Cerita KEHATI di Maratua - KEHATI
Artikel

Cerita KEHATI di Maratua

17 September 2015

Maratua menorehkan sejarah pertama jazz bergema di pulau terluar Indonesia ini. Pulau yang namanya makin moncer akan keindahan alam bawah lautnya, kini menambah tenarnya dengan festival musik jazz. “Maratua Jazz adalah pentas Jazz di pulau terdepan pertama di Indonesia dan kegiatan jazz & dive pertama di dunia,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Maratua Jazz & Dive Fiesta, Agus Basuni ketika membuka acara, Sabtu 11 September 2015.

Tidak tanggung-tanggung, panitia menghadirkan musisi jazz papan atas Indonesia, seperti Idang Rasyidi, Syaharani, Donny Suhendra, Indro Hardjodikoro, dan beberapa musisi lokal. Penonton dari beragam etnis berkumpul ikut memeriahkan perhelatan akbar berskala internasional itu.

Musik Jazz memang bukan musik yang termasuk dalam daftar musik di arus utama. Pecinta musik jazz cenderung segmented. Di kota-kota besar saja, musik jazz hanya digemari sebagian kalangan masyarkat saja, apalagi di kampong kecil, di pulau terluar Indonesia. Masyarakat Maratua yang kebanyakan adalah nelayan dan pemandu wisata selam di daerah yang katanya memiliki keindahan terumbu karang dan keragaman jenis ikan-ikannya itu menganggap jazz adalah genre musik yang baru dan asing. Saat acara akan dimulai, banyak yang menanyakan tentang apa itu jazz.

Kondisi tersebut disadari oleh Syaharani.  Di atas panggung, beberapa kali dia menyampaikan bahwa lagu-lagu yang dia nyanyikan adalah lagu baru buat masyarakat Maratua. Padahal bagi mereka yang paham musik jazz,  lagu-lagu yang dendangkannya masuk dalam kategori lagu-lagu lawas.

Meskipun demikian, ditengah keasingan masyarakat Maratua terhadap Jazz, Idang Rasyidi menyampaikan bahwa musik jazz adalah soal mendengar. “Kita diciptakan Allah dengan dua telinga dan satu mulut, artinya porsi mendengar harus lebih banyak ketimbang berbicara,” ujarnya. Pesan tersebut seolah ingin mensugesti penonton supaya mendengarkan dan menikmati saja sajian musik yang mereka tampilkan, tanpa harus mempertanyakannya. Idang dan rekan-rekan terus berupaya melibatkan para penonton dengan menyanyikan lagu-lagu nasional, seperti Indonesia Tanah Air Beta, Desaku yang ku cinta dan  yel-yel dengan nada-nada tertentu.

Pentas jazz yang dilaksanakan di pinggir pantai Maratua, dengan suasana khas ala kampung (penonton ada yang berdiri, duduk beralaskan tikar dan beberapa pedagang kecil) ini, sangat menghibur warga kampung sana. Pulau yang terdiri dari kampung Bohe Silian, Payung-Payung dan Bohe Kukut itu, membuat warganya berbondong-bondong menyaksikan pertunjukan jazz ini. Tidak mengenal usia, mulai dari anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak dan bahkan nenek-nenek dan kakek-kakek. Karena tidak pernah ada pentas musik seperti ini sebelumnya.

Walaupun mereka sebelumnya tidak kenal musik jazz, tetapi ternyata mereka cukup menikmati juga. Beberapa penonton, termasuk ibu-ibu terlihat manggut-manggut mengikuti irama musik. Dakwah musik jazz Idang cs dengan sesekali menyisipkan pesan-pesan pelestarian lingkungan, nampaknya cukup berhasil mengambil hati warga kampung Maratua. Mereka menantikan jazz masuk kampung berikutnya. ahs




dukung kehati