Selamat Jalan Mbah Suko - KEHATI
Artikel

Selamat Jalan Mbah Suko

09 April 2014

mbah sukoHingga kini pemerintah terus mendorong program ketahanan pangan. Namun Pemerintah lupa bahwa faktor terpenting bukan ketahanan, tetapi kedaulatan pangan. Jika ketahanan menjadi titik penting, maka yang terjadi seperti saat ini, impor bahan pangan sekedar memenuhi kebutuhan dalam negeri. Tetapi jika kedaulatan yang menjadi sumbu utama, kemandirian terhadap kecukupan kebutuhan pangan Indonesia akan tercapai.

Bicara kedaulatan pangan, kita bisa becermin kepada Mbah Suko. Seorang petani di Dusun Kenteng, Desa Mangunsari, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang sudah menerapkan kedaulatan pangan sejak puluhan tahun yang lalu. Mbah Suko berani berseberangan dengan program pemerintah yang cenderung memaksa petani menanam satu varietas unggul saja. Ketika itu, beliau justru bersemangat mencari bibit lokal yang tangguh.

Ketika program pemerintah yang cenderung monokultur itu terserang hama, hasilnya tentu gagal panen pada semua lahan. Namun, hal itu tidak menimpa tanaman padi yang dibudidayakan Mbah Suko. Bibit lokal cenderung lebih tahan karena berada pada lingkungan aslinya. Selain itu, beliau tidak menggunakan pupuk kimia dan memilih pupuk organik atau kotoran ternak. Pestisida haram baginya, beliau justru menggunakan pendekatan predator alami yang dikembangkan di laboratorium di belakang rumahnya. Meskipun sempat dicap sebagai pembangkang oleh pemerintah, namun upaya yang dia lakukan adalah wujud nyata dari kedaulatan pangan. Penerima KEHATI Award tahun 2001 ini membuktikan bahwa dirinya mampu merdeka dan tidak bergantung pada pihak luar untuk memproduksi padinya.

Selain menjadi contoh kedaulatan pangan, kiprah Mbah Suko juga menjadi salah satu pelopor pertanian organik di Indonesia. Sejak tahun 1985, dengan salah satu produk unggulannya, beras Mentik Wangi, hasil pertanian organik Mbah Suko sudah dikenal dikalangan petani ataupun konsumsi yang kerap menggunakan hasil panennya.  

Setelah mendapatkan penghargaan KEHATI award pada tahun 2001, Mbah Suko sering berkeliling Indonesia untuk berbagi ilmu dan pengalaman soal pertanian organik. Kemudian dalam hal konservasi bibit lokal, setidaknya sudah 35 jenis bibit padi lokal yang telah beliau kembangbiakkan, seperti rojo lele, ketan kuthuk, kenongo, rening, menthik wangi, menthik susu, gethok, leri, papah aren, berlian, tri pandung sari, dan si buyung.

Kini ikon kedaulatan pangan dan pertanian organik itu telah berpulang ke Rahmatulloh. Selamat jalan Mbah Suko, semoga apa yang sudah engkau kerjakan hingga saat terakhirmu dapat berlanjut dan memberikan inspirasi bagi lebih banyak orang.

dukung kehati