Home
 | 

Primary links

  • Tentang KEHATI
    • Sejarah Singkat
    • Visi Misi dan Nilai Organisasi
    • Dewan Pengurus dan Manajemen
    • Bahan Publikasi
      • Profil KEHATI
      • RENSTRA
      • Laporan Tahunan
      • SRI-KEHATI
  • Lingkup Kerja
    • Area Intervensi KEHATI
    • Sasaran Strategis
    • Pola Pendekatan
  • Dana Hibah
    • Mekanisme Dana Hibah
    • Dokumen Pengajuan
    • Data Hibah 2006
    • Data Hibah 2007
  • Sumberdaya
    • Mobilisasi Dana
    • Komunikasi & Edukasi
  • Link
    • Mitra KEHATI
    • Organisasi Pemerintah
    • Organisasi Non Pemerintah
    • Organisasi Internasional
    • Organisasi Lain
  • Kontak
Home

Area Intervensi

  • Work

KEHATI menetapkan kebijakan area intervensi berbasis ekosistem dengan prioritas pada:

Ekosistem Pertanian

Ekosistem pertanian memegang faktor kunci dalam pemenuhan kebutuhan pangan suatu bangsa. Keanekaragaman tumbuhan, keberadaan invertebrata dan serangga serta mikroba merupakan satu kesatuan dalam ekosistem pertanian yang akan menentukan tingkat produktivitas pertanian. Jasa-jasa ekologis yang diemban oleh keanekaragaman hayati pertanian, diantaranya adalah jasa penyerbukan, jasa penguraian, jasa pengendali biologis untuk menekan hama dan penyakit, sangatlah penting bagi pertanian berkelanjutan.

Sebagai salah satu dari duabelas pusat keanekaragaman hayati Vavilov untuk tanaman pertanian, Indonesia merupakan pusat keanekaragaman untuk beberapa tanaman, antara lain tanaman pisang, pala, cengkeh, durian dan rambutan., Ekosistem pertanian merupakan faktor kunci dalam mendukung ketahanan pangan, menjadi sumber obat-obatan dan penghasil tumbuhan bernilai ekonomis penting lainnya bagi 240 juta penduduk Indonesia.  Jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan terus meningkat hingga sebesar 298,5 juta jiwa pada tahun 2025.  Kondisi ini akan memberikan tekanan yang lebih besar pada lingkungan hidup.  Kini, tarik menarik antara dua kebutuhan utama manusia, yaitu pangan dan energi telah terjadi pada sektor pertanian. Dunia mulai bertumpu pada ekosistem pertanian bagi pemenuhan kebutuhan bioenergi di saat harga minyak dunia membumbung tinggi.  

Kebijakan pertanian dunia, yang mulai bergeser kepada keharusan penggunaan lahan bagi pemenuhan sumber bioenergi, menyebabkan turunnya produksi pertanian secara signifikan bagi sumber pangan. Saat ini pemenuhan kebutuhan pangan Indonesian hanya bergantung pada beras, dan sebagian besar komoditas pangan lainnya seperti gandum, jagung, tebu, kelapa sawit, kedelai bergantung pada impor.  Padahal keadaulatan pangan seharusnya menjadi ciri sebuah negara yang kaya akan sumber daya alam.  Kenaikan harga minyak, ternyata juga berimbas pada naiknya harga-harga pasokan komoditas pangan utama tersebut. Kondisi ketergantungan tersebut jelas-jelas akan menggerogoti devisa negara dan dampak kenaikan harganya akan semakin menyengsarakan masyarakat.

Sayangnya, pertanian yang menjadi tulang punggung bagi kehidupan masyarakat tidak mendapat perhatian yang selayaknya. Keterancaman terhadap alih fungsi lahan pertanian sangat tinggi. Keterancaman kerusakan pada lahan pertanian terutama disebabkan oleh model pengelolaan lahan pertanian yang tidak berkelanjutan. Demi mendorong produksi, petani memberikan input berlebihan seperti pupuk, pestisida, herbisida, yang menyebabkan ketergantungan, pencemaran, kerusakan dan ketidakseimbangan ekosistem pertanian. Pemanasan global menyebabkan perubahan iklim yang semakin memperburuk keadaan karena berdampak pada punahnya keanekaragaman hayati di ekosistem pertanian, serta menambah rentan ekosistem terhadap berbagai potensi bencana seperti banjir, longsor dan lainnya.

Tujuan strategis program ekosistem pertanian:

  1. Rehabilitasi agroekosistem dan mendorong pertanian ramah lingkungan (eco-agriculture) untuk menjaga dan memulihkan peranan keanekaragaman hayati dalam memberikan jasa lingkungan dan ekosistem.
  2. Mengembangkan model pelestarian plasma nutfah lokal, kerabat liar dan tanaman terabaikan (underutilized crops).
  3. Mempromosikan bentuk-bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim.


Ekosistem Hutan

Sebagian besar keanekaragaman hayati daerah tropis tersimpan dalam ekosistem hutan. Rusaknya ekosistem hutan berarti hilangnya sumber-sumber keanekaragaman hayati. Hutan merupakan jantung bagi sirkulasi oksigen dan karbondioksida, yang dapat menekan gas rumah kaca pemicu perubahan iklim. Walaupun luas daratan Indonesia hanya 1,3% dari luas daratan di bumi, total hutan Indonesia mencapai 120,35 juta hektar yang merupakan hutan tropis kedua terluas di dunia setelah Brazil. Hutan Indonesia merupakan setengah dari hutan tropis Asia saat ini.

