Tenun Dayak Iban Unjuk Keindahan di Ajang JFW 2017 - KEHATI
Artikel

Tenun Dayak Iban Unjuk Keindahan di Ajang JFW 2017

28 Oktober 2017

Setelah sebelumnya sukses tampil di ajang New York Fashion Week 2017, tenun Dayak Iban kembali unjuk keindahan di ajang serupa. Kali ini di Jakarta Fashion Week (JFW) 2017, yang digelar pada Jumat (27/10) sore di Senayan City, Jakarta. Diharapkan, kehadiran tenun Dayak Iban di ajang peragaan busana besar tersebut dapat menumbuhkan apresiasi yang layak atas tingginya nilai budaya dari tenun tradisi ini.

Peragawati menampilkan busana dengan sentuhan kain tenun Dayak Iban di ajang Jakarta Fashion Week 2017, Jumat (27/10) di Senayan City, Jakarta. (Foto-foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)
Peragawati menampilkan busana dengan sentuhan kain tenun Dayak Iban di ajang Jakarta Fashion Week 2017, Jumat (27/10) di Senayan City, Jakarta. (Foto-foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)

Setidaknya, ada 33 set koleksi dihadirkan dalam JFW 2017 tersebut, yang terdiri atas 18 set busana wanita dan 15 set busana pria. Busana-busana tersebut hasil rancangan desainer Yurita Puji dan Temma Prasetio.

Perpaduan desain modern, tradisional, dan nasional tampak jelas dari ragam busana berbalut tenun Dayak Iban yang ditampilkan. Semua kain tenun yang diperagakan sore itu menggunakan pewarna alam, yang merupakan ciri khas sekaligus salah satu kelebihan tenun Dayak Iban.

Pada koleksi wanitanya, ditandai dengan beragam corak aksesori dan detail motif alam, seperti tumbuhan dan hewan khas pedalaman Kalimantan. Sementara, untuk koleksi busana pria, Temma menghadirkan tema savior yang diterjamahkan dalam bentuk busana luaran, yang modis dan berkesan elegan.

Kehadiran tenun dayak Iban di peragaan busana tersebut mendapatkan tepuk tangan meriah dari para penonton dan pemerhati busana yang hadir. “Unik dan bernuansa khas sekali ternyata busana modern jika dipadupadankan dengan tenun Dayak Iban ini ya,” ucap salah seorang penonton.

Keikutsertaan tenun Dayak Iban di ajang JFW 2017 tak lepas dari inisiatif Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK). ASPPUK merupakan lembaga yang menjadi mitra Tropical Forest Conservation Action (TFCA) for Kalimantan dan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), untuk proyek pendampingan warga Dayak Iban di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, dalam pengembangan dan pemanfaatan pewarna alam tenun ikat Dayak Iban.

Direktur ASPPUK, Mia Aryana, mengatakan, melalui ajang JFW 2017 ini, diharapkan dapat memperkenalkan tenun tradisi Dayak Iban kepada khalayak luas, baik di dalam maupun luar negeri, sekaligus sebagai ajang promosi produk usaha kecil warga Dayak Iban itu.

Saat ini ada lima desa dampingan ASPPUK yang didukung oleh TFCA Kalimantan-KEHATI dalam program ini, yakni Desa Lanjak Deras, Mansiau, Sungai Abau, dan Labiyan (keempatnya di Kecamatan Batang Lumpar), serta Desa Manua Sadap di Kecamatan Embaloh Hulu.

Tenun Dayak Iban berpewarna alam lebih dari sekadar komoditas usaha kecil rakyat bernilai ekonomi. Bagi warga Dayak Iban, tenun ikat ini juga merupakan simbol ekspresi dan ritual budaya yang diwariskan turun temurun.

Seoranga peragawan menampilkan busana dengan sentuhan kain tenun Dayak Iban di ajang Jakarta Fashion Week 2017, Jumat (27/10) di Senayan City, Jakarta. (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)
Seoranga peragawan menampilkan busana dengan sentuhan kain tenun Dayak Iban di ajang Jakarta Fashion Week 2017, Jumat (27/10) di Senayan City, Jakarta. (Foto: Ahmad Baihaqi/KEHATI)

“Oleh karena itu, melalui ajang Jakarta Fashion Week 2017 ini, kami berharap khalayak luas akan semakin tahu untuk kemudian memberikan apresiasi lebih terhadap tenun Dayak Iban ini,” kata Mia.

