42 views Sagu, Sumber Karbohidrat Solusi Kedaulatan Pangan di Indonesia – KEHATI KEHATI

Sagu, Sumber Karbohidrat Solusi Kedaulatan Pangan di Indonesia

  • Date:
    13 Okt 2020
  • Author:
    KEHATI

Data Flach di tahun 2007 menyatakan total luas tanaman sagu sagu (Metroxylon spp) di Indonesia dapat mencapai 1.250.000 hektare atau 51.3% luasan hutan sagu dunia. Jika dikembangkan dengan baik, sagu dapat menjadi solusi kedaulatan  pangan  Indonesia, bahkan dunia. Hal ini sebagaimana disampaikan pada Webinar Sagu Sebagai Solusi Krisis Global yang diselenggarakan oleh Yayasan KEHATI (11/10).

 

Sagu merupakan tanaman asli Indonesia yang mempunyai potensi besar sebagai penyuplai kebutuhan karbohidrat Indonesia sebagai pengganti beras. Selain budi daya yang ramah lingkungan, produktivitas sagu juga tinggi dibandingkan sumber pangan lain. Tercatat potensi produktivitas sagu mencapai 20-40/ha per tahun (Bintoro, 2000). Jauh lebih tinggi dibandingkan beras (5.2 ton/ha), jagung (8.2 ton/ha), dan ubi kayu (6.75 ton/ha).

 

Penyebaran tanaman sagu di Indonesia terutama di daerah Papua, Papua Barat, Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan,Kalimantan Barat, Jambi, Sumatera Barat (Mentawai), dan Riau. Tumbuhan ini memiliki nama lokal yang berbeda-beda. Oleh orang sunda disebut Kirai; orang Jawa menyebutnya ambulung atau kersulu, dan di Ambon dan Seram disebut Lapia. Di Sulawesi Tenggara disebut Tuni, Roe,Molat.

 

“Jika kita mau menengok sejarah, sumber pangan lokal Indonesia begitu beragam, dimana salah satunya yaitu sagu. Dengan kecocokan ekologis, dan fungsi tumbuhan sagu yang begitu banyak, maka sagu potensial sebagai  sumber karbohidrat untuk kedaulatan  pangan Indonesia, sekaligus  pengganti terigu”, ujar Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Riki Frindos.

 

 

Selain sumber pangan manusia, sagu dapat dijadikan sebagai sumber pakan ternak, sumber bahan pangan industri, dan sumber energi. Sebagai sumber bahan pangan industri, pati sagu dapat menjadi bahan baku roti, mie, kue, dan sirup. Pati sagu juga digunakan dalam industri obat-obatan, kosmetik, kertas, etanol, dan tekstil. Sementara itu, bioethanol yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai bahan bakar pengganti premium. 

 

Intervensi KEHATI terhadap pengembangan budi daya sagu dilakukan di 2 daerah, yaitu di Kepulauan Sangihe dan Pulau Salawati Papua Barat.  Sejak tahun 2012, KEHATI melakukan program peningkatan nilai tambah sumber daya hayati seperti rempah, kelapa, dan Sagu di Kabupaten Sangihe bersama mitra APO KOMASA-SAMPIRI.

 

Selain Metroxylon Spp, di Sangihe dan Talaud Sulawesi Utara  terdapat satu jenis sagu  tumbuh baik di tanah tanpa tergenang air dan dikenal dengan nama sagu baruk Arenga microcarpha  dengan nama  sagu baruk dan telah dilepas sebagai varietas lokal dan unggulan Sangihe.

 

Di sangihe, Selain penanaman, beberapa kegiatan yang dilakukan, yaitu pendampingan kelompok perempuan dalam pengolahan sagu, dan penyediaan alat dan rumah produksi sagu. Salah satu kelompok Perempuan Karatung Lestari memproduksi olahan sagu berupa mie, dan makaroni dari mesin olah mie yang didapat dari Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Sangihe.