Hutan juga merupakan sumber pendapatan negara potensial, dengan nilai US$ 6,6 miliar di tahun 2003 atau 13,7% pendapatan ekspor non migas. Jika memasukkan ekspor lokal yang tidak terdaftar, total pendapatan ekspor sektor kehutanan diperkirakan dapat mencapai lebih dari US$ 8 miliar.  Masyarakat yang tinggal, hidup dan bergantung pada ekosistem hutan pada tahun 2007 berjumlah kurang lebih 48,8 juta penduduk. Dari keseluruhan penduduk yang hidup disekitar kawasan hutan itu, 10,2 juta orang diantaranya berada dalam keadaan miskin.

Ketergantungan pada sumber daya hutan menyebabkan perambahan hingga ke hutan lindung, yang pada tahun 2005 mencapai luasan 16.410 hektar dan perladangan berpindah seluas 13.823 hektar. Berdasarkan data Status Lingkungan Hidup Indonesia tercatat bahwa kerusakan hutan di Indonesia periode 2006 mencapai 59,2 juta ha, dengan laju deforestasi dan kegiatan pertambangan mencapai 1,6 – 2,4 juta hektar/tahun.
Kemerosotan kualitas sumber daya hutan terutama disebabkan oleh eksploatasi sumberdaya alam secara besar-besaran, baik legal maupun ilegal, kebakaran hutan, konversi lahan dan perambahan hutan. Kerusakan hutan telah menyebabkan bencana alam, seperti banjir dan longsor di musim hujan, kekeringan di musim kemarau dan hilangnya berbagai jenis keanekaragaman hayati yang mempunyai potensi dan menjadi sumber kehidupan masyarakat serta juga hilangnya kemampuan ekosistem hutan menyediakan jasa lingkungannya.

Kerusakan hutan juga menyumbang pada percepatan terjadinya perubahan iklim global, dengan meningkatnya emisi karbon akibat kebakaran hutan dan pembukaan hutan terutama hutan gambut. Pengurangan deforestasi, upaya konservasi dan rehabilitasi lahan yang terdegradasi dapat membantu penyerapan emisi gas rumah kaca.

Tujuan strategis program ekosistem hutan:

  1. Mempromosikan praktek pengelolaan ekosistem hutan yang baik dan berkelanjutan di tingkat pusat dan daerah.
  2. Mendukung dan mempromosikan inisiatif pengelolaan/pemangkuan kawasan hutan multipihak.
  3. Mendukung upaya riset dan implementasi pilot project REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation).


Ekosistem Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terletak di Coral Triangle yang merupakan pusat episentrum keanekaragaman hayati laut dunia, dengan lebih dari 70 genera karang keras. Jumlah pulau yang ada diperkirakan lebih dari 17.504 pulau, dengan panjang garis pantai lebih dari 95.000 km.  Disamping itu, dua pertiga wilayah Indonesia, yaitu  seluas 580 juta hektar adalah perairan laut. Luas terumbu karang Indonesia diperkirakan sekitar 51.000 km2, yang ternyata melingkupi 51% dari terumbu karang di Asia Tenggara, dan 18% terumbu karang di dunia. 37% dari jenis ikan dunia hidup didalam wilayah Indonesia.  


Proses evolusi pada pulau-pulau kecil sering menyebabkan terbentuknya spesies endemik yang khas pada pulau-pulau tersebut, karena isolasi geografis yang menyebabkan seleksi alam dan proses adaptasi untuk tiap pulau akan berbeda. Endemisitas spesies pada pulau- pulau yang berbeda ini akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kekayaan keanekaragaman hayati dunia. Dari segi ekologi, ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap tekanan penduduk dan perubahan iklim. Kombinasi antara ukuran pulau yang kecil dan jumlah penduduk yang besar dapat mengakibatkan tekanan terhadap sumber daya alam yang terbatas di ekosistem tersebut.

Masyarakat dan negara menggantungkan pendapatannya dari ekosistem ini. Secara umum, diperkirakan sekitar 16% penduduk Indonesia bergantung pada sumber daya laut untuk kecukupan protein sumber pangannya. Ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi antara lain: perikanan, perlindungan pesisir, farmasi, kosmetika, pariwisata dan regulasi iklim. Jika divaluasi, nilai dari produk dan jasa ekosistem terumbu karang Indonesia diperkirakan mencapai US$ 1.6 miliar per tahun. Industri di pesisir dan laut, seperti pabrik minyak dan gas, transportasi, perikanan, dan pariwisata, mewakili 25% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Negara dan 15% dari lapangan pekerjaan di Indonesia. Indonesia juga merupakan eksportir karang hias terbesar di dunia.

Ancaman bagi ekosistem ini sangat besar, mulai dari penangkapan ikan secara berlebihan disertai cara-cara penangkapan yang destruktif sifatnya, seperti pengeboman dan penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Kerusakan juga terjadi pada habitat pesisir laut yang disebabkan antara lain oleh aktivitas kerusakan di hulu, bahan buangan industri, sampah rumah tangga, polusi bahan pertanian dan limbah bahan bakar transportasi laut. Pembangunan wilayah pesisir yang tak terintegrasi serta penambangan pasir yang tak terkendali menyebabkan terkikisnya ekosistem pesisir. Ancaman lain adalah akibat perubahan iklim yang mengakibatkan naiknya temperatur laut dan menyebabkan terjadinya pemutihan karang yang luas di Indonesia.

Tujuan strategis program ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil:

  1. Mengembangkan model pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil berbasis masyarakat.
  2. Mengkonservasi spesies endemik/langka/dilindungi.
  3. Merehabilitasi ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil serta upaya adaptasi terhadap perubahan iklim.

 

Navigation

  • Recent posts

Flora Kita
TGG
MFP

RENSTRA 2008-2012

Archieves

News Reference Publication Partners

KEHATI Profile

Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Yayasan KEHATI) - The Indonesian Biodiversity Foundation
Copyright @ 1994-2009 - All right reserved