Dayak Iban sendiri merupakan salah satu sub-suku Dayak di Pulau Kalimantan, yang umumnya mendiami wilayah hulu Sungai Kapuas di Kalimantan Barat hingga Kuching, Malaysia. Tenun Dayak Iban menjadi salah satu pakaian mewah yang biasa dipakai pada upacara-upacara kebesaran.

Motifnya cenderung asimetris. Beberapa motif klasik dari kain tenun ini memiliki nilai filosofis yang bernuansa religius-magis bagi warga Dayak Iban. Hal tersebut yang menjadikan tenun Dayak Iban memiliki nilai yang tinggi, di samping penggunaan pewarna alaminya.

Meski pemanfaatan tanaman sebagai pewarna untuk tenun ikat Dayak Iban sudah terjadi secara turun temurun, namun sebenarnya pengetahuan terkait pewarnaan, pemahaman tentang tanaman pewarna alam, serta motif tenun belum terkelola dan berkembang dengan baik. Pengetahuan umumnya hanya dimilki oleh kalangan tua, dan terancam punah. Transfer pengetahuan dari generasi ke generasi menjadi sulit dilakukan.

Mengembangkan pengetahuan

Oleh karena itu, sejak 2015, TFCA Kalimantan-KEHATI bersama ASPPUK berupaya mengembangkan pengetahuan tentang pewarna alam untuk tenun ikat Dayak Iban di lima desa dampingan, masing-masing di Kecamatan Batang Lumpar dan Embaloh Hulu.

Setelah dilakukan pendampingan, lanjut Mia, ada pengembangan tanaman jenis baru, seperti tanaman rengat padi (Tom indigofera), rengat akar (Indigofera), engkerbai (Psychotria viridiflora), engkerbai laut, beting, jangau, empait dan mengkudu kayu. Pemilihan pewarna alam dari tumbuhan tidak lepas terhadap ketergantungan pada bahan sintetis atau kimia.

Warga sempat tergoda dengan pewarna kimia dan beralih dari pewarna alam. Hal tersebut terutama karena bahan baku pewarna alam kian sulit didapatkan. Harganya pun relatif mahal.

Setelah pendampingan, warga kini mulai membudidayakan tumbuhan pewarna sehingga lebih mudah didapatan, serta mulai menguasai teknik pembuatan pewarna alam secara lebih baik dan cepat. Tenun ikat Dayak Iban pun kini kembali ke jalur yang dulu digariskan nenek moyang, yakni menggunakan pewarna alam.

Direktur TFCA Kalimantan, Puspa Dewi Liman, mengatakan, kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan tanaman pewarna sebagai bahan dasar pembuatan tenun ikat, diharapkan akan menjaga keberlanjutan lingkungan dan kelangsungan tradisi budaya tenun Ikat Dayak Iban.

Lebih dari itu, kian berkembangnya usaha kecil tenun ikat Dayak Iban ini juga dapat memberi daya ungkit ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.

Seorang perempuan Dayak Iban di Desa Sungai Abui, Kecamatan Batang Lumpar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, tampak tengah mengerjakan tenun tradisional di salah satu sudut di rumah betang (rumah tradisional warga Dayak Iban), Minggu (8/10).
Seorang perempuan Dayak Iban di Desa Sungai Abui, Kecamatan Batang Lumpar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, tampak tengah mengerjakan tenun tradisional di salah satu sudut di rumah betang (rumah tradisional warga Dayak Iban), Minggu (8/10). (Foto: Mohamad Burhanudin/KEHATI)

Penggunaan bahan pewarna yang ekonomis, mudah didapat, dan pengetahuan menenun yang terlembagakan serta terkelola secara lebih baik, membantu masyarakat setempat untuk menjadi lebih sejahtera.

“Dengan kesejahteraan yang lebih baik tersebut, ketergantungan terhadap sumber daya hutan secara langsung dapat dikurangi,” ujar Puspa.

Adanya pengenalan kembali nilai pengetahuan lokal terkait pengelolaan tanaman pewarna dan praktik tenun, menjadikan masyarakat peduli dan mulai mempelajari serta mengembangkan apa yang sudah pernah dipraktikan oleh nenek moyang dan orangtua mereka. Dengan begitu, terjadi proses sosialisasi yang lebih baik terkait pembelajaran praktik tenun dan pengolahan pewarna dari orangtua ke anak muda.

“Hal tersebut pada akhirnya akan memacu niat bagi sebagian kalangan muda untuk mau ambil andil dalam kegiatan pengolahan dan pengembangan pewarna alam dan praktik tenun ikat,” tandas Puspa. (Mohamad Burhanudin)

 

 

 

  • Artikel
  • Tenun Dayak Iban Unjuk Keindahan di Ajang JFW 2017
dukung kehati