 

Untuk percepatan penganekaragaman pangan dalam pemenuhan kebutuhan dan peningkatan kualitas konsumsi pangan masyarakat, Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe menerbitkan Peraturan Bupati Kepulauan Sangihe Nomor 33 tahun 2017. tentang Gerakan Dua Hari Tanpa Makan Nasi “Two Day’s No Rice.” Program yang dilakukan setiap hari Selasa dan Jumat ini bertujuan untuk mengubah kebiasaan masyarakat dari mengonsumsi beras kepada umbi-umbian dan sagu. Bahkan, dimasa covid 19, sagu menjadi pengganti beras yang diberikan sebagai bantuan langsung kepada masyarakat. Selain itu, dengan meningkatnya permintaan terhadap pangan lokal, diharapkan pendapatan masyarakat pun akan meningkat.

 

 

Bekerja sama dengan yayasan Kitorang dan Bentara Papua, KEHATI mendukung pengembangan sagu di Pulau Salawati Papua Barat.  Salah satu kegiatan adalah pemetaan hutan/dusun sagu Waimici yang terletak di kampung Waimici, Distrik Salawati Tengah, Kabupaten Raja Ampat. Alhasil, telah teridentifikasi dengan luasan hutan sagu sekitar 52,3 ha, terdapat potensi produksi wilayah sekitar 352 ton pati sagu basah atau sekitar 176 ton tepung pati sagu kering.

 

Selain itu, KEHATI juga melakukan pendampingan kelompok perempuan melalui pengolahan dan pemasaran sagu. Berdasarkan kesepakatan, olahan tepung sagu didorong untuk menjadi kue bangket sagu dan sago chococips untuk dipasarkan. Sekarang, produk tepung sagu dapat diperoleh di beberapa supermarket besar di Kota Sorong. Hanya dalam kurun waktu 5 bulan sejak September 2019 – Februari 2020, sebanyak 423 kg sagu berhasil dipasarkan. Promosi juga terus didorong di media massa dan media sosial.

 

Pengembangan sagu sebagai sumber pangan yang dilakukan oleh pemerintah daerah sesuai dengan amanat perundangan yang ada.  Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan mengamanatkan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah berperan penting dalam mewujudkan penganekaragaman konsumsi pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat dan mendukung hidup sehat, aktif dan produktif, terutama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat dan membudayakan pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman, serta sesuai dengan potensi dan kearifan lokal. Pelaksanaan UU Nomor 18 Tahun 2012 tersebut ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi, pada bab III menjelaskan tentang penganekaragaman pangan dan perbaikan kualitas gizi masyarakat.

 

Jawaban Krisis Pangan Melalui Gastronomi Berkelanjutan

 

Di tahun 2008, FAO memperkirakan krisis pangan global akan terjadi, dimana persediaan pangan harus ditingkatkan sampai 50% di tahun 2030. Pada April 2020, FAO mengatakan bahwa krisis pangan global akan datang lebih cepat sebagai dampak pandemik covid 19. Hal ini pun menjadi perhatian Presiden Jokowi. Kebijakan pembentukan food estate pun diambil untuk menjawab permasalahan krisis pangan, terutama ketersediaan beras. Padahal, berbicara ketahanan pangan tidak harus terkait dengan swasembada beras.

 

Yayasan KEHATI melalui kertas kebijakan yang dikeluarkan di tahun 2019, merekomendasikan agar pemerintah dan para pihak harus mengembalikan konsep pangan nusantara yang didasarkan pada keberagaman sumber daya hayati dan budaya lokal.  Sastrapradja et.al (2010) dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Keanekaragaman Hayati Pertanian Menjamin Kedaulatan Pangan” pun menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia harus menyadari dan wajib mengetahui tentang kekayaan hayati yang dimiliki bangsanya.

 

Berbicara tentang sumber pangan dan budi daya lokal dapat terhubung dengan seni memasak gastronomi. Sebagai mahzab kuliner yang mengaitkan erat antara makanan dan akar budaya, gastonomi dapat memanfaatkan sumber pangan lokal yang melimpah di beberapa daerah di Indonesia, salah satunya sagu.

