Styrofoam dan Plastik di Jakarta Kian Mengkhawatikan, Saatnya Kembali ke Besek - KEHATI
Artikel

Styrofoam dan Plastik di Jakarta Kian Mengkhawatikan, Saatnya Kembali ke Besek

22 Maret 2018

Jakarta-Ancaman partikel mikroplastik di Jakarta dari waktu ke waktu kian mengkhawatirkan. Partikel tersebut terutama dihasilkan dari limbah plastik dan styrofoam hasil aktivitas kehidupan manusia yang mencemari lingkungan kota megapolitan yang jumlahnya dari waktu ke waktu semakin meningkat.

Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), M.S. Sembiring, mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016, produksi sampah provinsi DKI Jakarta mencapai 7.099,08 meter kubik atau meningkat dari 7.046,39 meter kubik pada tahun sebelumnya.  Namun, hanya 84,7 persen dari jumlah sampah tersebut yang bisa terangkut. Sisanya terbuang di alam, termasuk mengalir ke laut. Parahnya, sampah yang tak terangkut ke tempat pembuangan dan sebagian mengalir ke laut tersebut didominasi oleh styrofoam dan jenis plastik lainnya.

Selain mengancam kesehatan manusia, partikel mikroplastik, terutama dari plastik-plastik kemasan, juga sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup flora dan fauna.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mendukung gerakan back to besek yang diinisiasi oleh KEHATI sebagai upaya Pemprov DKI Jakarta memerangi sampah plastik dan Styrofoam (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)

“Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus memiliki strategi khusus dalam menangani permasalahan ini  untuk menyelamatkan Jakarta dari ancaman mikroplastik ini,” ujar Sembiring.

Terkait problematika limbah plastik dan styrofoam di atas, Yayasan KEHATI  memperkenalkan gerakan “back to besek” kepada Pemprov DKI Jakarta. Manajer Program Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Yayasan KEHATI Basuki Rahmad, menjelaskan, penggunaan besek sebagai bungkus makanan memberikan banyak keuntungan kepada masyarakat, baik yang tinggal di hulu maupun hilir daerah aliran sungai (DAS) Jakarta. Secara ekologis, masyarakat yang tinggal di hulu akan diminta menanam bambu untuk memenuhi bahan baku pembuatan besek, yang secara otomatis akan memberikan solusi banjir di Jakarta. Secara ekonomi, usaha kecil menengah masyarakat akan meningkat melalui usaha pembuatan besek.

“Penggunaan besek bambu ini merupakan salah satu upaya konkret dan nyata untuk mengurangi ancaman mikroplastik sebagai dampak penggunaan plastik dan Styrofoam. Sebagai langkah awal, Pemprov DKI bisa mengeluarkan kebijakan dengan cara menggunakan besek pada acara-acara internal, seperti rapat, jamuan, maupun pemberian souvenir,” jelas Basuki.

Produk mitra dampingan Yayasan KEHATI berbahan dasar bambu yang dikenalkan kepada masyarakat pada kegiatan Festival Sangga Buana, Hutan Kota Sangga Buana, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Sabtu-Minggu (17-18/3). Back to Besek merupakan gerakan yang diinisiasi KEHATI untuk memerangi sampah plastik dan Styrofoam (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)

Ke depan, KEHATI berharap Pemprov DKI bisa mendorong perusahaan waralaba untuk menggunakan besek melalui skema kerja sama dengan UKM pemasok besek, sehingga sinergi antara pengusaha kecil menengah dan pengusaha besar bisa terjalin.

KEHATI juga berharap Pemprov DKI bisa memanfaatkan momentum dunia internasional yang sedang gencar memerangi sampah plastik. Hal ini terlihat dengan kesamaan tema yang diusung dua hari besar internasional, yaitu Hari Bumi (22 April), dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (5 Juni) yaitu polusi plastik.

  • Artikel
  • Styrofoam dan Plastik di Jakarta Kian Mengkhawatikan, Saatnya Kembali ke Besek
dukung kehati