401 views Upaya Pelestarian Tumbuhan dan Satwa Melalui Taman Kehati – KEHATI KEHATI

Upaya Pelestarian Tumbuhan dan Satwa Melalui Taman Kehati

  • Date:
    08 Sep 2020
  • Author:
    KEHATI

Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi di dunia, baik tumbuhan, maupun satwa. Terkait tumbuhan, kontribusi keanekaragaman hayati Indonesia di sangat tinggi, dimulai dari Dipterocarpaceae (238 spesies) yang mencakup 34 persen Dipterocarpaceae dunia dan 2.197 spesies paku (21 persen paku dunia).

 

Juga sekitar 5.500 spesies anggrek (20,5 persen anggrek dunia), 477 spesies palem (20 persen palem dunia), 159 spesies bambu (13 persen bambu dunia), dan 723 spesies lichen/lumut kerak (8 persen lichen dunia). Keanekaragaman palem Indonesia bahkan yang tertinggi di dunia, dimana 53 persen di antaranya adalah endemik Indonesia.

 

Namun di sisi lain Indonesia juga telah kehilangan banyak keanekaragaman hayati tumbuhan karena berbagai sebab seperti perubahan fungsi lahan, pemanfaatan berlebihan, hilangnya habitat, kehadiran spesies penyerbu, pencemaran lingkungan dan perubahan iklim.

 

Pada saat ini IUCN redlist mencatat sebanyak 673 spesies tumbuhan di Indonesis terancam oleh kepunahan yang porsi terbesar adalah dari jenis Dipterocarpacea sebanyak 33 persen, jambu-jambuan 12 persen, dan kantung semar 7 persen.

 

Sayangnya, berbeda dengan pelestarian satwa yang telah menjadi isu nasional, pelestarian tumbuhan masih jauh dari pemberitaan. Padahal, bagaimanapun juga pelestarian satwa juga sangat terkait dengan pelestarian tumbuhan.

 

Beberapa jenis tumbuhan dalam proses penyerbukan dan penyebarannya, sangat tergantung dengan kehadiran satwa, seperti burung dan kelelawar. Di sisi lain, banyak spesies burung dan kelelawar yang menggantungkan kehidupannya dari kehadiran buah atau biji yang dihasilkan oleh tumbuhan.

 

Salak Condet (Salacca zalacca) di kawasan Sungai Ciliwung Condet, Jakarta Timur. Salak Condet merupakan maskot DKI Jakarta. Foto: Ahmad Baihaqi/Yayasan KEHATI

 

Taman Kehati Sebagai Pusat Pelestarian Tumbuhan Lokal

 

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mengamanatkan perlunya upaya mempertahankan keanekaragaman hayati sebagai modal pembangunan nasional yang berkelanjutan.

 

Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah melalui pembangunan taman keanekargaman hayati yang dilakukan di luar kawasan hutan. Program Pembangunan Taman Keanekaragaman Hayati diatur dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 29 Tahun 2009 tentang Pedoman Konservasi Keanekaragaman Hayati di Daerah dan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 03 Tahun 2012 tentang Taman Keanekaragaman Hayati.

 

Dengan semakin menurunnya kualitas lingkungan, terutama di wilayah yang bukan kawasan hutan, memerlukan upaya pelestarian keanekaragaman hayati melalui pembangunan taman kehati di setiap daerah.

 

Kehadiran taman kehati dapat digunakan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati setempat yang sudah semakin langka, dan menjadi ikon suatu kota. Misalnya saja kota Jakarta yang mempunyai ikon buah salak condet, akan sangat bagus jika Jakarta memiliki taman kehati yang salah satu fungsinya adalah mempertahankan keberadaan salak condet.

 

Taman kehati juga bisa dimanfaatkan untuk mempertahankan keberadaan spesies-spesies tumbuhan yang dahulunya sangat umum, namun karena sesuatu dan lain hal menjadi sangat sulit kita jumpai saat ini.

 

Misalnya saja pohon kecapi, pohon berbuah masam ini di masa lalu cukup umum dijumpai di kebun-kebun masyarakat Betawi di Jakarta. Namun, karena buahnya tidak terlalu disukai, maka banyak pohon kecapi yang kemudian ditebang untuk dijadikan bahan meubel.

 

Dibandingkan dengan konsep pelestarian ex-situ lainnya seperti kebun raya, pembangunan taman kehati dari segi pendanaan dirasa lebih feasible. Dengan tanpa mengecilkan peran kebun raya, pembangunan taman kehati di setiap kota dan daerah akan memberikan dampak yang lebih masif.

 

Katakan sebanyak 416 kabupaten dan 98 kota yang ada di Indonesia membangun taman kehati masing-masing satu buah saja dengan mengkonservasi 15 spesies tumbuhan yang berbeda, maka akan banyak spesies tumbuhan yang bisa dilestarikan oleh negara.

 

Kepodang kuduk hitam (Black-naped oriole), jenis burung berkicau khas Indonesia. Dengan adanya taman kehati, burung-burung ini memiliki koridor hidup untuk berpindah tempat. Foto: Asep Ayat/Mongabay Indonesia

 

Taman Kehati Mendukung Pelestarian Satwa

 

Berkurangnya luasan hutan dan kawasan hutan di Indonesia semakin mendorong peningkatan laju kepunahan spesies di Indonesia. Sebagai contoh, pada saat ini sebanyak 174 dari 1.794 spesies burung di Indonesia (Burung Indonesia, 2020) terancam punah, dengan salah satu penyebabnya adalah kehilangan habitat, baik itu hutan, rawa, atau bentuk ekosistem lainnya.

 

Pembangunan taman kehati tentu saja akan memberi dukungan berupa kehadiran habitat yang dibutuhkan oleh satwa seperti burung. Jika sebanyak 525 wilayah kabupaten dan kota menyediakan taman kehati masing-masing seluas 5 hektar saja, maka akan tersedia seluas 2.625 hektar habitat bagi burung. Tidak terlalu luas memang, tetapi juga bukan ukuran yang kecil sebagai sebuah habitat satwa.

 

Pembangunan taman kehati bisa diarahkan untuk mendukung upaya pelestarian spesies-spesies tersebut dengan membangun ekosistem-ekosistem mini yang sesuai dengan kondisi asli suatu daerah.

 

Meskipun tentu saja kita tidak bisa berharap bahwa burung-burung yang spesifik hidup di hutan akan mampu bertahan hidup di dalam taman kehati. Tetapi setidaknya akan terdapat koridor (stepping stone) bagi burung-burung untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

 

Kehadiran taman kehati di suatu daerah juga bisa membantu upaya pelestarian spesies satwa yang menjadi identitas suatu daerah. Meskipun tentu saja spesies satwa yang dimaksud bukanlah spesies yang hidup di hutan primer.

 

Misalnya saja propinsi Jawa Tengah dengan satwa identitasnya burung kepodang emas (Oriolus chinensis). Spesies burung ini mampu beradaptasi pada hutan sekunder dan taman-taman kota. Kehadiran taman kota-taman kota di propinsi Jawa tengah juga dapat melindungi satwa ini di alam bebas.

 

Kurang ideal jika berbicara tentang satwa identitas, namun satwa yang dimaksud sudah sulit atau tidak bisa kita jumpai lagi di alam bebas.

 

Hasil kerajinan anggota Perkumpulan Air Selumar, menanfaatkan sumber daya alam yang ada secara berkelanjutan. Foto: Perkumpulan Air Selumar

 

Kerja Sama Seluruh Stakeholder

 

Pembangunan taman kehati tentu saja membutuhkan sumberdaya yang besar, oleh karena itu perlu didorong kerja sama antara masyarakat, kalangan akademisi, pemerintah dan swasta untuk mewujudkannya.

 

Berdasarkan pengalaman yang dimiliki oleh Yayasan KEHATI dalam mendukung pengembangan taman kehati di beberapa lokasi, minimnya kerja sama dari pihak terkait berpengaruh terhadap keberlanjutan pengelolaan taman kehati.

 

Meskipun secara birokrasi pembangunan taman kehati diarahkan pembangunannya oleh pemerintah daerah (Pemda), namun pada pelaksanaannya Pemda banyak terkendala baik itu pendanaan maupun sumber daya manusia.

 

Pengembangan taman kehati yang dilakukan oleh Perkumpulan Air Selumar di Belitung, barangkali merupakan contoh bagaimana sebuah taman kehati dan kawasan sekitarnya dikelola.

 

Perkumpulan Air Selumar, setidaknya sejak tahun 2012 telah mengelola taman kehati Belitung yang pada saat ini  menjadi bagian dari tujuan wisata di Belitung yaitu Bukit Peramon. Dengan kerja sama dari pemda Belitung, pihak swasta dan juga Yayasan KEHATI, pengelolaan taman kehati diarahkan menuju pengelolaan yang berkelanjutan.

 

Pengunjung yang datang ke dalam hutan Bukit Peramon membayar retribusi yang dananya digunakan untuk keberlanjutan pemeliharaan fasilitas. Di sisi lain, pihak swasta juga membantu pendanaan dalam bentuk CSR untuk melengkapi fasilitas yang ada.

 

Pemerintah daerah medukung dalam hal pendanaan dan birokrasi yang terkait dengan keberadaan taman kehati ini. Untuk mendukung pengelolaan, anggota Perkumpulan Air Selumar juga memproduksi kerajinan yang dijual kepada pengunjung.

 

Melalui kerja sama seperti ini maka pengelolaan taman kehati bisa dilakukan secara berkelanjutan dan tidak tergantung sepenuhnya dari dana pemerintah. (Imanuddin Utoro, Manajer Program Kehutanan Yayasan KEHATI)

 

Artikel ini telah tayang di mongabay.co.id