 

Di Kepulauan Meranti, Riau sendiri, terdapat lebih dari 300 jenis makanan dari olahan sagu (data kemendikbud). Salah satu masakan berbahan sagu disana yaitu nasi sagu. Nasi sagu rempah atau barempa diolah dari sari pati sagu dan dicampur dengan bahan-bahan lokal lain seperti cengkeh, kapulaga, kayu manis, jahe dan serai. Di Sumatra Selatan terdapat pempek, dan Sumatra Barat memiliki Lompong Sagu, kue khas minang yang mulai lenyap dari meja makan.

 

Di Pontianak Kalimantan Barat terdapat beberapa makanan dari olahan sagu seperti bagea, sagu gunting, mie sagu, dan bubur sagu. Di Kabupaten Sangihe terdapat 259 jenis makanan berbahan sagu dan berhasil tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tahun 2014 atas rekor penyelengaraan penyajian 259 makanan berbahan dasar sagu dengan variasi terbaik pada Festival Sangihe. Kalau ditelisik, masih banyak makanan nusantara yang terbuat dari olahan sagu. Apalagi jika bicara Maluku dan Papua.

 

Selain manfaatnya pada ketahanan pangan, sagu memiliki kandungan positif yang dapat mendukung pola makan sehat masyarakat Indonesia. “Sagu adalah sumber karbohidrat asli Indonesia yang bersifat prebiotik, bernilai indeks glikemik rendah dan bebas gluten,” jelas Head of Commercial ANJ Bueno Nasio Nelda Hermawan.

 

Prebiotik adalah unsur dalam makanan yang menunjang pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme baik di dalam saluran pencernaan.  Makanan dengan indeks glikemik rendah dapat membantu seseorang untuk mengurangi kadar kolesterol total dan LDL dalam darah, mengurangi risiko penyakit diabetes, dan jantung, serta membantu menjaga berat badan. Sedang makanan bebas gluten dapat mencegah seseorang dari menderita celiac atau intoleransi gluten yang dapat menyebabkan peradangan di usus kecil, diare akut, muntah-muntah, hingga keguguran.

 

Bueno Nasio sendiri dalam dialek lokal suku Iwaro berarti “Dapur Enak” yang lahir dari gagasan dan keyakinan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk untuk mengembangkan potensi sagu alami di Sorong Selatan, Papua Barat.  Bueno Nasio adalah restoran dan dapur uji coba yang berlokasi di Jakarta.

 

 

“Kami hadir untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas, terutama penggemar dan praktisi di bidang pangan, manfaat sagu sebagai kekayaan dan sumber pangam warisan Indonesia yang bebas gluten. Visi kami adalah menjadikan sagu sebagai bahan pangan yang layak diperhitungkan dalam keragaman kuliner di Indonesia,”ujar Nelda.

 

Webinar yang mengangkat sumber pangan sagu ini juga merupakan rangkaian dari “24 Hours of Reality: Countdown to the Future,” yaitu serangkaian event global yang dilaksanakan serentak di seluruh dunia pada tanggal 10-16 Oktober oleh The Climate Reality Project bekerja sama dengan TED. Kegiatan ini bertujuan menyebarkan pesan penuh dengan optimisme untuk menginspirasi masyarakat agar bangkit dan bertindak demi menghadapi krisis iklim. “Climate Reality Indonesia sebagai perkumpulan yang mengarus utamakan isu krisis iklim dan solusinya menyambut baik dan mendukung acara Sagu sebagai Solusi Krisis Global,” ujar Manajer Climate Reality Indonesia Amanda Katili Niode.

 

“Melalui gastronomi, kebanggan masyarakat Indonesia khususnya generasi muda dapat dibangun.  Makanan lokal yang kita santap hari ini tidak hanya berbicara materi bahan baku, namun sumber inspirasi leluhur, mulai dari pengetahuan, nilai dan kebajikan, serta teknologi lokal. Selain itu, pengembangan sagu yang ditanam secara lokal membantu meningkatkan ekonomi suatu daerah, mendukung para petani dan mengurangi gas rumah kaca serta sumber daya yang digunakan dalam mengangkut makanan, tutup Riki.

 

Untuk materi yang telah disajikan dalam webinar “Sagu sebagai Solusi Krisis Global” dapat diunduh melalui link berikut: