baik di lembaga ini menandakan sebuah proses regenerasi yang terencana dan sehat. Regenerasi yang baik ini menjadi modal KEHATI untuk meningkat menjadi Lembaga CTF kelas dunia yang terpandang. Beberapa tantangan ke depan yang perlu mendapat perhatian antara lain: meningkatkan capaian saat ini agar KEHATI dapat memperluas perannya dalam pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia melalui pemberdayaan masyarakat yang merupakan jati dirinya.

Di samping itu, sebagai lembaga konservasi di Indonesia yang terdepan dalam pengimplementasian salah satu prinsip dalam Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu sustainable financing, KEHATI harus dapat memelihara dan meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak terutama sektor dunia usa usaha . “Nothing should be left behind. Jangan ada yang ditinggalkan dalam mendorong konservasi. Itu tugas semua pihak, termasuk dunia bisnis,” imbuh tokoh Pasar Modal dan Keuangan mantan Direktur Bursa Efek Indonesia.

Tiga langkah penting

Ketua Pengurus Yayasan KEHATI Dr Endang Sukara, mengungkapkan, setidaknya ada tiga langkah yang harus secara konsisten ditempuh dalam penyelamatan keanekaragaman hayati di Indonesia ke depan: melindungi dan melestarikan keanekaragaman hayati, pemanfaatannya secara berkelanjutan, dan distribusi manfaatnya secara adil bagi kesejahteraan masyarakat.

“Ketiga hal tersebut harus berjalan terpadu. Selain itu, untuk memperkuat pemanfaatan ragam hayati secara lestari, ke depan KEHATI juga harus menggiatkan riset-riset. Kita masih sangat ketinggalan dalam hal ini dibanding negara-negara lain. Padahal, kita negara dengan biodiversitas terkaya di dunia,” ujar mantan Wakil Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut.

Ketua Pengurus Yayasan KEHATI Dr Endang Sukara (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)

Riki, yang selama 20 tahun lebih berkarir di sektor keuangan, mengatakan, sebagai nahkoda baru, dia akan belajar dan berupaya mengembangkan yang telah berjalan dengan baik di KEHATI menuju capaian yang lebih lebar dan berkedalaman.  Pengalaman panjangnya di sektor keuangan dan investasi, diyakininya justru akan memperkuat upaya pengembangan lembaga ini. Sebab, persoalan lingkungan tak bisa dilepaskan dari pengelolaan dana keuangan dan investasi, khususnya di sektor sumber daya alam sebagai salah satu kunci penunjang kemajuan pembangunan ekonomi Indonesia ke depan.

KEHATI, kata Riki, berbeda dengan NGO lingkungan pada umumnya. Dalam kiprahnya, lembaga ini menggandeng sektor keuangan dan bisnis dalam upaya mewujudkan prinsip-prinsip ramah lingkungan, kelestarian, dan keberlanjutan. Melalui Indeks Sustainable and Responsible Investment (SRI) KEHATI, misalnya, KEHATI menjembatani atau menciptakan simbiosis mutualisme antara dunia konservasi dengan sektor bisnis.

Riki Frindos, Direktur Eksekutif KEHATI (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)

“Sudah semestinya sektor investasi bekerja tidak hanya semata mengejar keuntungan pribadi atau perusahaan, tetapi juga memiliki visi untuk hajat hidup orang banyak serta keberlanjutan keanekaragaman hayati,” ujar dia.

Dia juga percaya, jaringan dan relasi luas yang dimilikinya di sektor keuangan dan investasi, akan bermanfaat bagi langkahnya memimpin KEHATI. Terutama, untuk dua kebutuhan. Pertama, memperkuat kesadaran pelaku-pelaku bisnis dan investasi dalam mengadopsi prinsip-prinsip yang ramah lingkungan. Kedua, memperkuat sumber pendanan guna menjaga kesinambungan kiprahnya mewujudkan visi dan misinya dengan tetap mempertahankan prinsip independensi.

  • Artikel
  • Riki Frindos, Direktur Eksekutif KEHATI yang Baru
dukung kehati